Ahlussunnah Wal Jama’ah Milik NU Atau Wahabi?

Ketika seorang ulama Saudi ( yang sering diidentikan dengan wahabi) mendengar berita tentang seorang tokoh agama di Indonesia, maka dia pun bertanya: apakah tokoh tersebut dari ahlussunnah wal jamaah atau bukan? Setelah dijawab dengan: ya, maka beliau langsung bersyukur dengan mengatakan: alhamdulillah.

Ada seorang ulama NU yang mendengar berita tentang tokoh dari Timur Tengah lalu dia bertanya: apakah tokoh tersebut dari ahlussunnah waljamaah ataukah Wahabi?

Jadi, kedua ulama diatas membela aqidah ahlussunnah wal jamaah namun pada saat yang sama mereka seolah-olah bersebrangan.

Pertanyaan:

Apakah yang dimaksud dengan Ahlussunnah wal jamaah menurut masing-masing dari kedua ulama tersebut?

Pembahasan :

Sunnah dan Ahlussunnah

Dalam kehidupan masyarakat ditemukan banyak istilah yang mengandung multi makna hingga sulit dibedakan mana arti yang asal dari arti yang belakangan mucul. Kata “sunni dan sunnah” termasuk istilah yang mengandung banyak makna. Agar tidak keliru dalam penggunaannya, maka dirasa perlu untuk dikupas disini meski secara ringkas.

Hingga saat ini masih banyak masyarakat yang kesulitan untuk membedakan makna sunnah yang sebenarnya karena istilah ini sering ditemukan dalam berbagai urusan sepeti dalam urusan: ibadah, organisasi, sosial dan aqidah.

1)      SUNNAH DALAM MASALAH IBADAH

dalam masalah ibadah atau lebih populer dalam masalah fiqih,sunnah adalah istilah yang berhubungan dengan masalah hukum. Para ulama memberi makna sunnah dengan mengatakan: sunnah adalah hukum yang bila dikerjakan akan mendapat pahala dan jika ditinggal tidak dikenai sanksi. Sehubungan dengan pengertian ini maka istilah “ahlussunnah” dan “sunni” tidak dipergunakan.

Namun banyak juga orang yang berpandangan bahwa ahlussunah adalah orang yang suka melaksanakan shalat sunnah. Hal ini mengantarkan istilah   “ahlus sunnah” kepada pengertian yang tidak jelas. Karena, jika ahlussunnah dihubungan dengan masalah hukum akan muncul pula istilah ahlulwajib. Namun, istiltilah ini tidak pernah terdengar.

2)  SUNNAH DALAM MASALAH ORGANISASI

Dalam kehidupan sebagian masyarakat Indonesia istilah “ahlussunnah” identik dengan nahdhiyin (masyarakat pengikut satu organisasi masa yang bernama Nahdhatul ulama atau NU). Bahkan sebagian dari mereka berpandangan bahwa nahdhiyinlah satu-satunya ahlussunnah karena itu mereka berada di dalamnya. Tentu pandangan seperti ini hanya terdapat pada sebagian pengikut nahdhiyin yang belum memahami apa sebenarnya nahdhatululama yang mereka ikuti. Sementara para ulama mereka tidak demikian, karena mereka pun yakin bahwa orang yang memahami alQuran dan sunnah dengan benar serta berupaya untuk melaksanakannya, tidak hanya masyarakat yang bergabung dengan organisasi ini, akan tetapi juga yang bergabung dengan organisasi lainnya seperti Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, al Wasliyah, Salafi, Hizbuttahrir dan sebagainya. Bahkan organsasi-organisasi tersebut hanya bagian kecil dari ahlussunnah waljamaah yang tersebar di seluruh dunia. Dengan demikian maka masyarakat yang bergabung dalam NU hanyalah bagian kecil dari pengikut ahlusunnah. Dan sejauhmana kesesuaiannya dengan sunnah sangat tergantung pada sejauhmana pula pemahaman pribadi masing-masing terhadapsunnah . Hal ini tiada bedanya dengan anggota ormas lainnya.

3)  SUNNAH YANG HUKUMNYA WAJIB

Khitan sudah dikenal sejak zaman umat terdahulu sebelum alQuran turun. Di tanah air Indonesia istilah khitan sering disebut sunnah atau sunnat. Jika tidak dipahami dengan benar maka penggunaan istilah ini dapat mengantarkan kepada pemahaman hukum yang tidak sesuai dengan ajaran yang sebenarnya. Sebab hukum khitan dalam ajaran Islam adalah wajib. Sedangsunnah berbeda dengan wajib.

4)  SUNNAH LAWAN MUKTAZILAH

Ahlussunnah waljamaah. Ahlussunnah berarti orang-orang yang menganut atau mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW, dan  waljamaah berarti mayoritas umat atau mayoritas sahabat Nabi Muhammad SAW. Jadi definisi Ahlussunnah waljamaah yaitu; “ Orang-orang yang mengikuti Nabi Muhammad SAW dan mayoritas sahabat ( maa ana alaihi wa ashhabi ), baik di dalam syariat (hukum Islam) maupun akidah dan tasawuf”.

