Ahlul Bait Menurut Syiah Dan Sunni

Banyak sekali masyarakat sunni yang tertarik untuk bergabung dengan komunitas syiah, terutama pada saat berlangsungnya acara ritual hari ‘iedul ghadir” dan acara maktam. Ketika mereka ditanya tentang maksud dan tujuan mereka dalam keikutsertaan tersebut, maka mereka menjawab: kami ingin mengetahui bagaimana cara mencintai ahlul bait.

Pertanyaan.

Siapakah yang dimaksud dengan ahlul bait menurut syiah dan sunni?

Pembahasan.

Istilah ahlul bait dalam pemahaman komunitas syiah tidak bisa lepas dari peristiwa alkisaa, yaitu sebilah kain yang digunakan rasulullah untuk selimut. Peristiwa Al Kisaa sangat dipopulerkan di tengah-tengah komunitas syiah. Dari sini pula lahir berbagai pendangan yang mengantarkan kepada pengkultusan Ali, Fatimah, Hasan dan Husen. Banyak riwayat tentang alkisaa, namun dari sekian banyak riwayat ada yang disepakati antara syiah dan sunni, dan ada pula yang hanya dijadikan pegangan sepihak karena tidak ditemukan kecuali hanya satu jalur periwayatan. Berikut dibawah ini studi kritis terhadap hadits yang dijadikan sebagai sampel namun diharapkan dapat mewakili hadits lainnya yang terkait dengan masalah al kisaa.

Hadits al Kisaa

  1. HADITS RIWAYAT MUSLIM DARI AISYAH

قَالَتْ عَائِشَةُ: خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةً وَعَلَيْهِ مِرْطٌ مُرَحَّلٌ، مِنْ شَعْرٍ أَسْوَدَ، فَجَاءَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ فَأَدْخَلَهُ، ثُمَّ جَاءَ الْحُسَيْنُ فَدَخَلَ مَعَهُ، ثُمَّ جَاءَتْ فَاطِمَةُ فَأَدْخَلَهَا، ثُمَّ جَاءَ عَلِيٌّ فَأَدْخَلَهُ، ثُمَّ قَالَ: ” {إِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا} [الأحزاب: 33] ” ( صحيح مسلم 4 / 1883)

Aisyah berkata ; “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar di suatu pagi, beliau memakai sebilah kain yang bergambar pelana onta yang terbuat dari bulu/rambut hewan yang berwarna hitam. Maka datanglah Al-Hasan bin ‘Ali lalu Nabipun memasukannya di kain tersebut, lalu datang Al-Husain maka iapun masuk bersama Al-Hasan, lalu datang Fathimah maka Nabi memasukannya ke kain tersebut, lalu datang Ali maka Nabipun juga memasukannya, kemudian Nabi bersabda:

إِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” (HR Muslim no 2424).

Hadits ini diakui validitasnya oleh ulama syiah dan ulama sunni. Terlepas dari sejauh mana sikap syiah kepada Aisyah, namun hadits ini telah mereka jadikan sebagai dalil kedudukan Ali, Fatimah, Hasan dan Husen sebagai sumber utama dalam ajaran mereka. Pengambilan istinbath dengan satu dalil sering dipengaruhi oleh latar belakang pemikiran dan latar belakang sejarah. Dalam hal ini penulis mengajak pembaca untuk sama-sama melakukan analisa terhadap hadits diatas lalu dibandingkan dengan hadits kedua yang akan datang.

Sungguh banyak pelajaran yang dapat diambil dari hadits riwayat Aisyah diatas, antara lain:

  • Aisyah meriwayatkan hadits ini memberi makna bahwa dia sebagai pembawa amanat dari Rasulullah untuk disampaikan kepada umat.
  • Aisyah menyampaikan hadits ini memberi gambaran bahwa dia sangat mencintai Nabi Muhammad karena kerasulannya. Apa pun yang dilakukan Rasulullah termasuk yang berkaitan dengan anak tiri yaitu puteri Rasul dari Khadijah, sangat diperhatikan dan dia sampaikan beritanya kepada orang lain.
  • Aisyah meyampaikan hal itu tidak untuk mengambil keuntungan duniawi, dan sekiranya beliau tidak menyampaikan pun tidak akan mengalami kerugian.
  • Aisyah dengan riwayat ini mengangkat kedudukan dan menyebarkan kemuliaan anak tirinya (Fatimah) dan suami serta anak-anaknya.
  • Aisyah tidak menyembunyikan sedikit pun dari apa yang dia temukan pada diri Rasulullah Saw. Bahkan dia senantiasa bahagia dengan kebahagiaan Rasulullah dan akrab dengan apapun yang didekati Rasulullah. Bahkan terlukiskan dengan penyampaian riwayat ini, Aisyah begitu bahagia menyaksikan kedekatan Rasulullah dengan Fatimah, Ali, Hasan dan Husen.
  • Dari redaksi Aisyah tidak ditemukan ada kalimat yang memberi kesan sandiwara. Dia menyampaikan apa yang sesungguhnya dia temukan.
  • Dalam kehidupan berumah tangga, Aisyah senantiasa bersama Rasulullah dalam berbagai kegiatan. Karena itu, ketidakikutsertaan Aisyah kedalam kisaa sama sekali tidak mengandung makna negative, karena bagi Aisyah kebersamaan dalam satu selimut bersama Rasulullah bukanlah sesuatu yang dirasa asing. Dia adalah isteri yang paling dicintai Rasulullah. seperti laiknya seorang isteri dengan suami, maka kehidupan seperti ini tidak dirasa perlu untuk disampaikan kepada yang lain. Ketika dia melihat Rasulullah berada dibawah satu kisa bersama puterinya, mantunya, cucunya maka diapun menyampaikannya kepada sahabat lain, lebih lebih peristiwa tersebut berkaitan dengan ayat Al-Quran. Dia merasa terpaggil untuk menyebarkan temuannya. Karena dia meyakini bahwa yang dilakukan Rasulullah tidak lepas dari ajaran Islam.
  • Tinjauan kekeluargaan, Aisyah meriwayatkan apa yang dia lihat dari praktek Rasulullah memasukan puterinya, kedua cucunya dan mantunya mengambarkan adanya keharmonisan keluarga Rasulullah, hingga Aisyah menyampaikan betapa indahnya rumah tangga Rasulullah dan keakraban beliau bukan hanya dengan isteri-isterinya semata akan tetapi juga dengan puteri, cucu, dan mantunya.
  • Rasulullah membacakan ayat dari surat alAhzab memberi makna bahwa ahlul bait tidak hanya terbatas pada isteri-isteri dan anak-anak beliau akan tetapi meliputi cucu dan mantunya.
  • Potongan ayat yang dibaca Rasulullah saat berkumpul dengan puteri, cucu dan mantunya diawali dengan panggilan yang ditujukan kepada isteri-isteri beliau. Artinya bahwa asal-usul ahlul bait adalah semua isteri beliau, lalu puterinya digabungkan kepada mereka, demikian pula cucunya dan mantunya.

