AlQuran Itu Mudah Karena Sudah Diterjemahkan

Seorang pengisi majlis ta’lim berkata: AlQuran adalah petunjuk bagi kehidupan manusia karena itu mesti dipahami, alQuran itu Allah turunkan dengan mudah, karena itu jangan dipersulit. alQuran telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, karena itu, kendatipun saya bukan ahli bahasa Arab dan tidak punya background pesantren terbukti saya mampu memahami AlQuran.

Pertanyaan.

Apakah AlQuran dapat diterjemahkan sesuai isinya? Apakah terjemah AlQuran itu firman Allah?

Apakah membaca dan memahami terjemah sama dengan membaca dan memahami AlQuran ?

 

Pembahasan.

Semangat kaula muda untuk menyebarkan ajaran AlQuran di tanah air kita semakin meningkat. Sungguh hal tersebut patut disembut dengan diberi apresiasi karena dengan semangat yang menggebu pada diri mereka maka para ulama senior tentu akan terbantu dalam penyebaran agama ini. Ini dari satu segi, namun dari satu segi, semangat mereka terlihat diatas ilmu pengetahuan yang mereka miliki, bahkan terkesan ada keterangan-keterangan yang dipaksakan untuk meyakinkan masyarakat luas tanpa dasar yang jelas atau ilmu yang dapat dipertanggung jawabkan.

TERJEMAH ALQURAN

Urgensi terjemah bagi masyarakat non Arab

Tidak syak lagi bahwa terjemah AlQuran sangat diperlukan bagi kaum muslimin yang tidak memahami bahasa Arab. Namun, perlu diyakini bahwa terjemah tidak dapat mewakili semua apa yang diterjemahkan. hal ini berlaku untuk umum semua karya manusia. Dan untuk AlQuran tentu diatas segalanya, karena AlQuran adalah mukjizat sedangkan terjemah bukan mukjizat. Membaca satu huruf dari AlQuran dengan niat yang ikhlas adalah ibadah yang nilainya berlipat sementara membaca terjemah tidak demikian.

Terjemah sangat diperlukan untuk membantu pemahaman terhadap AlQuran, namun masih banyak makna AlQuran yang tidak ditemukan terjemahnya, karena itu tidaklah cukup bagi seorang hamba yang ingin memahami AlQuran hanya dengan mengandalkan terjemah.

Terjemah bukan AlQuran

Telah berlangsung penerjemahan AlQuran terhadap lebih dari enam puluh bahasa di dunia. Terjemahan-terjemahan tersebut dapat dilihat di Mansjid al Haram Mekan dan Masjid Nabawi di Madinah.

Pada cover terjemahan tersebut tertulis القرآن الكريم وترجمة معانيه إلى اللغة الإندونيسية (alquran alkarim dan terjemah maknanya kedalam bahasa Indonesia), demikian pula terjemahan ke dalam bahasa lainnya.

Memerhatikan nama tersebut maka dapat diyakini bahwa AlQuran itu sebenarnya tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun. Yang diterjemahkan bukanlah AlQuran akan tetapi sebagian makna dari AlQuran yang mereka pahami dialihkan kedalam bahasa yang dimaksud.

AlQuran adalah mukjizat abadi dalam segala segi meliputi pilihan formulasi kata, susunan kalimat, penempatan ayat, penulisan huruf, hubungan qiroah dengan qiroah lainnya, kandungan berita masa lalu dan masa mendatang, penggunaan kata yang diluar kebiasaan umum masyarakat Arab dan masih banyak lagi yang lainnya. Semua ini tidak akan dapat ditemukan dalam bahasa manusia. Karena itu, ketika ada upaya untuk menerjemahkan AlQuran secara harfiyah sebenarnya bukan terjemah AlQuran akan tetapi terjemah kata-kata dalam AlQuran. Hal itu tidak memberi makna akan hakikat AlQuran melainkan hanya membantu untuk mengetahui makna kata-kata dalam AlQuran. Terjemahan seperti ini tidak dapat dijadikan pegangan untuk memahami AlQuran akan tetapi sangat bermakna bagi orang yang sedang mempelajari bahasa Arab untuk memahami AlQuran. Tentu, cara tersebut tidak mencapai sasaran tanpa di dukung dengan ilmu-ilmu lainnya.

Terjemah bukan Tafsir

Upaya untuk menerjemahkan AlQuran adalah satu amal yang sangat mulia dan berguna terutama bagi orang-orang yang sedang haus akan ilmu yang digali dari AlQuran. Namun demikian, perlu senantiasa dipahami dan diyakini bahwa terjemah adalah salah satu alat untuk memahami makna yang terkandung dalam AlQuran. Ketika seseorang yang sedang mempelajari AlQuran dengan menggunakan terjemah maka dia sangat dituntut untuk mempelajari kaidah bahasa Arab dan الذوق العربيdzauq arabi yang dipelajari melalui ilmu balaqhah dan karya sastra Arab terutama syair jahiliyah dan syair shadr Islam yaitu karya para penyair yang hidup sebelum turun AlQuran dan karya penyair yang hidup masa generasi pertama.

Sungguh banyak karya ulama terdahulu yang menjelaskan tentang makna-makna dan kandungan AlQuran yang disebut dengan tafsir. Terjemah dan dan tafsir adalah dua hal yang berbeda. Keduanya adalah bagian dari ilmu untuk memahami AlQuran.

