Ahlulbait Dicintai Sunni

Dalam acara peringatan maulid Nabi Muhammad saw. terlihat kecintaan beberapa kelompok  masyarakat kepada satu keturunan tertentu, mereka berlomba untuk dapat mencium tangan keturunan itu dengan harapan mendapat barokah dan dengan keyakinan bahwa mereka adalah ahlulbait. Kecintaan mereka terhadap keturunan tertentu sempat membuat mereka meremehkan seorang ulama yang tidak diragukan dia adalah pewaris nabi.

Pertanyaan:

Siapa sih sebenarnya ahlul bait itu dan bagaimana cara mencintai mereka?

 

Pembahasan:

Makna ahlulbait atau aalulbait  أهل البيت أو آل البيت

Tidaklah asing dalam bahasa Arab bila ditemukan satu huruf berubah menjadi huruf lain seperti  :

 

إيراق   menjadi  إهراق

ازتاد     menjadi ازداد

يضتر    menjadi يضطر

demikian pula halnya dengan آل   menjadi أهل .

Ahlulbait artinya ahli rumah. Yang dimaksud dengan ahli rumah di sini adalah ahli rumah Rasulullah saw.

Sebagaimana manusia biasa, Rasulullah saw membangun rumah tangga atau keluarga dimulai dengan membangun komunikasi dengan isteri-isterinya. Maka keluarga Rasul atau ahlulbait yang pertama adalah isteri-isteri beliau sendiri.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

Dari Ibnu Abas dari Nabi saw. bersabda,  sebaik-baik kamu adalah yang terbaik kepada ahlinya dan akau adalah orang terbaik kepada keluargaku. [1]

 

Beliau membimbing isteri-isterinya sebelum membimbing yang lainnya dengan berdasarkan wahyu Allah. Dia berfirman:

يَانِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَءَاتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا(33)

dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

 

Pelajaran penting dari ayat:

  • Dalam ayat di atas terdapat panggilan yang ditujukan kepada isteri-isteri Nabi, karena merekalah ahlulbait yang pertama.
  • Kendatipun yang menyampaikan ayat ini adalah Nabi sendiri, namun ayat tidak menyebutkan hai isteri-isteriku, malainkan hai isteri-isteri Nabi. Hal itu memberi isyarat adanya kemuliaan bagi semua isteri Nabi, sebab panggilan datang dari Allah yang mengangkat mereka untuk menjadi wanita istimewa yang Allah khsususkan bagi kekasih-Nya. Tentu, kemuliaan di sisi Allah tidak dicapai kecuali dengan perilaku masing-masing. Karena itu mereka dinyatakan wanita yang berbeda dengan wanita lain disebabkan ketaatan mereka kepada Allah.
  • Kendatipun ayat ini ditujukan kepada semua wanita muslimah namun secara historis  ayat tersebut ditujukan kepada semua istri Rasulullah saw. tanpa kecuali karena mereka adalah wanita pilihan Allah untuk kekasih-Nya.  Hal itu memberi arti bahwa isteri-isteri Rasul adalah wanita muslimah yang paling mulia di sisi Allah.
  • Mereka semua diperintah untuk penuh perhatian kepada kewajiban rumah tangga yang merupakan madarasah pertama dan titik tolak bagi perkembangan seluruh umat.
  • Langkah awal untuk membangun rumah tangga yang benar adalah menjauhkan diri dari budaya jahiliyah. Itulah pembersihan lahir dan batin yang mesti dilakukan keluarga da’wah.
  • Dalam keluarga yang bersih ini ditegakkan shalat sebagai pilar untuk tegaknya agama yang haq.
  • Semua istri Rasul, di samping diperintah untuk menegakkan shalat sebagai komunikasi langsung dengan Allah juga mereka diperintah untuk selalu berhubungan dengan manusia melalui penyaluran zakat.
  • Pelaksanaan semua aturan oleh para istri Nabi di atas adalah membuktikan bahwa mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya, namun demikian ayat menegaskan agar mereka taat kepada Allah dan RasulNya. Hal itu membuktikan bahwa dalam pelaksanaan ketaatan diperlukan seruan untuk tetap taat dan meningkatkan ketaatan yang terkadang tanpa disadari sering menurun.
  • Orang yang taat akan selalu merasa perlu peringatan karena semakin meningkat ketaatan seseorang maka akan semakin menyadari bahwa ketaatannya semakin jauh dari kesempurnaan. Karena itu orang yang taat tidak pernah merasa diri suci tetapi sebaliknya mereka selalu merasa penting untuk bertaubat. Inilah sifat-sifat orang yang disucikan dari berbagai kotoran, baik kotoran akidah, amal ataupun kotoran lainnya.
  • Pada ayat terdapat iltifat yaitu perpindahan dari kata yang ditujukan khusus kepada wanita (وقرْنَ ) menjadi kata yang ditujukan kepada wanita dan pria (ليذهب عنكم   ).
  • Perintah dan larangan ditujukan kepada kaum wanita, yaitu isteri-isteri Nabi. Ini adalah aturan Ilahi yang sangat berguna bagi kepentingan semua keluarga yaitu kebersihan dan kesucian mereka dari berbagai kotoran lahir dan batin.
  • Kebersihan keluarga diawali dari ketaatan kaum ibu kepada Allah dan RasulNya dengan memperhatikan kewajiban mereka sebagai ibu rumah tangga dan menjaga diri dari kehidupan jahiliyah.
  • Dengan dikhususkannya perintah kepada isteri-isteri Rasul dan manfaatnya bagi semua anggota keluarganya maka ayat ini memberi isyarat bahwa  ketaatan ibu rumah tangga sangat berperan bagi masa depan keluarga.
  • Kesucian keluarga Rasul bukan ditentukan dengan keturunan melainkan berdasarkan ketaatan yang tercermin pada ketaatan isteri-isteri beliau.