Sangat penting untuk diperhatikan kronolgis ayat adalah sebagai berikut, Allah berfirman:

Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dengan berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.[1]

Dari beberapa ayat diatas dapat diketahui bahwa:

  • Penghuni bait rasul (ahlulbait) adalah isteri-isterinya yang sehari-hari tinggal dalam rumah masing-masing bersama Rasulullah Saw. Sekiranya tidak terjadi peristiwa al-kisaa maka ahlulbait hanya terbatas pada isteri-isteri Rasul dan puteri-puterinya semasa masih bergabung dirumah atau belum berrumah tangga, karena kalau sudah bersuami maka mereka milik suaminya sebagaimana yang dikenal dalam umumnya kehidupan kekeluargaan. Sementara Ali, dan kedua puteranya yaitu Hasan dan Husen tidak termasuk ahlul bait, sebab mereka merupakan keluarga tersendiri terutama Ali yang bukan dari darah Rasul meski lahir dari nasab yang sama.
  • Jika diperhatikan beberapa ayat diatas lebih cermat lagi maka akan semakin jelaslah bahwa peristiwa yang melibatkan empat orang yang disebutkan dalam hadits adalah proses penggabungan mereka kedalam golongan yang disebut ahlul bait, bukan pembatasan personal ahlulbait hanya kepada empat orang. Sebab ayat sebelum dan sesudahnya menerangkan keadaan semua isteri Rasulullah saw. Karena itu, khithab awal ditujukan kepada isteri-isteri beliau dengan panggilan يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ dan dilanjutkan dengan وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ.
  • Tiada keraguan bagi siapa yang mengetahui bahasa Arab bahwa kata “nisaa” mengandung makna beberapa orang wanita. Dan kata لَسْتُنّ ditujukan khusus kepada kaum wanita yang berjumlah lebih dari dua orang. Dalam hal ini maka Ali dan kedua puteranya tidak termasuk. Karena itu pada saat Rasulullah memasukan Ali sekeluarga ke bawah kisaa, beliau menggunakan kata َكُمْ dengan membacakan ayat إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا yang khitab nya meliputi jenis laki-laki dan perempuan. Dengan peristiwa ini maka terjadilah penggabungan keluarga Ali yang terdiri dari empat orang anggota kedalam keluarga Rasul yang terdiri dari beliau bersama semua isterinya[2].
  • Tidak asing bagi masyarakat Arab bahwa kata   أنتن hanya digunakan untuk kaum wanita, sementara kata أنتم  digunakan untuk kaum pria dan terkadang digunakan untuk kaum pria bersama wanita.
  • Pemahaman yang mengkhususkan makna ahlul bait pada lima orang terkesan ada maksud yang dipaksakan, sebab akan membawa kepada terpisahnya sebagian ayat dari bagian lainnya. Padahal setelah ada kalimat yang mengandung atau melibatkan Ali, Hasan dan Husen, ayat kembali menetapkan siapakah yang disebut penghuni rumah. Yaitu dalam kalimat وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ َ (Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu) . apakah ada yang tidak setuju sebutan “penghuni rumah” jika diartiakan dengan “ahlul bait”?.

Jadi, hadits riwayat Aisyah sangat jelas merupakan tafsir terhadap ayat Al-Quran. Yaitu penjelasan adanya penggabungan ahlulbait yang terdiri dari semua isteri rasul yang hidup setiap hari bersama beliau dengan Fatimah, Hasan, Husen dan Ali yang sehari-harinya tidak bersama beliau, karena mereka sudah merupakan satu keluarga mandiri.

Hadits alkisaa yang diterima dari Aisyah berbeda dengan hadits yang konon diriwayatkan dari Jabir. Benarkah hadits ini dari jabir? Hadits ini tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadits yang menjadi rujukan ulama sunni, namun hadits ini menjadi rujukan bagi ulama syiah.

Kembali kepada dasar pemikiran awal, semua cerita apapun panggilannya, apakah riwayat, kisah, sejarah atau pengalaman seseorang, jika cerita tersebut dapat mempertemukan umat beriman kepada Al-Quran dan meningkatkan ukhuwah Islamiyah maka dapat dijadikan sebagai pegangan bersama untuk menafsirkan Al-Quran. Tapi manakala cerita tersebut melahirkan perpecahan meski disebut hadits shahih menurut penggunanya hendaklah kita tinggalkan, sebab hadits shahih pasti membawa kepada ukhuwah islamiyah secara internasional.

Semua cerita yang tidak berlawanan dengan Al-Quran dapat kita jadikan sebagai bahan pelajaran; semua cerita yang sesuai dengan Al-Quran dapat kita jadikan sebagai tafsir, dan semua cerita yang terbukti berlawanan dengan Al-Quran dapat dikatakan sebagai dongeng yang disusun oleh pihak tertentu untuk kepentingan sesaat.

  1. HADITS DARI JABIR

Sehubungan dengan peristiwa kisaa pun ada riwayat lain yang mengangkat derajat satu kelompok dan menjatuhkan kelompok lain meski kelompok yang dijatuhkan ini berjuang mengamalkan aturan Al-Quran. Bahkan telah berjasa besar dalam memelihara kelestarian Al-Quran.

Riwayat tersebut akan penulis kemukakan disertai dengan sedikit analisa atau studi kritis dengan memerhatikan berbagai hal, riwayat tersebut adalah sebagai berikut:

روي عن جابر بن عبد الله الأنصاري في حديث عن فاطمة الزهراء(ع) أنها قالت :