Sekiranya dapat diumpamakan dengan makanan maka terjemah adalah bahan mentah dan daftar menu yang siap untuk dioleh sesuai keinginan seorang ahli masak, sedangkan tafsir adalah laksana hidangan yang siap saji. Bahan mentah dapat digunakan untuk membuat berbagai jenis makanan sesuai selera. Maka terjemahan AlQuran dapat dipahami dengan berbeda sesuai kondisi pembaca. Sementara tafsir telah mengarahkan pembaca sesuai dengan keinginan dan pemikiran seorang mufassir.

Terjemah sebelum tafsir

Banyak terjemah ditemukan dengan merujuk kepada tafsir. Jika hal itu merupakan proses yang ditempuh para penerjemah untuk memahami AlQuran tentu sangat diperlukan, namun bukan tafsir dijadikan landasan untuk terjemah. Sebab tafsir adalah pendalaman makna tertentu sementara terjemah merupakan langkah awal untuk menafsirkan. Jika diumpamakan dengan satu bangunan maka terjemah adalah apa yang terlihat dari luar, semetara tafsir adalah sudah masuk ke bagian-bagian bangunan. Karena itu, pada saat penerjemahan sangat diperlukan menerangkan apa yang terlihat untuk menarik perhatian yang mengantarkan dari mana harus masuk untuk mengetahui hakikat isinya.

Etika menerjemahkan

  1. Memerhatikan keaslian bahasa

Bahasa AlQuran tidak sama dengan bahasa Arab yang biasa digunakan masyarakat Arab. Disamping itu penulisan AlQuran tidak sama dengan penulisan hadits. Masing-masing menuntut para penerjemah untuk memelihara keasliannya. Sebab dengan terjemah tanpa memerhatikan keistimewaan sangat dikhawatirkan mukjizat AlQuran akan tertutup. Atau dikhawatirkan akan terjadi pembatasan makna mukjizat hanya pada AlQuran tanpa menyentuh mukjizat AlKitab. Padahal dibalik tulisan yang tidak selalu terbaca serta dibalik bacaan yang tidak selalu tertulis pasti terdapat mukjizat yang tidak akan tuntas dibahas karena AlQuran mukjizat abadi memiliki aturan tulisan yang penuh dengan mukjizat pula.

Dari mana dapat dikatakan bahwa AlQuran dan AlKitab itu adalah sama-sama mukjizat abadi?

Banyak ayat yang menjelaskan hakikat mukjizat ini antara lain firman Allah:

 

 

 

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), datangkanlah satu surat (saja) yang semisalnya (Alkitab)[1] itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
(QS. Al-Baqarah : 23)

 

 

 

Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah merekayasanya (AlKitab) itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”. (QS. Hud : 13)

Kedua ayat diatas diawali dengan panggilan yang ditujukan kepada umat Nabi Muhammad sejak generasi pertama hingga saat ini dan masa mendatang.

Surat AlBaqarah dan Surat Hud sama-sama diawali dengan menampilkan lafal kitab. Allah berfirman:

 

Itulah alKitab[2], tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa (QS. AlBaqarah : 2)

 

 

 

Alif Laam Raa, satu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu (QS. Hud : 1)

Dua ayat yang menantang manusia untuk mendatangkan tandingan surat, ternyata sangat berhubungan erat dengan AlKitab karena surat AlBaqarah diawali dengan lafal AlKitab demikian pula Surat Hud. Dan dari awal surat hingga ayat yang mengandung tanantangan tersebut tidak mengandung lafal “alquran”, malainkan hanya mengandung lafal “alkitab”. Dari sini maka semakin jelas pentingnya menggali mukjizat wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui kajian alkitab atau dengan memerhatikan berbagai qiraat yang terlihat pada mushaf rasm utsmani atau yang sering disebut juga dengan mushaful imam. Kendatipun tinjauan sejarah mushaf ini adalah dihubungan dengan Khalifah Utsman akan tetapi anggota tim penulis mushaf ini adalah para penulis yang bertugas sejak pada zaman Rasulullah Saw. mereka adalah menulis mushaf sesuai dengan yang mereka terima dari Rasulullah Saw. dan realita membuktikan bahwa Allah memelihara wahyu ini melalui quran, kitab, dzikr dan furqan.

Ketika Allah berkehendak untuk menerangkan tentang mukjizat AlQuran maka kita pun menemukan pula ayat yang mengandung tantangan dengan menyebut nama AlQuran secara langsung yaitu dalam firman Allah:

 

 

 

Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.
(QS. Al-Isra : 88)

  1. Memerhatikan penulisan dan memerhatikan berbagai qiraat

Wahyu terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad terpelihara dengan lisan dan tulisan. Pemeliharaan ilahi secara lisan terbukti adanya bacaan yang sangat teratur dan dihafal secara keseluruhan dengan jumlah penghafal (hafizh) yang terus bertambah setiap generasi. Pemeliharaan secara tulisan terbukti dengan adanya aturan penulisan yang di luar kebiasaan yang diberi nama dengan rasm utsmani. Dan penulisan khusus ini mengandung penuh arti sebagaimana banyaknya qiraat juga penuh makna.

