Badal Haji Tidak Pindahkan Pahala

Badal Haji Tidak Pindahkan Pahala

Ibadah haji hanya wajib atas orang yang mampu namun sering terdengar berita adanya orang beribadah haji atas nama orang lain. Ini dari satu segi, dari segi lain, dalam syariat islam tidak ada ajaran perpindahan pahala tapi mengapa ada praktek melaksanakan ibadah haji atas nama orang lain yang kerap disebut badal haji? Bukankah hal itu menunjukkan adanya pindah pahala atau amal, padahal Islam tidak mengenal pindah amal ?

Pertanyaan.

Darimana dapat kesimpulan adanya pindah pahala pada  badal haji ?

Pembahasan:

Sering muncul masalah akibat pemahaman yang kurang teliti terhadap nash dari Al-Quran atau hadis. Terkadang muncul vonis yang mengatakan bahwa hadis ini walaupun shahih tapi berlawanan dengan Al-Quran. Dengan pernyataan ini maka muncul statemen bahwa hadis tersebut shahih sanadnya tapi dhoif matannya. mengapa semudah itu diambil keputusan? Tidakkah lebih baik untuk dikaji kembali pemahamannya? Boleh jadi yang berlawanan bukan hadis dengan Al-Quran akan tetapi pemahaman terhadap hadis berlawanan dengan pemahaman terhadap Al-Quran. Karena salah satu atau kedua pemahamannya kurang tepat.

Sebelum masuk kepada pembahasan mengapa ada istilah badal haji atau niat ibadah haji atas nama orang lain, perlu dikaji terlebih dahulu apa keistimewaan masing-masing rukun  Islam yang lima.

Allah yang telah menciptakan manusia Maha Mengetahui semua keperluan dan kemampuan mereka. Karena itu Dia telah memilih bagi hamba-hamban-Nya pedoman hidup  yang tepat dan sesuai dengan kemampuan serta keperluan mereka. Pedoman tersebut  mengatur hubungan manusia dengan Alah dan juga hubungan antar sesame manusia. Alam dan semua isinya telah Dia sediakan sebagai  bekal dan sarana untuk mewujudkan semua aturan tersebut dalam kehidupan ini.  Aturan itulah yang disebut dengan dinul Islam.

Ketika Rasulullah saw ditanya Jibril tentang Islam maka beliau menjawab:

يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلَامِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لا إِلَهَ إِلاّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَتُقِيمَ الصَّلاةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلاً (صحيح مسلم 1 / 37)

Hendaklah kamu bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad pesuruh-Nya, menegakan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan shaum bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji bila kamu mampu  dijalannya. (HR. Muslim)

 

Para ulama telah sepakat untuk menetapkan bahwa kelima hal yang tercantum dalam hadits diatas adalah rukun Islam. Kelima rukun tersebut masing-masing memiliki karakter dan keistimewaan, baik dalam hal yang berhubungan dengan pelaku, tempat ataupun waktu.

Dua kalimat syahadat.

Seluruh ulama ahlussunnah wal jamaah sepakat menyatakan bahwa dua kalimat syahadat adalah rukun Islam yang pertama. Rukun ini dapat diucapkan oleh siapapun dan dalam kondisi bagaimanapun, maka rukun yang pertama ini dapat dilakukan oleh semua manusia. Dan ini adalah sabagai password untuk membuka jalan menuju amal yang Islami. Sebaik apapun amal yang dilakukan manusia tanpa syahadat tidak akan bernilai dihadapan Allah. Dan ini langkah awal untuk melakukan rukun-rukun berikutnya. Semua manusia diperintah untuk mangucapkannya. Dan barang siapa yang tidak mau mengucapkannya maka dinyatakan sebagai penentang agama yang haq dan tidak boleh dibiarkan. Sebab disamping dia terancam dengan kerugian yang abadi juga akan merugikan yang lain yang akan menimbulkan kehidupan yang berlawanan arah dan tujuan yang mengakibatkan sering terjadinya kekacauan dan permusuhan.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ فَإِذَا قَالُوهَا وَصَلَّوْا صَلاتَنَا وَاسْتَقْبَلُوا قِبْلَتَنَا وَذَبَحُوا ذَبِيحَتَنَا فَقَدْ حَرُمَتْ عَلَيْنَا دِمَاؤُهُمْ وَأَمْوَالُهُمْ إِلاَّ بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ   (صحيح البخاري 9/ 113 ، صحيح مسلم 1 / 52)

Dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah saw bersabda: aku diperintah memerangi manusia hingga mereka mengatakan “tiada tuhan selain Allah”. Bila mereka telah mengatakannya, dan mereka melakukan shalat seperti shalat kita, menghadap kepada kiblat kita, menyembelih binatang dengan mengikuti aturan kita, maka haram atas kita darah mereka dan harta mereka kecuali sesuai dengan haknya dan hanya Allah lah yang memperhitungkannya. (HR. Bukhori dan Muslim)

Sesungguhnya mengucapkan dua kalimat syahadat sangat ringan. Siapapun dapat melakukannya, maka tidak ada alasan bagi siapapun untuk meninggalkannya atau meminta keringanan lain apalagi mewakilkan kepada yang lain. Namun demikian, ternyata banyak sekali manusia yang menolak untuk mengucapkannya. Hanya satu pertiga saja dari penduduk dunia yang mau mengucapkannya.