دَخَلَ عَلَيَّ أبي رَسُولُ اللهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِه وسَلَّم) فِي بَعضِ الأيَّامِ فَقَالَ: السَّلامُ عَلَيكِ يا فاطِمَةُ، فَقُلتُ عَلَيكَ السَّلامُ، قالَ: إنّي أَجِدُ في بَدَني ضُعفاً، فَقُلتُ لَهُ: أُعِيذُكَ باللهِ يا أَبَتاهُ مِنَ الضُّعفِ فَقَالَ: يا فاطِمَةُ إِيتيني بِالكِساءِ اليَمانِيِّ فَغَطّينِي بهِ فَأَتَيتُهُ بِالكِساءِ اليَمانِيِّ فَغَطّيتُهُ بِهِ وَصِرتُ أَنظُرُ إِلَيهِ وَإِذا وَجهُهُ يَتَلألأ كَأَنَّهُ البَدرُ فِي لَيلَةِ تمامِهِ وَكَمالِهِ، فَما كَانَت إِلاّ ساعَةً وإذا بوَلَدِيَ الحَسَنِ قَد أَقبَلَ وَقالَ: السَّلامُ عَلَيكِ يا أُمّاهُ، فَقُلتُ: وَعَلَيكَ السَّلامُ يا قُرَّةَ عَيِني وَثَمَرَةَ فُؤادِي، فَقالَ: يا أُمّاهُ إِنّي أَشَمُّ عِندَكِ رائِحَةً طَيِّبَةً كَأَنَّها رائِحَةُ جَدِي رَسُولِ اللهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِه وسَلَّم) فَقُلتُ: نَعَم إِنَّ جَدَّكَ تَحتَ الكِساء، فَأَقبَلَ الحَسَنُ نَحوَ الكِساء وَقالَ: السَّلامُ عَلَيكَ يا جَدَّاهُ يا رَسُولَ اللهِ أَتَأذَنُ لي أَن أَدخُلَ مَعَكَ تَحتَ الكِساءِ؟ فَقالَ: وَعَلَيكَ السَّلامُ يا وَلَدِي وَيا صاحِبَ حَوضِي قَد أَذِنتُ لَكَ، فَدَخَلَ مَعَهُ تَحتَ الكِساءِ.

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah al Anshari dalam satu hadits dari Fatimah al Zahra, dia berkata:

Suatu hari ayahku Rasulullah masuk menemui aku dan mengucapkan : السَّلامُ عَلَيكِ يا فاطِمَةُ maka aku menjawab dengan mengatakan: عَلَيكَ السَّلامُ . beliau bersabda: badanku terasa letih[3], maka aku berkata: aku berlindung pada Allah wahai ayahku untukmu dari rasa letih. Beliau bersabda: wahai Fatimah ambilkan untukku kisaa yamani dan selimutkanlah padaku, maka aku mengambilnya lalu aku selimuti beliau dengan kisaa tersebut, ternyata wajahnya kulihat bercahaya laksana bulan purnama dengan kesempurnaannya. Tidak lama datanglah anakku Hasan dan berkata: السَّلامُ عَلَيكِ يا أُمّاهُ، maka aku menjawab dengan mengatakan: وَعَلَيكَ السَّلامُ يا قُرَّةَ عَيِني وَثَمَرَةَ فُؤادِي[4] dia berkata: wahai ummah aku mencium bau harum yang sedap tampaknya harumnya kakekku Rasulullah Saw, maka aku berkata: betul, kakekmu dibawah kisaa[5]. Maka Hasan pun menuju kisaa dan berkata: السَّلامُ عَلَيكَ يا جَدَّاهُ يا رَسُولَ اللهِ apakah engkau izinkan aku untuk masuk kebawah kisaa[6]? وَعَلَيكَ السَّلامُ   Wahai anakku[7] pemilik telaga, sungguh aku telah mengizinkan untukmu, maka dia pun masuk kebawah kisa bersama beliau.

فَما كانَت إِلاّ سَاعَةً وَإِذا بِوَلَدِيَ الحُسَينِ (عَلَيْهِ السَّلام) قَدْ أَقبَلَ وَقال: السَّلامُ عَلَيكِ يا أُمّاهُ، فَقُلتُ: وَعَلَيكَ السَّلامُ يا قُرَّةَ عَيِني وَثَمَرَةَ فُؤادِي، فَقالَ لِي: يا أُمّاهُ إِنّي أَشَمُّ عِندَكِ رائِحَةً طَيِّبَةً كَأَنَّها رائِحَةُ جَدِي رَسُولِ اللهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِه وسَلَّم) فَقُلتُ: نَعَم إِنَّ جَدَّكَ وَأَخاكَ تَحتَ الكِساءِ، فَدَنَا الحُسَينُ (عَلَيْهِ السَّلام) نحوَ الكِساءِ وَقالَ: السَّلامُ عَلَيكَ يا جَدَّاهُ السَّلامُ عَلَيكَ يا مَنِ اختارَهُ اللهُ أَتَأذَنُ لي أَن أَكونَ مَعَكُما تَحتَ الكِساءِ؟ فَقالَ: وَعَلَيكَ السَّلامُ يا وَلَدِي [8]وَيا شافِع أُمَّتِي [9]قَد أَذِنتُ لَكَ، فَدَخَلَ مَعَهُما تَحتَ الكِساء.

Tidak lama kemudian datanglah anakku Husen, dan dia berkata: السَّلامُ عَلَيكِ يا أُمّاهُ، ، maka aku menjawab: وَعَلَيكَ السَّلامُ يا قُرَّةَ عَيِني وَثَمَرَةَ فُؤادِي wahai ummah aku mencium bau harum yang sedap tampaknya harumnya kakeku Rasulullah Saw, maka aku berkata: betul sesungguhnya kakekmu dan saudaramu dibawah kisa. Maka Husen pun mendekati kisa dan berkata: السَّلامُ عَلَيكَ يا جَدَّاهُ السَّلامُ عَلَيكَ يا مَنِ اختارَهُ اللهُ apakah engkau izinkan aku untuk masuk kebawah kisa agar aku dapat bersama kalian berdua[10]?   Maka beliau menjawab: وَعَلَيكَ السَّلامُ Wahai anakku yang memberi syafaat pada umatku, sungguh aku telah mengizinkan untukmu, maka dia pun masuk kebawah kisa bersama beliau dan saudaranya.

فَأَقبَلَ عِندَ ذلِكَ أَبو الحَسَنِ عَلِيُّ بنُ أَبي طالِبٍ وَقال: السَّلامُ عَلَيكِ يا بِنتَ رَسُولِ اللهِ، فَقُلتُ: وَعَلَيكَ السَّلامُ يا أَبَا الحَسَن وَيا أَمِيرَ المُؤمِنينَ. فَقالَ: يا فاطِمَةُ إِنّي أَشَمُّ عِندَكِ رائِحَةً طَيِّبَةً كَأَنَّها رائِحَةُ أَخي وَابِنِ عَمّيرَسُولِ اللهِ، فَقُلتُ: نَعَم ها هُوَ مَعَ وَلَدَيكَ تَحتَ الكِساءِ، فَأقبَلَ عَلِيٌّ نَحوَ الكِساءِ وَقالَ: السَّلامُ عَلَيكَ يا رَسُولَ اللهِ أَتَأذَنُ لي أَن أَكُونَ مَعَكُم تَحتَ الكِساءِ؟ قالَ لَهُ وَعَلَيكَ السَّلامُ يا أَخِي وَيا وَصِيّيِ وَخَلِيفَتِي وَصاحِبَ لِوائِي قَد أَذِنتُ لَكَ، فَدَخَلَ عَلِيٌّ تَحتَ الكِساءِ.