Karena itu, pada saat berlangsung penerjemahan yang dilakukan para aktivis dan para pengkaji secara lisan sangat tepat sekiranya mereka memerhatikan berbagai qiraat, karena antar qiroah dengan qiroah lainnya saling melengkapi makna. Dan tanpa memerhatikan berbagai qiraat tentu banyak makna masih tersembunyai dan yang tidak terungkap.

Demikian pula halnya dengan penerjemahan secara tertulis, sangat tepat jika para penerjemah memerhatikan keistimewaan cara penulisan wahyu ini yang membedakan dari cara penulisan biasa. Perhatian tersebut jika tidak sampai kepada pendalaman makna yang berhubungan dengan qiraat, paling tidak, ada keterangan yang berkaitan dengan keistimewaan penulisan tersebut.

TAFSIR

Tidak diragukan bahwa kitab-kitab tafsir yang jumlahnya sudah sulit dihitung sangat berhubungan dengan disiplin ilmu para mufassir. Dan AlQuran adalah pedoman hidup semua manusia dan solusi problem yang mereka hadapi di mana pun mereka berada.

Karya para ulama yang telah memenuhi perpustakaan dunia, tidak lepas dari hasil-hasil pemikiran mereka yang berhubungan dengan masalah yang mereka temukan dari:

  • peristiwa yang sudah terjadi sebelumnya
  • peristiwa yang mereka saksikan pada saat mereka masih hidup
  • peristiwa yang terulang terus setiap generasi hingga saat ini

Betapapun para ulama tafsir terdahulu memiliki pengetahuan dan wawasan yang sangat luas, namun mereka tidak dapat mengetahui masalah gaib. Yaitu masalah yang terjadi sesudah mereka tiada termasuk yang terjadi saat ini. Padahal banyak sekali masalah yang kini kita hadapi menunggu solusi yang pasti sudah tersedia dalam AlQuran.

AlQuran dapat dipahami oleh semua lapisan masyarakat dan dapat diyakini sebagai solusi manakala penafsiran sangat berhubungan dengan kehidupan yang sedang mereka hadapi.

Banyak ditemukan dalam AlQuran panggilan ilahi yang ditujukan kepada kelompok tertentu, namun demikian tidak berarti bahwa pembaca tidak terlibat. Karena AlQuran adalah bimbingan bagi para pembacanya menuju keadilan, kebenaran, kebahagiaan yang hakiki.

Beberapa ayat tentang munafiq, yahudi, musyrikin yang ditemukan para pembaca, manakala sudah ditafsirkan hendaklah tafsiran tersebut dirasakan dan dipahami sebagai taujih ilahi yang ditujukan kepada dirinya masing-masing.

Ketika seseorang membaca tafsir ayat-ayat tentang yahudi dan tidak dia pahami sebagai hudan bagi dirinya maka tafsiran tersebut belum mencapi sasaran. Namun, sebaliknya ketika dia membaca tafsir ayat-ayat tersebut tidak menyentuh makna yang berkitan dengan orang lain maka tafsir tersebut sangat memerhatikan sasaran namun lupa jalan yang ditempuhnya hingga ayat tersebut seakan-akan khusus untuk dirinya. Hal ini akan mempersempit makna yang sebenarnya sangat luas. Karena itu tafsir yang sebenarnya adalah tafsir ilmi dan amali yang dilakukan seorang sahabat AlQuran atau generasi qurani, yang dimanapun mereka berada manjadi teladan bagi umat. Jika tafsir yang sempurna seperti Rasulullah tidak akan ditemukan, maka kita berupaya untuk melakukannya secara kolektif sesuai kemampuan. Tentu hal ini sangat sulit untuk dicapai baik secara pribadi atau secara kelompok, namun bukan sesuatu yang mustahil karena Allah Mahakuasa dan akan tetap memelihara hakikat AlQuran di muka bumi ini hingga kiamat terjadi. Maka sejak sekarang marilah kita berjuang untuk menjadi tafsir yang diyakini, dipahami dan dirasakan umat yang bertemu dengan kita di mana pun kita berada.

ETIKA MENAFSIRKAN ALQURAN BAGI MASYARAKAT NON ARAB

  1. memerhatikan bahasa aslinya

Tafsir artinya menjelaskan. Tafsir AlQuran adalah upaya ulama untuk menjelaskan apa yang mereka pahami dari AlQuran kepada umat, baik secara lisan atau pun secar tulisan. Keaslian AlQuran senantiasa perlu terpelihara meski sudah ditafsirkan dengan menggunakan berbagai bahasa agar tetap diyakini bahwa AlQuran adalah satu-satunya kitab suci yang terpelihara kesuciannya dalam berbagai segi termasuk bahasanya, bacaannya dan penulisannya. Selain AlQuran, tiada satu kitab yang dinyatakan suci para penganutnya yang memiliki kesatuan bahasa dan kesatuan bacaan serta kesatuan cara penulisan yang tersebar di seluruh dunia.