Istilah ahlussunnah waljamaah tidak dikenal di zaman Nabi Muhammad SAW maupun di masa pemerintahan al-khulafa’ al-rasyidin, bahkan tidak dikenal di zaman pemerintahan Bani Umayah ( 41 – 133 H. / 611 – 750 M. ). Istilah ini untuk pertama kalinya di pakai pada masa pemerintahan khalifah Abu Ja’far al-Manshur (137-159H./754-775M) dan khalifah Harun Al-Rasyid (170-194H/785-809M), keduanya dari dinasti Abbasiyah (750-1258). Istilah ahlussunnah waljamaah semakin tampak ke permukaan pada zaman pemerintahan khalifah al-Ma’mun (198-218H/813-833M).

Pada zamannya, al-Ma’mun menjadikan Muktazilah ( aliran yang mendasarkan ajaran Islam pada al-Qur’an dan akal) sebagai madzhab resmi negara, dan ia memaksa para pejabat dan tokoh-tokoh agama agar mengikuti faham ini, terutama yang berkaitan dengan kemakhlukan Al-Qur’an. untuk itu, ia melakukan mihnah (inquisition), yaitu ujian akidah  terhadap para pejabat dan ulama. Materi pokok yang di ujikan adalah masalah al-quran. Bagi muktazilah,  al-quran adalah makhluk (diciptakan oleh Allah SWT), tidak qadim (  ada sejak awal dari segala permulaan), sebab tidak ada yang qadim selain Allah SWT. Orang yang berpendapat bahwa al-quran itu qadim berarti syirik dan syirik merupakan dosa besar yang tak terampuni. Untuk membebaskan manusia dari syirik,  al-Ma’mun melakukan mihnah. Ada beberapa ulama yang terkena mihnah dari al-Ma’mun, diantaranya, Imam Ahmad Ibn Hanbal ( 164-241H).

Penggunaan istilah ahlussunnah waljamaah semakin popular setelah munculnya Abu Hasan Al-Asy’ari (260-324H/873-935M) dan Abu Manshur Al-Maturidi (w. 944 M), yang melahirkan aliran “Al-Asy’aryah dan Al-Maturidyah” di bidang teologi. Sebagai ‘perlawanan’ terhadap aliran muktazilah yang menjadi aliran resmi pemerintah waktu itu. Teori Asy’ariyah  lebih mendahulukan  naql ( teks qu’an hadits)  daripada aql ( penalaran rasional). Dengan demikian bila dikatakan ahlussunnah waljamaah pada waktu itu, maka yang dimaksudkan adalah penganut paham asy’ariyah atau al-Maturidyah dibidang teologi. Dalam hubungan ini ahlussunnah waljamaah dibedakan dari Muktazilah, Qadariyah, Syiah, Khawarij,  dan aliran-aliran lain. Dari aliran ahlussunnah waljamaah atau disebut aliran sunni dibidang teologi kemudian juga berkembang dalam bidang lain yang menjadi ciri khas aliran ini, baik dibidang  fiqh dan tasawuf. sehingga sunnah menjadi istilah, jika disebut  akidah sunni  (ahlus waljamaah) yang dimaksud adalah pengikut Asy’aryah dan Maturidyah. Atau Fiqh Sunni,  yaitu pengikut madzhab yang empat ( Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hanbali). Yang menggunakan rujukan alqur’an, al-hadits, ijma’ dan qiyas. Atau juga Tasawuf Sunni,  yang dimaksud adalah pengikut metode tasawuf Abu Qashim Abdul Karim al-Qusyairi, Imam Al-Hawi, Imam Al-Ghazali dan Imam Junaid al-Baghdadi. Yang memadukan antara syari’at, hakikat dan makrifaat.[1]

5)  SUNNAH DALAM MASALAH AQIDAH

sunnahdalam masalah aqidah merupakan prinsip dalam ajaran Islam. Yaitu semua ajaran yang mesti diikuti oleh semua umat yang meyakini bahwa AlQuran adalah wahyu Ilahi yang tidak dapat diamalkan tanpa memperhatin dan mengikuti kehidupan Rasulullah Saw. Yaitu petunjuk yang dibawa oleh penerima wahyu yang tercermin pada akhlak Rasulullah Saw. Itulah yang disebut sunnah Rasul. Dalam hal ini kata “sunnah” memiliki makna yang sangat luas meliputi semua ajaran Islam yang diterima dari Rasulullah saw baik melalui sabdanya, perbuatannya atau sikapnya. Jadi, ahlussunnah adalah orang yang berjuang untuk mengikuti contoh Rasulullah Saw dalam segala aspek kehidupan. Dan orang yang tidak mengikuti sunnah dalam artian ini disebut “ahli bid’ah”.