Saat itu datanglah Abul Hasan Ali bin Abu Talib dan berkata: السَّلامُ عَلَيكِ wahai puteri Rasulullah, maka aku menjawab وَعَلَيكَ السَّلامُ يا أَبَا الحَسَن وَيا أَمِيرَ المُؤمِنينَ dia berkata: wahai Fatimah aku mencium bau harum yang sedap tampaknya harumnya saudaraku yaitu putera pamanku[11] Rasulullah Saw, aku berkata: betul, ini dia bersama kedua anakmu[12] dibawah kisa. Maka Ali pun menuju kisa dan berkata: السَّلامُ عَلَيكَ يا رَسُولَ اللهِ apakah engkau izinkan aku untuk bersamamu semua di bawah kisaa[13]? Beliau bersabda: وَعَلَيكَ السَّلامُ hai saudaraku, penerima wasiatku, pemilik benderakau, sungguh aku telah mengizinkan untukmu. Maka Ali masuk ke bawah kisa.

ثُمَّ أَتَيتُ نَحوَ الكِساءِ وَقُلتُ: السَّلامُ عَلَيكَ يا أبَتاهُ يا رَسُولَ الله أَتأذَنُ لي أَن أَكونَ مَعَكُم تَحتَ الكِساءِ؟ قالَ: وَعَليكِ السَّلامُ يا بِنتِي وَيا بَضعَتِي قَد أَذِنتُ لَكِ، فَدَخَلتُ تَحتَ الكِساءِ،

Lalu aku menuju kisa dan aku berkata: السَّلامُ عَلَيكَ wahai ayahku, apakah engkau izinkan aku untuk bersamamu dibawah kisa[14]? Belau bersabda: وَعَليكِ السَّلامُ wahai anakku, wahai bagian dari diriku, sungguh telah aku izinkan untukmu. Maka aku pun masuk kebawah kisa.

فَلَـمَّا اكتَمَلنا جَمِيعاً تَحتَ الكِساءِ أَخَذَ أَبي رَسُولُ اللهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِه وسَلَّم) بِطَرَفَيِ الكِساءِ وَأَومَأَ بِيَدِهِ اليُمنى إِلىَ السَّماءِ وقالَ: اللّهُمَّ إِنَّ هؤُلاءِ أَهلُ بَيتِي وخَاصَّتِي وَحَامَّت، لَحمُهُم لَحمِي وَدَمُهُم دَمِي، يُؤلِمُني ما يُؤلِمُهُم ويَحزُنُني ما يُحزِنُهُم، أَنَا حَربٌ لِـمَن حارَبَهُم وَسِلمٌ لِـمَن سالَـمَهُم وَعَدوٌّ لِـمَن عاداهُم وَمُحِبٌّ لِـمَن أَحَبَّهُم، إنًّهُم مِنّي وَأَنا مِنهُم فَاجعَل صَلَواتِكَ وَبَرَكاتِكَ وَرَحمَتكَ وغُفرانَكَ وَرِضوانَكَ عَلَيَّ وَعَلَيهِم وَأَذهِب عَنهُمْ الرِّجسَ وَطَهِّرهُم تَطهِيراً. فَقالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: يا مَلائِكَتي وَيا سُكَّانَ سَماواتي إِنّي ما خَلَقتُ سَماءً مَبنَّيةً وَلا أرضاً مَدحيَّةً وَلا قَمَراً مُنيراً وَلا شَمساً مُضيِئةً وَلا فَلَكاً يَدُورُ وَلا بَحراً يَجري وَلا فُلكاً يَسري إِلاّ في مَحَبَّةِ هؤُلاءِ الخَمسَةِ الَّذينَ هُم تَحتَ الكِساءِ، فَقالَ الأَمِينُ جِبرائِيلُ: يا رَبِّ وَمَنْ تَحتَ الكِساءِ؟ فَقالَ عَزَّ وَجَلَّ: هُم أَهلُ بَيتِ النُّبُوَّةِ وَمَعدِنُ الرِّسالَةِ هُم فاطِمَةُ وَأَبُوها، وَبَعلُها وَبَنوها، فَقالَ جِبرائِيلُ: يا رَبِّ أَتَأذَنُ لي أَن أَهبِطَ إلىَ الأَرضِ لأِكُونَ مَعَهُم سادِساً؟ فَقالَ اللهُ: نَعَم قَد أَذِنتُ لَكَ. فَهَبَطَ الأَمِينُ جِبرائِيلُ وَقالَ: السَّلامُ عَلَيكَ يا رَسُولَ اللهِ، العَلِيُّ الأَعلَى يُقرِئُكَ السَّلام، وَيَخُصُّكَ بِالتًّحِيَّةِ وَالإِكرَامِ وَيَقُولُ لَكَ: وَعِزَّتي وَجَلالي إِنّي ما خَلَقتُ سَماءً مَبنيَّةً ولا أَرضاً مَدحِيَّةً وَلا قَمَراً مُنِيراً وَلا شَمساً مُضِيئَةً ولا فَلَكاً يَدُورُ ولا بَحراً يَجري وَلا فُلكاً يَسري إِلاّ لأجلِكُم وَمَحَبَّتِكُم، و َقَد أَذِنَ لي أَن أَدخُلَ مَعَكُم، فَهَل تَأذَنُ لي يا رَسُول اللهِ؟ فَقالَ رَسُولُ الله (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِه وسَلَّم): وَعَلَيكَ السَّلامُ يا أَمِينَ وَحيِ اللهِ، إِنَّهُ نَعَم قَد أَذِنتُ لَكَ، فَدَخَلَ جِبرائِيلُ مَعَنا تَحتَ الكِساءِ، فَقالَ لأِبي: إِنَّ اللهَ قَد أَوحى إِلَيكُم يَقولُ إنَّما يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطهِّرَكُمْ تَطهِيرا.