 

Shalat.  

Dengan ungkapan syahadat yang dilandaskan kepada keyakinan maka seorang hamba mendapat kesempatan untuk membangun kehidupan yang Islami. Syahadat sebagai landasan bagi bangunan Islam dan shalat sebagai tiangnya. Shalat rukun Islam kedua yang dinyatakan sebagai tiang agama. Meski sangat berkaitan dengan pergerakan anggota badan namun ibadah ini dapat dilaksanakan oleh orang yang sangat lemah, sakit atau cacat fisik, karena aturan shalat telah disesuaikan dengan kemampuan setiap manusia dan kondisi fisik masing-masing. Sehingga tiada alasan bagi seorangpun untuk meninnggalkannya selain untuk sementara bagi wanita yang sedang haid atau nifas. Allah telah memerintahkan mereka untuk meninggalkan shalat. Artinya meninggalkan shalat bagi mereka termasuk melaksanakan perintah-Nya. Karena haid dan nifas adalah peristiwa yang terjadi secara rutin yang telah Allah tetapkan. Karena itu Allah tidak mewajibkan mereka untuk mengqodlo shalat yang tertinggal sekalipun mereka meninggalkannya beberapa waktu dan rutin setiap bulan.  Aisyah berkata:

كُنَّا نَحِيضُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ نَطْهُرُ فَيَأْمُرُنَا بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلا يَأْمُرُنَا بِقَضَاءِ الصَّلاةِ )أخرجه مسلم  في صحيحه  ج1/ص265/ح335. و البخاري في صحيحه  ج1/ص122/ح315(

kami biasa haid pada masa Rasulullah masih hidup kemudian kami bersuci dan beliau menyuruh kami untuk mengqodho shaum dan tidak menyuruh kami untuk mengqodho shalat. (HR. Bukhori dan Muslim)

 

Zakat.

Menyalurkan harta yang digunakan demi kepentingan masyarkat luas terutama orang misikin adalah merupakan amal perbuatan yang terpuji menurut semua agama. Namun demikian bagaimanapun banyak harta seseorang yang dikeluarkan untuk fakir miskin tidak akan termasuk amal Islami bila tidak disertai dengan niat yang berlandasakan kepada syahadat disertai dengan amal ibadah harian yaitu shalat. Zakat yang berarti kesucian  dan kebersihan merupakan amal ibadah yang sangat diperlukan semua mukmin. Bangunan yang didirikan diatas lahan yang luas dengan pilar-pilar yang kuat baru akan berfungsi bila bersih dari berbagai kotoran. Shalat yang merupakan pilar bagi bangunan yang didirikan diatas landasan iman tidak akan menjadi tempat yang aman bila tidak dibersihkan dengan cara menunaikan zakat. Sebab mereka semua sangat berharap agar dirinya bersih dan suci. Namun demikian rukun yang ketiga ini hanya biasa dinikmati oleh sebagian dari mukminin yaitu mereka yang mendapat amanat harta. Sementara mukmin yang miskin atau faqir hanya menjadi sasaran atau penerima zakat. Dan Allah Maha Mengetahui bahwa setiap mukmin pasti akan berupaya untuk berlomba meraih kebaikan dan kebersihan jiwa, karena itu langkah untuk mencapai kesucian dan kebersihan jiwa tidak hanya didapat dengan menunaikan zakat semata akan tetapi Allah sediakan juga jalan lain untuk mencuci diri dan membersihkan jiwa seperti dengan infaq sunnah, shadaqah yang tidak ditentukan berdasar kepada jumlah penghasilan. Demikian pula halnya dengan taubat, dan ibadah lainnya yang dapat membersihkan jiwa atau tazkiyatunnafs.

 

Shaum.