Realita di lapangan ditemukan banyak masyarakat yang mengaku sebagai pengikutsunnah Rasul meskipun hanya mengikuti apa kata guru atau ustadz mereka. Bahkan sering terungkap kalimat: Apakah si fulan ikhwan kita? Ketika diminta penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan “ikhwan kita”, maka dia berkata: apakah dia pengikut ajaran Quran dan sunnah ? Setelah ditelusuri, orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Quran dansunnah ternyata ada beberapa tingkatan. Secara umum mereka adalah para pengikut guru-guru agama yang mengatakan: kita beribadah berdasakan quran dansunnah . Apakah dapat dibuktikan bahwa mereka benar-benar melaksanakan ajaran alquran dansunnah ? Hanya Allah yang Mahatahu, apakah mereka mampu memahami AlQuran dengan luas dan mendalam. Sungguh seluas dan sedalam bagaimana pun pemahaman mereka sangatlah terbatas jika dibandingkan dengan apa yang mereka pelajari dan mereka dalami, yaitu alQuran dansunnah . Karena itu akan lebih aman kiranya jika mereka berkata: “kita beribdah berlandaskan kepada fiqih kita terhadap quran dan sunnah”. Dan orang lain yang berbeda dalam fikihnya, boleh jadi mereka adalah mengikuti fikih mereka terhadap quran dan sunnah sebatas kemampuan mereka dalam memahaminya. Dengan pernyataan ini, insyaallah akan terjalinlah persaudaraan berlandaskan kepada ketawadhuan (kerendahan hati) yang diikat dengan keyakinan bahwa kemampuan umat dalam memahami AlQuran dan sunnah sangat terbatas. Jika terjadi ada dua pemahaman yang berbeda, maka sangat mungkin keduanya benar hanya saja berbeda dalam sudut pandang. Atau keduanya salah karena keduanya tidak memiliki sifat makshum. Atau salah satunya benar namun tidak dapat dibuktikan sebelum keduannya bertemu untuk mengkajinya secara bersama-sama.

Istilah sunnah dalam artian mengikuti akhlak Rasul tidak berhubungan dengan istilah “sunni” yang dihadapkan dengan istilah “syiah” kendatipun kedua kata (sunnah dan sunni) ini diambil dari akar kata yang sama, yaitu sanna karena semua umat megakui sebagai kelompok yang mencintai dan mengikuti sunnah Rasulullah Saw, termasuk kelompok orang yang dikenal dan mengenalkan diri sebagai orang syiah. Mereka pun selalu mengangkat kalimat “mencintai Rasul dan ahlulbait”.

Dari beberapa pengguna istilah “ahlussunnah” diatas telah ditemukan beberapa pandangan yang satu dengan lainnya bukan saja tidak berhubungan melainkan berlawanan. Umpamanya: peringatan mauled nabi, tahlilan untuk ahli kubur, membaca kitab alBarzanji dan sebagainya. Menurut sebagian ahlussunnah yang identic dengan Nahdlatul Ulama bahwa hal itu adalah termasuk yang mesti dilakukan sebagai tanda ahlussunnah, sementara menurut ahlussunnah yang dipelopori oleh ulama Makah dan Madinah bahwa semua ritual tersebut tidaklah patut dikerjakan, karena tidak ditemukan dalam sunnah Rasulullah.

Ahlussunnah waljamaah di Saudi sangat menghormati imam Abdulwahab yang telah memberantas akidah yang dipandangnya keluar dari sunnah. Maka mereka memandangnya imam AbdulWahab sebagai pembela sunnah Nabi. Para pengikut AbdulWahab disebut ahlussunnah waljamaah. Sementara di Indonesia sering terdengar ungkapan yang memosisikan wahabi sebagai lawan ahlussunnah waljamaah. Orang yang mengaku dirinya alussunnah suka menuduh wahabi kepada orang yang berbeda dalam masalah fikih hukum. Sementara yang diberantas imam Abdul Wahab adalah masalah aqidah

Ahlussunnah wal jamaah adalah istilah yang memiliki banyak makna. Jika ditemukan ada anggota NU merasa khawatir terkena pemikiran Wahabi atau seorang pengikut pemikiran Abdul wahab merasa khawatir ada pemikiran yang menyimpang dari ahlussunnah maka dapat diketahui bahwa NU dan Wahabi sama berjuang untuk menegakan ajaran Islam dengan menggunakan nama yang sama yaitu ahlussunnah wal jamaah.

Golongan manakah yang akan selamat di akhirat? Keselamatan di akhirat tidak membawa golongan melainkan kembali kepada pribadi masing-masing. Siapa dari mereka yang taat kepada Allah dan RasulNya serta mengikuti jejak orang-orang yang dekat dengan Allah dan RasulNya dari kalangan para sahabat, tabi’in dan shiddiqin mereka itulah orang yang dijamin akan mendapat kedudukan yang mulia di hadapan Allah.

 

[1] Lih. www.aswaja-nu.com

Leave a Reply