ketika kami semua lengkap sudah berada di bawah kisaa, Rasulullah Saw menarik dua ujung kisaa dan menunjuk ke langit dengan tangan kanannya seraya bersabda: ya Allah inilah mereka ahli baitku yang terdekat padaku, daging mereka adalah dagingku, darah mereka adalah darahku juga. Aku merasakan sakit dengan apa yang menyakiti mereka dan merasakan sedih dengan apa yang menyedihkan mereka. Aku memerangi orang yang merangi mereka dan damai dengan perdamaian mereka. Aku memusuhi orang yang memusuhi mereka dan mencintai orang yang mencintai mereka. Mereka dari diriku dan aku dari diri mereka. Maka curahkanlah shalawat, barakah, rahmat, ampunan, dan ridhoMu kepadaku dan mereka; dan bersihkanlah mereka dari kotoran dengan sempurna. Maka Allah berfirman: wahai semua malaikatku, wahai penghuni semua langit sungguh tidak Kuciptakan langit begitu kokoh, bumi terhampar, bulan bercahaya, matahari bersinar, falak beredar, laut bergerak, bahtera berlayar kecuali dalam kecintaan kapada mereka berlima yang berada dibawah kisaa. Maka jibril berkata: ya rabbi, siapakah yang berada di bawah kisaa itu? Mereka adalah keluarga kenabian, pemilihara risalah yaitu: Fatimah[15], ayahnya, suaminya, banuha (anak-anaknya yang berjumlah lebih dari dua orang) [16]. Maka Jibril berkata: ya rabbi, apakah Engkau izinkan aku untuk turun ke bumi agar berada bersama mereka menjadi keenam? Allah berifirman: ya, telah Aku izinkan untukmu. Maka alAmin Jibril turun dan berkata: السَّلامُ عَلَيكَ يا رَسُولَ اللهِ Zat Yang Mahatinggi menyampaikan salam untukmu, dan mengkhususkan penghargaan dan penghormatan serta berfirman: demi keperkasaan dan keagunganKu, sungguh tidak Kuciptakan langit begitu kokoh, bumi terhampar, bulan bercahaya, matahari bersinar, falak beredar, laut bergerak, bahtera berlayar kecuali untuk kamu dan karena mencintaimu. Dan Dia telah mengizinkanku untuk bergabung bersamamu, apakah engkau mengizinkanku ya Rasulallah[17]? Rasulullah bersabda: وَعَلَيكَ السَّلامُ wahai pembawa wahyu Allah, ya tentu aku izinkan untukmu. Maka Jibril masuk bergabung bersama kami di bawah kisaa. Dia berkata kepada ayahku: sesungguhnya Allah telah menurunkan wahyu Dia berfirman: Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

فَقالَ: عَلِيٌّ (عَلَيْهِ السَّلام) لأَبِي: يا رَسُولَ اللهِ أَخبِرنِي ما لِجُلُوسِنا هَذا تَحتَ الكِساءِ مِنَ الفَضلِ عِندَ اللهِ؟ فَقالَ النَّبيُّ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِه وسَلَّم): وَالَّذي بَعَثَنِي بِالحَقِّ نَبِيّاً وَاصطَفانِي بِالرِّسالَةِ نَجِيّاً، ما ذُكِرَ خَبَرُنا هذا فِي مَحفِلٍ مِن مَحافِل أَهلِ الأَرَضِ وَفِيهِ جَمعٌ مِن شِيعَتِنا وَمُحِبِيِّنا إِلاّ وَنَزَلَت عَلَيهِمُ الرَّحمَةُ، وَحَفَّت بِهِمُ الـمَلائِكَةُ وَاستَغفَرَت لَهُم إِلى أَن يَتَفَرَّقُوا. فَقالَ عَلِيٌّ (عَلَيْهِ السَّلام): إذَاً وَاللهِ فُزنا وَفازَ شِيعَتنُا وَرَبِّ الكَعبَةِ. فَقالَ أَبي رَسُولُ اللهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِه وسَلَّم): يا عَلِيُّ وَالَّذي بَعَثَني بِالحَقِّ نَبِيّاً وَاصطَفاني بِالرِّسالَةِ نَجِيّاً ما ذُكِرَ خَبَرُنا هذا في مَحفِلٍ مِن مَحافِلِ أَهلِ الأَرضِ وَفِيهِ جَمعٌ مِن شِيعَتِنا وَمُحِبّيِنا وَفِيهِم مَهمُومٌ إِلا ّوَفَرَّجَ اللهُ هَمَّهُ وَلا مَغمُومٌ إِلاّ وَكَشَفَ اللهُ غَمَّهُ وَلا طالِبُ حاجَةٍ إِلاّ وَقَضى اللهُ حاجَتَهُ، فَقالَ عَلِيٌّ (عَلَيْهِ السَّلام): إذَاً وَاللهِ فُزنا وَسُعِدنا، وَكَذلِكَ شِيعَتُنا فَازوا وَسُعِدوا في الدُّنيا وَالآخِرَةِ وَرَبِّ الكَعبَةِ

Maka Ali berkata kapada ayahku: ya Rasulallah, jelaskanlah kepadaku apakah karunia Allah bagi kita dengan duduk di bawah kisaa ini? Nabi bersabda: demi Dzat yang mengutus aku sebagai nabi, memilih aku sebagai pembawa keselamatan. Tidak terjadi perkumpulan di muka bumi dimana syiah kita berada dan kekasih kita hadir kecuali pasti turun rahmat atas mereka, bergabung malaikat bersama mereka, dan beristighfar untuk mereka hingga perkumpulan mereka selesai. Ali berkata: jadi, demi penguasa Ka’bah kita ini menang, demikian pula syiah kita sukses. Maka ayahku Rasulullah Saw bersabda: demi Dzat yang mengutus aku sebagai nabi, memilih aku sebagai pembawa keselamatan. Tidak terjadi perkumpulan di muka bumi dimana syiah kita berada dan kekasih kita hadir kecuali pasti turun rahmat atas mereka. Diantara mereka ada yang sedang kebingungan maka Allah akan memberi solusi, diantara mereka ada yang sedang gelisah maka Allah akan megatasinya, dan diantara mereka ada yang sedang menghadapi satu keperluan maka Allah akan memenuhinya. Ali berkata: jadi, kita semua menang dan bahagia, demi Allah, dan syiah kita semua menang dan bahagia di dunia dan akhirat[18].

Studi analisis hadits Kisaa:

Beberapa catatan tentang riwayat diatas yang diharapkan menjadi bahan studi.