Inilah AlQuran satu-satunya kitab suci yang terpelihara keasliannya. Karena itu, pada saat penafsiran AlQuran berlangsun sangat penting untuk memerhatikan bahasanya yang asli. Umpamanya dalam menafsirkan firman Allah dua ayat terakhir dari surat AlFatihah. Allah berfirman:

 

 

 

 

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. Al-Fatihah : 6-7)

Makna jalan yang lurus tidak dapat diganti menjadi Islam akan tetapi digunakan untuk menjelaskan tentang sifat-sifat Islam. Jika seorang mufassir dihadapan orang yang tidak mengetahui bahasa Arab berkata bahwa ﭨ ﭩ adalah Islam mungkin akan kebingungan, bahkan mungkin menimbulkan pertanyaan dalam benak mereka dengan mengatakan: bahasa apakah istilah “islam” itu?

Demikian pula dengan lafal ﭰ ﭱ   , tentu tidak dapat diterjemahkan dengan kata dengan yahudi, dan lafal ﭳ diartika dengan nashrani, sebab hal itu mungkin akan menimbulkan pertanyaan: kalau yang dimaksud dengan lafal ini adalah yahudi dan nashrani, mengapa tidak langsung saja disebut dengan jelas? Dan apa hubungannya dengan kita yang tinggal di tempat yang jauh dari Yahudi? Kita tidak kenal yahudi dan di lingkungan kita tidak ditemukan ada orang yang mengaku yahudi?

Memasukkan kata Yahudi kedalam tafsir ﭰ ﭱ   adalah merupakan bagian makna dari lafal tersebut. Adapun makna yang sebenarnya adalah lebih luas meliputi semua yang dimurkai meliputi musyrikin, yahudi, nashrani, atheis bahkan kelompok yang mengakhu beragam Islam namun kehidupan jauh dari ajaran AlQuran dan Sunnah.

  1. memerhatikan penulisannya

Setiap kali umat Islam membaca AlQuran dengan memerhatikan mushaf yang asli pasti melihat banyak huruf tertulis namun tidak dibaca, dan menemukan bacaan huruf yang tidak tertulis. Bagi mufassir yang terpanggil untuk membuktikan mukjizat AlQuran dalam berbagai segi tentu penulisan tersebut tidak mungkin dibiarkan berlalu tanpa ada upaya untuk maknanya dan menerangkannya untuk orang lain. Jika tidak sampai kepada rahasia makna dibalik penulisan, paling tidak, ada keterangan secara umum bahwa penulisan AlQuran adalah tauqifiy dari Allah Swt. Maka tidak diperkenankan bagi satu penerbit mencetak mushaf tanpa memerhatikan huruf-huruf AlQuran yang sesuai dengan yang beredar sejak zaman Rasul hingga saat ini sebagaimana yang tersebar di dunia Islam melalui para jamaah haji dan umroh dari terbtian mujammah mushaf Madinah.

Telah ditemukan kesalahpahaman terhadap istilah mad badal dalam bahasan ilmu tajwid yang sangat berpengaruh bagi keaslian AlQuran. Umpamanya bacaan panjang dalam ayat yang tercantum diatas, pada bacaan lafal الصراط tertulis ﭨ maka tanda baca kecil ini dipandang sebagai pengganti dari alif. Padahal tiada pebahasan dalam studi kebahasaan bahwa lafal الصرط berasal dari الصراط lalu diganti dengan alif kecil diatas. Tanda tersebut bukanlah pengganti akan tetapi hanya sekedar tanda baca diberikan belakangan sementara pada zaman dahulu tidak ada. Tanda baca tersebut sangat berguna untuk memberi kemudahan bagi masyarakat awam terhadap hakikat kitab suci ini.

Pada saat mufassir menerangkan makna ﭨ sangat penting baginya untuk menerangkan bahwa inilah cara penulisan aslinya. Tentu dalam penulisan tersebut mengandung makna meski belum ditemukan penjelasannya dari para ulama terdahulu.

  1. memilih irama yang menjadi tafsir bagi para pendengar

pada saat pembaca AlQuran dengan baik serta memilih irama yang sesuai dengan tuntutan makna, maka pada saat itu pula orang yang mendengarkannya akan mudah menjiwai AlQuran meski tidak sampai kepada rincian makna yang sangat mendalam.

Ada seorang jamaah shalat maghrib yang bertanya: Ustadz surat apakah yang dibaca imam tadi? Ustadz yang ditanya langsung menjawab: oh tadi surat Al A’raf. Lalu bertanya lagi: ayat berapa? Ustadz menjawab: sekitar ayat empat puluhan.

Setelah ustadz tersebut menjawab dia berbisik dalam hatinya: dia belum bisa bahasa Arab, mengapa bertanya? Mungkin dia dapat memahami ayat dengan bahasa qalbu karena tafsiran irama yang digunakan imam tadi sesuai dengan maknanya. Inilah tafsir ruhi yang langsung berhubungan dengan qalbu pembaca dan pendengarnya. Yaitu adanya kesatuan qalbu pembaca dengan pendengar sebagaimana tercantum dalam surat alAnfal ayat 2 Allah berfirman:

Sesungguhnya mukminun itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka (ayat-ayat itu) menambahkan kepada mereka keimanan dan hanya kepada Rabb-lah mereka bertawakal. (QS. Al-Anfal : 2)

Ketika kita memerhatikan formulasi kata dalam ayat ﭳ ﭴ     maka akan ditemukan bahwa ayat itu aktif memberi tambahan iman kepada mukminin pada saat ayat itu dibacakan dihadapan mereka. Lain halnya dengan terjemahan yang umum beredar dengan redaksi sebagai berikut:

1)   Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal[3],

2)   Sesungguhnya orang-orang beriman adalah mereka yang apabila desebut nama Allah, gemetar hatinya. Apabila dibacakan ayata-ayatNya kepaa mereka, bertambah kuat imannya, dan hanya kepada Tuhan mereka bertewakal[4].