Semua mukminin diperintah untuk saling mencintai antara satu dengan yang lain. Kecintaan tersebut bukan berlandaskan  kecintaan yang bersifat emosional tetapi kecintaan yang berlandaskan keimanan kepada Allah.  Karena kecintaan tersebut berdasarkan keimanan, maka semakin meningkat keimanan seseorang akan semakin meningkat pula kecintaannya. Semakin meningkat keimanan yang mencintai dan keimanan yang dicintai maka akan semakin kuat ikatan kecintaannya. Karena itu kecintaan tersebut akan terus bertambah dengan amal masing-masing. Sebab, iman bukan hanya keyakinan dalam hati melainkan juga komunikasi seorang hamba dengan Allah yang melibatkan anggota dan alam sekitarnya. Dengan demikian, kecintaan sebagian masyarakat kepada kelompok tertentu karena berdasarkan keturunan,  sangat penting untuk ditindaklanjuti dengan bentuk amal imani yang tercermin dalam وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر  (saling memberi nasihat dengan haq dan kesabaran). Orang-orang yang dianggap mulia karena keturunannya yang dihubungkan kepada Rasul tidak berbeda dengan yang lainnya, mereka semua sangat memerlukan nasihat atau wajib menerima nasihat dan wajib menasihati yang lainnya.   Mereka  tidak termasuk orang yang mulia kecuali dengan ketakwaannya. Tanpa takwa, sebagaimana manusia lainnya mereka pun menempati kedudukan yang lebih rendah daripada binatang.

 

 

Satu ketika Hasan dan Husain bermain-main dengan buah kurma shodaqah lalu mamasukkannya ke dalam mulutnya. Ketika Rasulullah saw. melihatnya maka beliau pun mengeluarkannya dari mulutnya seraya bersabda:

أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ آلَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَأْكُلُونَ الصَّدَقَةَ

Tidakkah kamu tahu bahwa آلَ مُحَمَّدٍ (keluarga Muhammad saw) tidak makan dari shadaqoh.