Apakah riwayat tersebut boleh dijadikan pegangan untuk memosisikan dan membatasi makna ahlulbait atau cukup dijadikan sebagai bahan bacaan selingan yang tidak mengandung pelajaran selain dongeng dari seorang yang sedang mengkhayal?.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita perhatikan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Nabi Muhammad hamba pilihan Allah dikesankan menyampaikan keluhan kepada puterinya. Mengapa beliau mengeluh kepadanya? siapa yang lebih mulia, apakah beliau ataukah puterinya? Pada awal cerita ini terlihat adanya pertemuan Rasulullah dengan Fatimah, dan Rasulullah menyampaikan salam kepada puterinya. Namun di akhir akan ditemukan bahwa Fatimah orang yang datang paling akhir menemui Rasul. Hal ini memberi makna adanya redaksi yang menimbulkan pertanyaan atau ada redaksi yang berlawanan. Jika peristiwanya yang digambarkan itu benar-benar terjadi maka tidak mungkin ada cerita penghujungnya berlawanan dengan permulaan
  2. Pada saat Hasan tiba, panggilan bunda Fatimah kepada ananda dengan sebutan yang tidak biasa digunakan orang-orang shaleh sebelumnya[19] juga terkesan ada penggunaan kalimat yang didramatisir sehingga ceritanya lebih indah dan menarik.
  3. Hasan bertanya tentang apa yang tercium berupa parfume yang biasa dipakai Rasul. Sekiranya tidak mendapat berita dari bunda Fatimah maka Hasan tidak mengetahui dimana Rasulullah. Padahal Fatimah pada saat itu melihat wajah Rasul bercahaya. Artinya Rasulullah terlihat wajahnya, sementara Hasan tidak mengetahui adanya Rasul. Ini satu kejanggalan yang menimbukan pertanyaan: betulkah ini hadits?
  4. Bahasa yang digunakan Hasan saat berkata kepada Rasulullah tampak sekali bahasa karangan, sebab akan terlihat pada redaksi berikutnya kalimat ini terulang berkali-kali dengan pengguna yang berbeda. Sekiranya benar-benar ungkapan masing-masing dari pikiran dan perasaan masing-masing tentunya mereka berkata sesuai apa yang mereka inginkan dan mereka fikirkan. Karena pikiran mereka tidak sama maka redaksinya pun akan berbeda pula. Karena pikiran beberapa orang tidak sama maka redaksinya pun saat mereka berbicara akan ditemukan berbeda baik perbedaan itu jauh atau pun tidak.
  5. Rasulullah memanggil Hasan dengan waladi (anaku) padahal Hasan memanggil beliau dengan jaddah “kakekku”, apakah pengarang artikel ini kurang control? Sekiranya peristiwa itu benar-benar terjadi, mengapa kelimat dari Rasulullah tidak menggunakan panggilan “cucuku”? dan dalam Al-Quran kata yang mengandung makna cucu bagi para nabi biasa digunakan yaitu الأسباط jadi panggilan yang dekat sebagai jawaban adalah bukan waladi akan tetapi sibthi
  6. Terulang kembali pada Husen, mengapa Rasulullah tidak memanggil Hasan dan Husen dengan cucu, padahal mereka sepakat memanggil beliau dengan kakek?
  7. Husen dijuluki sebagai “pemberi syafaat bagi umat”. Siapakah yang dimaksud dengan “umat” yang akan mendapat syafaat dari Husen? Bukankah umat Nabi meliputi semua orang yang beriman kepada kenabian beliau temasuk syiah dan sunni? Dan mengapa hanya Husen mendapat tugas pemberi syafaat, sementara Hasan abangnya tidak menempati posisi itu? Apakah terjadi timbang pilih dari Rasul?. Penempatan Husen diatas Hasan telah menimbulkan banyak pertanyaan di kalangan ulama sunni, antara lain: apakah karena Husen beristeri dengan seorang wanita dari Persia, sehingga orang Persia selalu menyanjung Husen di atas Hasan?
  8. Permohonan izin yang disampaikan Husen menggunakan redaksi yang sama dengan permohonan izin yang disampaikan Hasan. Apakah mereka telah membuat kesepakatan sebelumnya, padahal mereka belum tahu ada kakenya di bawah kisaa, atau memang ini adalah drama karya seseorang yang tidak ada hubungan dengan mereka? Jika telah ada kesepakatan sebelumnya, berarti mereka telah mengetahui dimana Rasul berada, lalu untuk apa mereka bertanya kepada bunda Fatimah?
  9. Fatimah memanggil Ali dengan kata “amirulmukminin”. Memang sejak kapan istilah “amirulmukminin” digunakan dan difungsikan, bukankah pada saat itu urusan mukminin masih dibawah tangan Rasulullah Saw?
  10. Sekiranya pada saat itu Ali sudah dipanggil dengan “amirulmukminin”, berarti dia memiliki jabatan tanpa pekerjaan. Betulkah demikian? Mana tanggung jawabnya? Padahal Ali adalah orang yang penuh tanggung jawab dalam segala hal.
  11. Pada saat Ali tiba dan mencium parfume yang biasa digunakan Rasulullah Saw, dia bertanya dengan menggunakan redaksi yang diungkapkan Hasan dan Husen. Pada saat menjawab pertanyaan Ali, Fatimah mengatakan bahwa Rasul bersama “kedua anakmu”, mengapa tidak mengatakan “kedua anak kita” padahal Hasan dan Husen adalah dua putera Ali dari Fatimah. Sungguh kalimat ini sempat membuat penulis tercengang. Mengapa tercengang? karena Ali punya isteri lebih dari satu[20]. Namun beliau menikah dengan wanita lain setelah Fatimah wafat. Tapi tiada seorang pun dari sejarawan yang mengatakan bahwa Hasan dan Husen kecuali dua putera Ali dari Fatimah.
  12. Permohonan izin untuk bersama dalam kisaa terulang dengan redaksi yang sama. Apakah Hasan, Husen, dan Ali satu fikiran atau berjanji untuk menggunakan kata-kata yang sama, atau terjadi secara kebetulan? Tentu istilah “kebetulan” tidak pernah terjadi dalam urusan agama. Jika hal tersebut terjadi karena Allah menghendaki demikian, adakah makna dibalik urutan dari Hasan, terus Husen dilanjutkan dengan Ali dan berakhir dengan kedatangan Fatimah?
  13. Fatimah telah berkomunikasi dengan Rasulullah sejak awal. Hasan, Husen, dan Ali mengetahui adanya Rasulullah dari Fatimah. Mengapa Fatimah mohon izin kepada Rasulullah untuk bersama dengan mereka paling akhir? Bukankah Fatimah melihat wajah Rasulullah bercahaya sebelum kedua putera dan suaminya melihat? Mungkin pembuat cerita ini lupa kalau Fatimah sudah lebih dulu bersama Rasulullah Saw, meski belum masuk kebawah kisaa. Bahkan lebih dari itu, Rasulullah masuk kebawah kisaa atas anjurn Fatimah.
  14. Dan ada yang menarik lagi untuk diperhatikan yaitu jawaban Rasulullah kepada setiap pribadi dari empat orang keluarga. Beliau menggunakan kalimat yang sama pula. Padahal kedudukan mereka berbeda. Apakah ini juga merupakan bukti redaksinya disusun belakangan?
  15. Ketika Jibril bertanya kepada Allah tentang siapa yang berada di bawah kisaa, Allah menjawab: Fatimah, ayahnya, suaminya dan banuha (anak-anaknya). Nama Fatimah menempati posisi pertama baru ayahnya. Dalam bahasa Arab mendahulukan satu kata dan mengakhirkan kata lainnya sangat memiliki makna. Terlebih lagi jika ditemukan dalam firman Allah. Semua kata dalam Al-Quran adalah pilihan dalam formulasinya, posisinya, susunannya dan sebagainya untuk memberi makna[21].
  16. Tertulis kata wa banuha وَبَنوها yang memberi arti bahwa Fatimah punya anak laki-laki lebih dari dua orang anak. Mengapa tidak wabnaaha وابناهاartinya dan kedua ankanya? Apakah ini juga merupakan bukti kekurangcermatan dalam menyusun artikel? Dengan demikian, maka dugaan bahwa artikel ini murni karya sejarawan, sulit dibantah.
  17. Ketika Jibril telah mendapat izin dari Allah, tentu tidak perlu memohon izin kepada siapa pun, karena semua makhluk adalah ciptaanNya. Mengapa dia memohon izin kepada Rasulullah? Apakah memohon izin kepada Rasulullah berfungsi? Lagi-lagi, redaksi pormohonannya sama dengan redaksi yang digunakan Hasan, Husen, Ali dan Fatimah. Ini, sungguh merupakan dukungan akan dugaan bahwa redaksi ini termasuk karya yang disusun berdasarkan kepada sejarah buatan manusia biasa.
  18. Dengan artikel ini maka dapat dipahami berdasarkan hadis kisaa bahwa Rasululah diutus sebagai pembawa rahmat bagi ahlulbait dan syiahnya saja. Apakah hadis kisaa ini tidak berlawanan dengan firman Allah yang menyatakan bahwa Muhammad diutus sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam[22]. Yang demikian itu karena tiada lagi nabi setelah beliau [23]