3)   Orang-orang mukminin yang sebenarnya yaitu mereka yang gemetar hatinnya ketika mendengar nama Allah disebut. Dan iman mereka semakin kuat ketika AlQuran dibacakan kepada mereka. Orang mukmin yang sebenarnya bertawakal hanya kepada Tuhan mereka[5].

Pada tiga terjemahan ini tidak terlihat aktivitas ayat walau sangat jelas pengaruhnya bagi penambahan iman. Karena iman hanya bertambah, tanpa disebut apa atau siapa yang menambah. Berbeda dengan terjemahan harfiyah diatas, bahwa ayat itu jika dibacakan dekat orang beriman maka antara orang berimman dengan ayat terdapat interaksi yang sangat menakjubkan.

  1. Tafsir dengan Taqarrub

Sebagai pedoman hidup yang Allah turunkan bagi manusia, AlQuran tidak sama dengan pedoman kerja yang disusun manusia. Seseorang dapat menerangkan program kerja susunan manusia dan dapat dipahami kendatipun dia sendiri tidak melaksanakannya. Hal itu berbeda dengan AlQuran, karena AlQuran adalah alat komunikasi dengan Allah. Seseorang tidak akan dapat menjelaskan kepada yang lain hakikat AlQuran tanpa disertai dengan taqarrub kepadaNya. Sekedar keilmuan, AlQuran dapat diterangkan siapapun termasuk oleh orang yang tidak beriman kepadanya, namun AlQuran bukan buku ilmu pengetahuan akan tetapi petunjuk bagi semua manusia termasuk para ilmuwan. Orang yang senantias taqarrub kepada Allah akan mendapatkan bimbingan ilahi pada saat menyampaikan AlQuran kepada yang lainnya.

  1. Tafsir dengan amal harian.

AlQuran adalah kitab suci yang diturunkan untuk membina umat dalam masalah keyakinan, pemikiran, dan prilaku. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Seorang hamba yang luas wawasan tentang masalah agama tidak dapat dikatakan Islami sehingga aqidahnya terbina. Seorang hamba yang terbina aqidahnya belum dapat mencapai derajat yang islami sehingga pemikirannya tentang universalitas Islam dia miliki. Seorang hamba yang telah terbina aqidah dan pemikirannya baru dapat dikatakan Islami manakala dia sudah memberi keteladan dengan benar kepada masyarakat dalam segela aspek kehidupan, baik sebagai pribadi, anggota keluarga, anggota masyarakat sehingga kehidupannya bermanfaat bagi kepentingan masa depan keluarga dan umat. Untuk mencapai tingkatan ini diperlukan perjuangan yang berkesinambungan. Karena itu para sahabat Rasulullah dibina di lapangan hingga mereka menemukan berbagai masalah yang memerlukan solusi. Pada saat itulah aqidah mereka dihadapkan kepada ujian. Dan pada saat itu pula mereka mendapat bimbingan Rasulullah untuk berpikir mencari solusi lalu mereka hadapi semuanya dengan amal jihadi, baik jihad yang menuntut pengorbanan harta atau non harta.

Jika telah berlangsung pembinaan di lapangan hingga bertambah kuat aqidahnya, bertambah luas wawasannya, dan bertambah baik akhlaknya, maka itulah yang disebut dengan tafaqquh fiddin yang tercantum dalam firman Allah:

 

 

 

 

Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi. Mengapa seelompok dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk tafaqquh fiddin (memperdalam pengetahauan agama), dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila (kelompok tersebut) telah kembali kepadaa mereka agar mereka dapat menjaga dirinya.

Ayat ini menjelaskan pentingnya ada pembagian tugas bagi kaum mukminin. Tugas tersebut terbagi dua yaitu tugas menjaga kampung halaman dengan berbagai aktivitas yang mereka tekuni sesuai profesi masing-masing. Diatara ada yang menjadi petugas keamanan, pengusaha, pengajar, pelayan public dan sebagainya. Agar mereka tidak lalai maka diperintahkan kepada mereka untuk memperdalam agama atau tafaqquh fiddin secara bergiliran. Karena tidak disebutkan kemana mereka harus pergi namun disebutkan sasarannya, maka kepergian mereka beraneka ragam. Diantara mereka ada yang pergi untuk berperang, ada yang berda’wah mengunjungi masyarakat yang belum mengenal Islam, ada yang pergi mengunjugi Negara tentangga untuk menyampaikan seruan ilahi agar bertauhid, ada yang pergi untuk umroh dan sebagainya. Semua mereka akan belajar dari pengalaman bagaimana cara menerapakan Islam di lapangan sehingga mereka menapat masalah masalah yang memerlukan solusi. Mereka gali solusinya dari AlQuran dan Sunnah, maka pada saat itulah mereka temukan hakikat agama. Agama bukan sekedar semangat, bukan pula sekedar teori akan tetapi iman, ilmu dan amal. Agama adalah bermakna bagi pribadi dan masyarakat. Agama mengatur urusan komunikasi spiritual, intelektual, dan emosional. Diperjalanan mereka mendapat ni’mat sabar, ikhlas, istiqamah dan nilai-nilai lainnya.