 

Pelajaran dari ayat:

عَنْ أَبِي زُرْعَةَ بْنِ عَمْرِو بْنِ جَرِيرٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ لَأُنَاسًا مَا هُمْ بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِمَكَانِهِمْ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ تُخْبِرُنَا مَنْ هُمْ قَالَ هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوا بِرُوحِ اللَّهِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ وَلَا أَمْوَالٍ يَتَعَاطَوْنَهَا فَوَاللَّهِ إِنَّ وُجُوهَهُمْ لَنُورٌ وَإِنَّهُمْ عَلَى نُورٍ لَا يَخَافُونَ إِذَا خَافَ النَّاسُ وَلَا يَحْزَنُونَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ وَقَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ د

حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ النُّمَيْرِيُّ حَدَّثَنَا يُونُسُ وَقَالَ اللَّيْثُ حَدَّثَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ وَابْنُ الْمُسَيَّبِ وَعَلْقَمَةُ بْنُ وَقَّاصٍ وَعُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَبَعْضُ حَدِيثِهِمْ يُصَدِّقُ بَعْضًا حِينَ قَالَ لَهَا أَهْلُ الْإِفْكِ مَا قَالُوا فَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيًّا وَأُسَامَةَ حِينَ اسْتَلْبَثَ الْوَحْيُ يَسْتَأْمِرُهُمَا فِي فِرَاقِ أَهْلِهِ فَأَمَّا أُسَامَةُ فَقَالَ أَهْلُكَ وَلَا نَعْلَمُ إِلَّا خَيْرًا وَقَالَتْ بَرِيرَةُ إِنْ رَأَيْتُ عَلَيْهَا أَمْرًا أَغْمِصُهُ أَكْثَرَ مِنْ أَنَّهَا جَارِيَةٌ حَدِيثَةُ السِّنِّ تَنَامُ عَنْ عَجِينِ أَهْلِهَا فَتَأْتِي الدَّاجِنُ فَتَأْكُلُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَعْذِرُنَا فِي رَجُلٍ بَلَغَنِي أَذَاهُ فِي أَهْلِ بَيْتِي فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ مِنْ أَهْلِي إِلَّا خَيْرًا وَلَقَدْ ذَكَرُوا رَجُلًا مَا عَلِمْتُ عَلَيْهِ إِلَّا خَيْرًا    ب

حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ سُلَيْمَانُ بْنُ الْأَشْعَثِ قَالَ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سُلَيْمَانَ النَّوْفَلِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحِبُّوا اللَّهَ لِمَا يَغْذُوكُمْ مِنْ نِعَمِهِ وَأَحِبُّونِي بِحُبِّ اللَّهِ وَأَحِبُّوا أَهْلَ بَيْتِي بِحُبِّي قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ إِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ   ت

قوله : ( حدثنا أبو داود سليمان بن الأشعث ) السجستاني صاحب السنن ( عن عبد الله بن سليمان النوفلي ) مقبول من السابعة ( عن محمد بن علي بن عبد الله بن عباس ) الهاشمي ثقة من السادسة لم يثبت سماعه من جده . قوله : ” لما يغذوكم ” أي يرزقكم به ” من نعمة ” بكسر النون وفتح العين جمع نعمة وهو بيان لما ” بحب الله ” وفي المشكاة لحب الله أي لأن محبوب المحبوب محبوب ” وأحبوا أهل بيتي بحبي ” أي إياهم أو لحبكم إياي . قوله : ( هذا حديث حسن غريب ) وأخرجه الحاكم ..


[1]  أخرجه ابن ماجه في سننه  ج 1/ص 636/ح 1977  أخرجه ابن حبان  في صحيحه  ج7/ص289/ح3018،   . و الترمذي في سننه  ج5/ص710/ح3895. و ابن ماجه في سننه  ج1/ص636/ح1977. و أبي داود في سننه  ج4/ص275/ح4899.

Leave a Reply