Dari sampel dua hadits tentang kisaa diatas dapat disimpulkan bahwa peristiwa kisaa tidak diragukan. Namun peristiwa tersebut diriwayatkan dengan dua versi, pertama riwayat yang dapat dijadikan sebagai tafsir Al-Quran yaitu riwayat dari Aisyah, dan kedua riwayat yang terbukti berlawanan dengan isi Al-Quran yaitu riwayat yang dinisbatkan kepada Jabir.

Para pembaca dipersilakan untuk memberi tambahan penilaian, semoga dapat melengkapi atau memberi koreksi.

Setelah diuraikan hadits kisaa yang disepakati syiah dan sunni serta hadits kisaa yang hanya terdapat pada rujukan syiah maka dirasa perlu untuk mengetahui siapa saja keluarga besar Rasulullah yang mesti dicintai umatnya.

Dalam kehidupan masyarakat kita dikenal istilah “keluarga besar”. Siapa saja yang tergabung dalam keluarga besarnya Rasulullah Saw.

Sejarawan sepakat bahwa keluarga Rasulullah termasuk keluarga besar yang teridiri dari dua belas isteri dan tiga putera serta empat puteri ditambah dengan satu anak tiri. Mereka adalah sebagai berikut:

Nama isteri-isteri Rasulullah:

  1. Khadijah bt. Khuwailid al-Asadiyah r.a
  2. Saudah bt. Zam’ah al-Amiriyah al Quraisiyah r.a
  3. Aisyah bt Abi Bakr r.a (anak Saidina Abu Bakar)
  4. Hafsah bt. Umar bin al-Khattab r.a (anak Saidina ‘Umar bin Al-Khattab
  5. Ummu Salamah Hindun bt. Abi Umaiyah r.a (digelar Ummi Salamah)
  6. Ummu Habibah Ramlah bt. Abi sufian r.a
  7. Juwairiyah ( Barrah ) bt. Harith
  8. Safiyah bt. Huyay
  9. Zainab bt. Jansyin
  10. Asma’ bt. al-Nu’man al-Kindiyah
  11. Umrah bt. Yazid al-Kilabiyah
  12. Zainab bt Khuzaimah (digelar ‘Ummu Al-Masakin’; Ibu Orang Miskin)

Nama anak-anak Rasulullah:

  1. Qasim
  2. Abdullah
  3. Ibrahim
  4. Zainab
  5. Ruqaiyah
  6. Ummi Kalthum
  7. Fatimah Al-Zahra’
  8. Halah bin Hind bin Habbasy bin Zurarah al-Tamimi (anak Saidatina Khadijah bersama Hind bin Habbasy. Ketika menikah dengan Rasulullah, Khadijah adalah seorang janda). Jadi Halah adalah anak tiri Rasulullah

Sekiranya kata “ahlul bait” berarti keluarga dan keturunan Rasulullah Saw, maka jumlah tersebut meliputi duabelas isteri, dan delapan anak serta semua cucunya yang berjumlah delapan orang.

Semua cucu-cucu Rasulullah SAW adalah keturunan dari putri-puteri beliau. Beliau tidak sempat punya cucu dari anak laki-laki karena mereka meninggal ketika masih kecil[24].

Cucu-cucu Nabi Muhammad SAW adalah sebagai berikut :

  • Ali bin Abul ‘Ash
  • Umaamah binti Abul ‘Ash
  • Abdullah bin ‘Utsman bin ‘Affan
  • Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib
  • Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib
  • Muhsin bin ‘Ali bin Abu Thalib
  • Zainab binti ‘Ali bin Abu Thalib
  • Ummu Kultsum binti ‘Ali bin Abu Thalib[25]

Simpulan:

Semua orang yang dinyatakan ahlul bait menurut syiah diakui oleh sunni, namun tidak semua orang yang dinyatakan ahlul bait oleh ahlussunnah diakui syiah. Sekiranya syiah dan sunni mencintai ahlul bait yang disepakati yaitu Ali, Fatimah, Hasan dan Husen dengan kecintaan menurut ajaran yang mereka dibawa ahlulbait pasti mereka akan bertemu dalam hal yang sama, yaitu mengikuti ajaran Islam yang sebenarnya yang terwujud dalam komunikasi dengan Allah dan komunikasi dengan sesama umat bertauhid. Karena semua ahlul bait membawa ajaran tauhid yang bersih dari ajaran syirik. Mereka bebas dari pengkultusan kepada sesama makhluk.

[1] QS. 33: 32-34

[2] Jika muncul pertanyaan: mengapa hanya keluarga Fatimah yang bergabung dalam kisaa itu, bukankan puteri rasul itu lebih dari satu? Jawabannya adalah: Rasul tidak mengumpulkan atau mengundang keluarga Fatimah akan tetapi mereka yang datang menghadap kepada Rasulullah. karena sesungguhnya Fatimah adalah puteri sulung tentu Hasan dan Husen juga cucu beliau yang pertama dan kedua yang diharap dapat melanjutkan perjuangan beliau setelah putera-putera kandung beliau kembali keharibaanNya padaa saat masing-masing masih kecil. Dalam kehidupan masyarakat kita pun biasa ditemukan cucu pertama mendapatkan perhatian kakek dan neneknya lebih dulu daripada cucu berikutnya.