Tanpa bimgingan deri lapangan banyak ditemukan orang berilmu membuat masyarakat kebingungan karena tidak dapat menyelesaikan masalah yang mereka hadapi bahkan terlihat sikap atau akhlaknya yang tidak sesuai dengan yang mereka harapkan.

lafal   tafaquh fiddin  agar mereka “tafaqquh fiddin” artinya memahami secara mendalam meliputi bimbngan ilahi dalam mengatasi masalah besar dan kecil baik yang berhubungan dengan masalah keyakinan, pemikiran dan prilaku, baik yang dilakukan idividu atau koletkif. Tafaqquh fiddin tidak dapat diartikan mendalami sebagian ilmu, apalagi mengambil spesifikasi ilmu dari agama. Sebab, jika hanya mengambil salah satu ilmu atau mengambil spesifikasi, tentu tidak mesti pergi. Untuk zaman sekarang seseorang dapat melakukannya hanya dengan duduk di depan satu alat elektronik. Bahkan bukan hanya satu ilmu akan tetapi melalui alat elektronik dapat diperdalam berbagai disiplin ilmu sekalipun sambil bertiduran.

Tafaqquh fiddin tidak terbatas kepada keilmuan akan tetapi, sesuai dengan kata الدين yang bersifat universal yang melibatkan qalbu, akal dan anggotan jasad.

Pada zaman Rasulullah, para sahabat bergiliran pergi bersama Rasulullah hingga mendapat bimbingan langsung dari beliau dalam memahami masalah-masalah yang mereka temukan di perjalanan hingga ditemukan pula solusinya.

Diantara mereka ada yang mendapat bimbingan nabawi dalam masalah politik, masalah shalat jama’, shalat qashar, masalah rumah tangga, pembinaan aqidah, cinta akhirat, istiqamah, dan lainnya. Semua itu mereka dapatkan dari perjalan terutama perjalanan bersama Rasulullah, seperti dalam perjalanan haji, umroh, perang, perjanjian damai di Hudaibiyah, dan masih banyak lagi perjalanan yang benar-benar menjadi lapangan untuk tafaqquh fiddin yang ditegaskan dalam ayat. Dengan perjanalan tersebut mereka mendapat tambahan wawasan yang dapat disapaikan kepada yang belum malakukan perjalanan. Ketika mereka kembali ke tempat masing-masing maka mereka merasa punya tanggung jawab hingga tidak akan membiarkan orang lain dalam keadaan lalai. Sebab, ilmu adalah amanah yang mesti disampaikan kepada yang lain. Tentu orang yang mendapat ilmu dari praktek di lapangan tidak sama dengan orang yang mendapat ilmu tanpa praktek. Karena itu semua mukmin diperintah untuk terjung ke lapangan. Jika satu bidang ilmu saja seperti kedokteran tidak akan dapat dimiliki hanya dengan membaca teori apalagi ilmu yang disebut dengan ilmu alddin yang meliputi amal qalbu, akal dan jasad.

Pemahaman tentang makna “tafaqquh fiddin” tidak ditemukan manakala membaca terjemahan ayat sebagai berikut:

1)   Tidak sepatutunya semua orang mukmin pergi ke medan perang. Mengapa sebagian orang di antara mereka tidak pergi untuk menperdalam pengetahuan agama dan memberi peringatan kepada kaum mereka apabila mereka telah kembali agar mereka apat menjaga diri?[6]

2)   Tidaklah patut semua orang mukmin pergi berperang, sehingga tidak ada yang mengurus urusan lain. Alangkah baiknya ada sebagian kaum mukmin yang pergi mendalami ilmu agama. Setelah mereka kembali ke kampung halamannya, mereka menyampaikan peringatan kapada kaumnya agar mereka takut kepada Allah[7].

Dari terjemah yang pertama dapat dipahami bahwa mukminin terbagi dua bagian. Sebagian dari mereka pergi untuk berperang dan sebagian lagi pergi untuk memperdalam ilmu pengetahuan. Orang yang memperdalam ilmu pengetahuan terkesan lebih utama dari pada orang yang berperang karena sekembalinya mereka dari perjalanan mencari ilmu akan menyampaikan peringatan kepada kaumnya. Sementara orang yang kembali dari perjalanan perang tidak memiliki ilmu pengetahuan yang dapat disampaikan kepada kaumnya.

Dari terjemah yang kedua dapat dipahami bahwa mukminin terbagi tiga kelompok. Pertama, kelompok yang pergi berperang; kedua, kelompok yang tinggal untuk mengurus urusan lain; dan ketiga, adalah kelompok yang pergi mendalami ilmu agama. Kelompok ketiga akan memberi peringatan kepada kaumnya pada saat kembali kepada mereka.

Terlepas dari terjemah yang manakah yang mendekati makna yang sebenarnya, dengan memerhatikan kedua terjemah ini mungkin seseorang bertanya: dari mana kata “perang” diambil, padahal ayat diatas tidak mengandung kata قتال ?