[3] Rasulullah hamba pilihanNya datang mengeluh kepada puterinya, mengapa beliau mengeluh kepadanya? siapa yang lebih mulia, apakah beliau ataukah puterinya? Pada awal cerita ini terlihat adanya pertemuan Rasulullah dengan Fatimah, dan Rasulullah menyampaikan salam kepada puterinya.

[4] Panggilan bunda Fatimah kepada ananda Hasan terkesan menggunakan kalimat yang didramatisir

[5] Mengapa Fatimah melihat wajah Rasul bercahaya, sementara Hasan tidak mengetahui adanya Rasul?

[6] Bahasa yang digunakan Hasan saat berkata kepada Rasulullah tampak sekali bahasa karangan, sebab akan terlihat pada redaksi berikutnya kalimat ini terulang pada ungkapan yang lain

[7] Rasulullah memanggil Hasan dengan waladi (anaku) padahal Hasan memanggil beliau dengan kakeku, apakah pengarang artikel ini kurang control?

[8] Mengapa Rasulullah tidak memanggil Hasan dan Husen dengan cucu, padahal mereka memanggil beliau dengan kakek?

[9] Siapakah yang dimaksud dengan umat yang akan mendapat syafaat melalui Husen? Bukankah umat Nabi meliputi semua orang yang beriman kepada kenabian beliau temasuk syiah dan sunni?

[10] Permohonan izin yang disampaikan Husen menggunakan redaksi yang sama dengan permohonan izin yang disampaikan Hasan. Apakah mereka telah membuat kesepakatan sebelumnya, atau memang ini adalah drama karya seseorang yang tidak ada hubungan dengan mereka?

[11] Fatimah memanggil Ali dengan kata “amirulmukminin”. Memang sejak kapan istilah amirulmukminin digunakan dan difungsikan, bukankah pada saat itu urusan mukminin dibawah aturan Rasulullah Saw? Sekiranya pada saat itu Ali sudah dipanggil amirulmukminin tanpa tugas, berarti dia memiliki jabatan tanpa pekerjaan. Betulkah demikian? Mana tanggung jawabnya?

[12] Mengapa Fatimah mengatakan “kedua anakmu” tidak mengatakan “kedua anak kita” padahal Hasan dan Husen adalah dua putera Ali dari Fatimah.

[13] Permohonan izin untuk bersama dalam Kisa terulang dengan redaksi yang sama. Apakah Husen, Hasan dan Ali satu fikiran atau berjanji untuk menggunakan kata-kata yang sama, atau terjadi secara kebetulan? Semua ini tidak jelas.

[14] Fatimah telah berkomunikasi dengan Rasulullah sejak awal. Husen, Hasan dan Ali mengetahui adanya Rasulullah dari Fatimah. Mengapa Fatimah mohon izin kepada Rasulullah sekarang untuk bersama dengan mereka? Bukankah Fatimah melihat wajah Rasulullah bercahaya sebelum kedua putera dan suaminya melihat? Mungkin pembuat cerita ini lupa kalau Fatimah sudah lebih dulu bersama Rasulullah Saw. Dan ada yang menarik lagi untuk diperhatikan yaitu jawaban Rasulullah kepada setiap pribadi dari empat orang keluarga. Beliau menggunakan kalimat yang sama.

[15] Fatimah menempati posisi pertama baru ayahnya.

[16] Tertulis kata wa banuha وَبَنوها yang memberi arti bahwa Fatimah punya anak laki-laki lebih dari dua orang anak. Apakah ini juga merupakan bukti kekurang cermatan dalam menyusun artikel, hingga semakin membuktikan bahwa artikel ini murni karya sejarawan

[17] Ketikan Jibril telah mendapat izin dari Allah, apakah dia perlu memohon izin kepada Rasulullah?

[18] Dengan artikel ini maka dapat dipahami berdasarkan hadis kisa bahwa Rasululah diutus sebagai pembawa rahmat bagi ahlul bait dan syiahnya saja. Apakah hadis kisa ini tidak berlawanan dengan firman Allah {وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ} [الأنبياء: 107]

[19] Ibrahim menunggu kelahiran hingga lanjut usia. Setelah Ismail lahir dan hamper menginjak remaja, beliau menapat wahyu melalui mimpinya yang memerintahkan untuk mengorbankan buah hatinya. Betapa berat beban yang beliau pikul. Dapatkah kita bayangkan bagaiman cara Ibrahim berkomunikasi dengan kesayanggannya? Beliau memanggil anaknya dengan kata   يا بُنَيَّ inilah panggilan sayang dan manja kepada anak.

[20] Kalimat Fatimah“kedua anakmu” terkesan bahwa Hasan dan Husen bukan anaknya akan tetapi anak Ali dari isterinya selain Fatimah. Padahal pada saat Fatimah masih hidup Ali tidak beristri selain Fatmah.

[21] Sebagai contoh dalam Al-Quran:

{وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ} [إبراهيم: 33]

Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.

Mengapa dalam ayat posisi matahari mendahului bulan dan malam mendahului siang. Kalau dilihat sepintas jika matahari berhubungan dengan siang dan bulan berhubungan dengan malam, maka urutannya adalah matahari dan bulan lalu siang dan malam.

Ayat-ayat yang menjelaskan tentang hakikat ciptaan terkait dengan alam semesta, dalam Al-Quran sebutan langit selalu mendahului bumi, laki-laki mendahului perempuan dan sebagainya. Setiap satu kata dilatakan pada posisinya sesuai perannya.

[22] Dalam surat al Anbiya ayat 107 Allah berfirman : وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ   tidaklah Kami utus engkau kecuali sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam.

[23] Nabi Muhammad adalah rasul terakhir, beliau diutus sebagai pembawa rahmat untuk semua umat hingga hari kiamat tiba.

[24] Allah menghendaki agar perjuangan mesti berlangsung hingga hari akhir zaman bukan dengan cara kerajaan akan tetapi dengan ketauhidan siapapun yang menyadari akan pentinganya berjuang maka dia lah yang akan melanjutkan perjuangannya. Agar hal ini tercapai maka Allah menghedaki putera-putera Rasulullah Saw meninggal semasa masih kecil. Hingga tiada alasan untuk mengangkat masalah kerajaan yang sudah dikenal sejak zaman dahulu bahwa kepemimpinan dalam sistem kejaraan berlangsung secara turun temurun tanpa melihat sejauh mana kemampuannya.

[25] Untuk lebih lengkap keterangan tentang ahlul bait dapat anda baca juga pada buku “mencari titik temu syiah dan sunni” penerbit Maqdis