Jika kembali kepada hakikat terjemah maka akan lebih aman apabila tidak memasukan kata selain apa yang terdapat pada ayat atau makna tersirat pada ayat. Jika ditemukan kesulitan dalam memahamkan kepada pembaca maka dalam catatan kaki disampaikan keterangan. Sekiranya keterangan tersebut terbukti kurang tepat maka hal tersebut tidak akan memengaruhi makna ayat.

Jika tidak memasukan kata perang ke dalam ayat ini maka akan lahir fikih ayat sebagai berikut:

  • Allah Swt menetapkan bagi setiap manusia kemampuan yang berbeda.
  • Perbedaan tersebut mesti digunakan untuk kepentingan ibadah kepadaNya
  • Agar dapat beribadah dengan benar maka mereka diperintah untuk memahami aturan agama secara mendalam.
  • Kemampuan dan kesempatan mereka berbeda, karena itu hendaklah ditugaskan sebagian mereka untuk mendalami ilmu agama di medan juang. Yaitu membaca AlQuran dan Sunnah dalam kehidupan nyata. Hingga dapat dibuktikan kebenaran agama ini benar-benar sebagai solusi bagi semua problem umat. Karena dalam kehidupan nyata mereka akan mendapat berbagai masalah yang menuntut solusi. Dan Allah telah menyediakan semua solusi dalam AlQuran dan Sunnah. Hanya saja solusi tersebut hanya dapat ditemukan jika sudah diketahui probelmnya. Sedang problem di satu lingkungan mungkin dapat diketahui tanpa terjun ke lapangan. Sementara yang lainnya melanjutkan pekerjaan sesuai keahlian masing-masing yang sangat memerlukan bimbingan dari para ahli agama agar mereka bekerja dengan benar manakala mereka telah kembali. Para ahli agama tersebut memiliki keahlian yang berbeda tergantung perjalanan yang mereka tempuh saat tafqquh fiddin.
  1. memerhatikan berbagai qiraat

Sebagaimana tercantum dalam hadits Nabi bahwa diturunkannya AlQuran dengan sab’ati ahruf yang diaplikasikan sebagiannya maknaya dalam beberap qiraat. Hal tersebut antara lain untuk memberi kemudahan bagi umat.

Kemudahan tersebut tidak hanya berhubungan dengan masalah pengucapan huruf dan kalimat akan tetapi juga sangat berhubungan dengan memahami makna dan penerapan aturannya dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah bersabda:

أَنْ هَوِّنْ عَلَى أُمَّتِي

berilah kemudahan atas umatku

sekiranya penafsiran AlQuran sudah mencapai kepada berbagai qiraat sangat mungkin masalah umat yang berbeda akibat lingkungan dan perubahan kondisi tidak selalu menunggu fatwa yang terkadang menimbulkan kontroversi, akan tetapi dengan memerhatikan huruf AlQuran dan qiraatnya akan terjawab. Fatwa ulama selalu sangat diperlukan untuk hal-hal yang tidak tercantum nashnya dalam AlQuran. Apakah masalah perbedaan fikih yang saat ini selalu dinisbatkan kepada ulama tidak berdasarkan kepada nash yang pasti, sehingga diperlukan fatwa mereka?

Sebagian dari fatwa-fatwa mereka yang beragam ada yang benar-benar dari hasil ijtihad mereka dengan metodologi yang biasa mereka gunakan dengan hasil yang beragam, namun ada pula yang sebenarnya bukan hasil ijtihad akan tetapi dari nash alquran yang mengandung qiraat yang beragam. Sebagai sampel, antara dari fikih dari firman Allah yang berbunyi :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

Ayat ini menjelaskan tentang cara bersuci untuk melaksanakan shalat, serta pembatalannya. Dalam ayat ini terdapat dua lafal yang dibaca dengan dua bacaan, yaitu cara berwudhu antara lain dengan:

ﭟ yang memberi makna basuhlah kedua kakimu atau وَأَرْجُلِكُمْ yang memberi makna usaplah kedua kakimu.

Dalam kondisi yang berbeda ditemukan seseorang untuk menerapkan fikih hukum yang diambil dari dua bacaan diatas. Antara lain pada saat kurang air atau pada saat berada ditempat yang sangat dingin dan tidak mendapatkan air hangat. Maka dia merasa pelu mengambil fikih ayat dari bacaan وَأَرْجُلِكُمْyang berarti mengusap kedua kaki. Sementara pada saat lain dengan kondisi yang mendukung untuk membasuhnya maka hal tersebut tentu menuntut untuk membasuh kedua kaki terumata pada saat kondisi kaki memerlukan kebersihan.

serta beberapa hal yang membatalkan wudhu antara lain

ﭴ ﭵ ﭶyang berarti kamu saling bersentuhan dengan wanita yang biasa diartikan komunikasi khusus suami isteri atau أَو لَمَسْتُمُ ﭶ yang berarti kamu (laki-laki) menyentuh perempuan.

Pentingnya memelihara hubungan dengan Allah agar tidak terganggu akibat menyetuh wanita meski menyentuh isteri maka sangat penting untuk berwudhu. Dan pentingnya menjaga hubungan dengan keluarga pada saat beribadah jangan sampai membiarkan anggota keluarga terlantar. Hal itu terjadi dalam kondisi tertentu seperti:

Seorang pria selesai berwudhu untuk melaksanakan shalat, lalu isterinya pamit dengan bersentuhan tangan bahkan pipi. Kondisi ini sangat mungkin mengganggu dan dapat mengurangi ni’matnya khusyu dalam melaksanakan shalat sekiranya tidak memperbaharui wudhu, karena penampilan isterinya yang menarik menjelang bepergian menuju tempat yang terhormat. Kondisi seperti ini menuntut pria tersebut untuk berwudhu agar hubungan dengan Allah tetap dicapai dengan baik dan khusyu.

Sebaliknya, ketika seorang pria membawa isterinya tawaf untuk pertama kalinya. Kondisi tempat tawaf sedang berdesakan yang menuntut kedekatan suami dengan isteri agar tidak terpisah, bahkan dalam kondisi tertentu suami dituntut utuk memegang isterinya dengan erat. Sekiranya bersentuhan itu selalu mengharuskan untuk berwudhu tentu tawaf tersebut tidak dapat dilakukan. Karena itu, bersentuhan laki-laki perempuan dapat dikatakan membatalkan wudhu dan juga dapat dikatakan tidak membatalkan wudhu.

Dua hal yang berlawanan ini biasanya dihubungkan kepada madzhab fikih. Menurut satu madzhab bahwa bersentuhan tersebut dapat membatalakan wudhu sementara menurut madzhab lainnya tidak.

Sungguh hal ini termasuk masalah prinsip, sebab berkaitan dengan penentuan sah dan tidaknya beribadah, terutama terkait dengan masalah ibadah yang hanya wajib dilakukan satu kali selama hidup. Apakah masalah prinsip ini dapat ditentukan dengan madzhab fikih? Sungguh hal tersebut dikhawatirkan dapat membawa kepada penyimpangan pandangan tentang sumber syariah. Apakah apakah madzhab dapat dipandang sebagai sumber hukum?

Setelah memerhatikan ayat dengan berbagai qiraat maka hal tersebut dapat dijawab, bahwa bersentuhan adalah batal menurut alquran dengan qiraat Hamzah dan AlKisai, sementara menurut qiraat lainnya tidak batal.

Jadi, keduanya adalah berlandaskan kepada nash yang qath’iy yaitu teks atau dalilalQuran yang pasti benarnya..

Jika mempelajari AlQuran hanya dengan memerhatikan terjemahannya maka hakikat makna yang terkandung dalam ayat diatas tidak dapat dicapai.

Kendatipun telah dikemukakan beberapa contoh diatas, tetap tidak dapat mewakili keterangan yang sangat diperlukan untuk membuktikan bahwa terjemah itu bukan AlQuran, karena masih banyak bukti lainnya, namun demikian diharapkan menjadi motifasi untuk menggali AlQuran dengan memerhatikan bahasa aslinya yaitu sesuai dengan diterima Rasulullah baik bacaannya, tulisannya, bahasanya dan lainnya.

 

  • Siapapun yang membaca terjemah AlQuran tidak termasuk membaca AlQuran.
  • Siapapun yang memahami terjemah AlQuran belum dapat dikatakan memahami AlQuran hingga dia dapat memahami bahasa aslinya
  • Siapapun yang menafsirkan terjemah AlQuran belum dapat dikatakan menafsirkan AlQuran hingga dia mengetahui ilmu tafsir yang berhubungan dengan mukjizat AlQuran
  • Tilawah AlQuran memberi tambahan iman kepada kaum mukminin. Yang dimaksud dengan tilawah disini hanyalah tilawah pada bahasa aslinya. Adapun membaca terjemah tidak termasuk tilawah ayat alQuran.
  • Majlis ta’lim yang mengkaji terjemah AlQuran bukan majlis ta’lim AlQuran, namun demikian perlu didukung dan dilengkapi dengan kajian yang sebenarnya

Penafsiran AlQuran hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk menafsirkan AlQuran seperti ilmu bahasa yang meliputi grammar, ilmu sastra, ilmu jiwa bahasa, ilmu qiraat, dan sebagainya.

 

[1] Para penerjemah lain meletakan kata AlQuran pada tempat AlKitab baik dalam surat 2:23 ataupun dalam surat 11: 13. Padahal kedua surat ini dari awal surat sampai ayat tersebut tidak menyebut AlQuran melainkan AlKitab. Kendatipun yang dimaksud dengan AlKitab disini adalah sama dengan AlQuran namun Allah menggunakan lafal AlQuran untuk memberi makna kepada masalah bacaan lebih dengan dari pada memberi makna tulisan. Demikian pula sebaliknya, jika Allah menggunakan lafal AlKitab maka makna yang mengarahkan pentingnya perhatian kepada tulisan sangat ditekankan melebihi lainnya. Surat AlBaqarah dan Surat Hud sama-sama diawali dengan menampilkan lafal kitab.

[2] Beberapa terjemahan memberi makna dengan kalimatat “Kitab (Al Qur’an) ini”. Mengapa isyarat untuk yang jauh diartikan dengan kata “ini”?

[3] Terjemah Depag

[4] Terjemah Kontemporer

[5] Tarjamah Tafsiriyah

[6] Terjemah kontemporer

[7] Tarjamah Tafsiriyah

Leave a Reply