Shaum adalah rukun yang keempat dan hanya dapat dilaksanakan  satu bulan dalam satu tahun. Bila tertinggal karena sakit atau perjalanan pada waktu yang telah ditetapkan maka diperbolehkan untuk dilakukannya pada waktu lain yang disebut dengan qodlo. Waktu untuk melakukan qodlo sangat luas mencapai sebelas bulan. Dan rukun ini dapat dilakukan disetiap tempat. Namun bila tidak mampu melakukan qodho maka dapat diganti dengan fidyah. Dan fidyah ini sangat erat hubungannya dengan masalah harta. Karena itu bila seseorang mati dan meninggalkan utang shaum maka shaum tersebut dapat dibayar oleh walinya, sebagaimana seseorang meninggal dalam keadaan masih punya kewajiaban membayar utang kepada seseorang maka utang tersebut dapat dibayar oleh orang lain.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ [1]    

Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah saw bersabda: barang siapa yang mati sedang wajib atasnya (qodlo) shaum, maka walinya melakukan shaum atas namanya.(HR. Bukhori)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أَنَّ امْرَأَةً أَتَتْ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ، فَقَالَ: «أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَيْهَا دَيْنٌ أَكُنْتِ تَقْضِينَهُ؟» قَالَتْ: نَعَمْ، قَالَ: «فَدَيْنُ اللهِ أَحَقُّ بِالْقَضَاءِ» (صحيح مسلم 2/ 804)

Dari Ibnu Abas ra, bahwa seorang wanita datang menghadap kepada Rasulullah Saw lalu berkata: sesungguhnya ibuku telah wafat sedang dia punya kewajiban ibadan shuam satu bulan. Maka beliau bersabda: bukankah kalau dia punya kewajiban bayar utang, kamu yang membayarnya? Wanita berkata: ya, beliau bersabda: maka utang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar. (HR. Muslim)

Karena ketinggalan ibadah shaum itu ada kaitannya dengan masalah harta yaitu fidyah, dan kewajiban membayar utang berupa harta dapat dilakukan orang lain maka demikian pula halnya dengan shaum bila tertinggal hingga mati maka shaum tersebut dapat dilakukan orang lain. Jika anda bertanya mengapa tidak langsung dengan membayar fidyah? Jawabannya adalah: Al-Quran dengan jelas menyatakan bahwa orang yang tidak mampu mengqodho dengan shaum pada hari lain hendaklah dengan membayar fidyah. Artinya membayar fidyah itu wajib atas orang yang tidak memungkinkan untuk mengqodho shaum. Perlu diingat bahwa hadis ini tidak berbicara tentang nilai ibadah malainkan berbicara tentang terpenuhi dan tidakanya kewajiban. Dengan ini, maka si mayit akan bebas dari pertanggung jawaban tentang shaum yang tertinggal sementara pahala shaum tetap bagi pelakuknya sebagaimana orang membayar utang saudaranya, maka pahala orang yang menolong tidak akan pindah kepada orang yang ditolong. Demikianlah, Islam tidak mengenal pindah pahala atau pindah dosa.

فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (يس:54)

Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.

Adapun bagi yang melakukan qodho atas nama orang lain maka disamping dia telah beribadah shaum yang akan mendapat balasan khusus dari Allah ,juga dia telah menolong keluarganya dengan membebaskannya dari beban utang kepada Allah.

Bila utang shaum akibat tidak sempat dibayar karena terburu wafat dapat dibayar oleh orang lain, bagaimana dengan masalah ibadah haji yang merupakan ibadah khusus pada waktu tertentu di tempat tertentu dengan memerlukan biaya yang banyak dan kesehatan fisik?

 

Haji.

Haji adalah satu rukun Islam yang sangat berbeda dari rukun-rukun lainnya, baik dari segi waktu, tempat, atau pelakunya.. Ibadah haji hanya dapat dilakukan ditanah suci pada bulan zulhijah dan sangat berkaitan dengan biaya dan kesehatan fisik. Karena itu ibadah haji adalah ibadah yang paling banyak menghadapi masalah. Dan masalah-masalah tersebut sering bermunculan diperjalanan yang tidak dialamai kecuali oleh para pelakunya. Dan  perbandingan orang yang beribadah haji dengan yang tidak, sesuai dengan kesepakatan Negara-negara muslimin adalah satu berbanding seribu.

Kelima rukun diatas sangat berkatian erat antara satu dengan lainnya. Bila salah satunya disepelekan maka yang lainnya pun akan terkena. Sementara untuk ibadah haji ini hanya sedikit sekali yang mendapat  kesempatan. Dan rukun Islam yang lima berlaku untuk semua lapisan masyarakat, tidak ada perbedaan antara orang miskin dengan orang kaya; atau sakit dan sehat. Wajib atas semua hamba melaksanakan kelima rukun tersebut. Terutama bila kita perhatikan fiirman Allah:

الحج: ٢٧  

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,

Perlu kiranya kita perhatikan beberapa isyarat yang terkandung dalam ayat ini antara lain:

  1. Panggilan ini ditujukan kepada seluruh umat manusia.
  2. Karena pentingnya melaksanakan kewajiban ini maka mereka pun menyambutnya dengan mencurahkan segala upaya.
  3. Diantara mereka ada yang berjalan kaki karena tidak ada kendaraan. Hal ini menunjukkan bahwa orang miskin pun tetap berkewajiban untuk melakukan ibadah haji tanpa kecuali.
  4. Dan diantara mereka ada yang mengendarai unta kurus, hal ini menggambarkan bahwa adanya berbagai kesulitan dalam menempuh perjalanan haji.
  5. Kaum mukminin berdatangan dari berbagai penjuru. Hal ini menunjukkan bahwa jarak jauh tidak dapat dijadikan alasan untuk meninggalkannya. Dan terbukti, dari Indonesia terus berlomba untuk menunaikan ibadah ini, meski harus mengorbankan segalanya.

Dengan meningkatnya jumlah manusia saat ini beberapa kali lipat dari jumlah umat yang hidup pada zaman nabi Ibrahim, maka perjalanan ibadah haji ini sangat memerlukan aturan yang berbeda dari ibadah lainnya. Akhirnya, hanya satu berbanding seribu dari jumlah kaum muslimin yang dapat melakukan ibadah ini. Sementara jumlah yang lebih besar hanya mendapat angan-angan hingga datang ajal menjemput mereka. Hal itu terjadi karena berbagai faktor antara lain karena:

  • kondisi biaya yang belum cukup
  • kesehatan yang tidak mendukung
  • antrian yang belum tiba hingga di beberapa daerah jika daftar tahun ini harus menunggu lebih dari sepuluh tahun
  • perubahan kuota haji karena ada ketetapan dari pihak pemerintah Saudi sehubungan dengan renovasi masjidilharam
  • dan penyebab lainnya

sekiranya mereka tidak sempat melakukan ibadah haji dengan kondisi tersebut, apakah mereka termasuk kepada golongan yang merugi ?. Apakah mereka dibiarkan mati berutang karena tidak sempat mengorbankan hartanya untuk melakukan rukun yang kelima itu? Allah Maha Mengetahui akan keadaan semua hamba-Nya dan Mahaadil dalam menetapkan nilai bagi amal hamba-Nya.

Karena itu orang yang tidak sempat melakukan ibadah haji baik disebabkan kondisi fisik yang tidak mengizinkan, atau biaya yang belum cukup atau karena belum mendapat quota, maka Allah telah memberikan bagi mereka jalan lain yang dapat memenuhi kewajiban ini.   Yaitu  dibolehkan mewakilkan ibadah haji kepada orang lain yang sudah terpenuhi syaratnya, antara lain: sudah beribadah haji untuk dirinya, mengetahui manasik yang sebenarnya, diketahui rasa tanggung jawabnya dan sebagainya. Dan hal ini  tidak berarti  bahwa ibadah yang lainnya pun dibolehkan untuk diwakilkan. Karena masing-masing rukun memiliki keistimewaan sebagaiana tersebut diatas.

Kendatipun hadits tentang bolehnya mewakilkan ibadah haji kepada orang lain begitu jelas namun kenyataannya hal ini telah menjadi bahan diskusi yang berkepanjangan yang tidak sedikit telah menimbulkan sikap tafrith dan ifrath, yaitu sikap berlebihan kebelakang dan berlebihan kedepan. Berlebihan dalam menerima tanpa mengkaji secara mendalam sehingga perktik mewakilkan ibadah haji ini dianggap sesuatu yang ringan, ini dari satu pihak dan dari pihak lain ada yang berlebihan juga dengan menolak sehingga hadis yang shohih dianggap dhoif.  Hal itu terjadi akibat kurangnya pemahaman terhadap permasalahan yang sebenarnya. Sikap tafrith telah menjadikan kebolehan ini sebagai ajang bisnis yang akhirnya ibadah haji menjadi sesuatu yang sangat sepele. Sementara sikap ifrath telah membuat seseorang berani memvonis hadits yang shahih dipandangnya sebagai hadits yang berlawanan dengan Al-Quran. Dan berani memvonis sebagai hadits dhoif walaupun tidak diragukan validitas keshahihannya. Kedua sikap ini tidak boleh dibiarkan terus berkepanjangan, karena keduanya akan mengganggu hakikat ajaran Islam. Yang pertama meremehkan satu ajaran Islam, ajaran ini dipandang ringan dan yang kedua akan dapat menghapuskannya.

Karena itu sangat penting kiranya kita kaji kembali dengan lebih teliti hadits-hadits yang berhubungan dengan praktek mewakilkan ibadah ini dari berbagai segi, antara lain:.

 a) ibadah haji atas nama orang yang sudah lanjut usia

عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَرْدَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفَضْلَ بْنَ عَبَّاسٍ يَوْمَ النَّحْرِ خَلْفَهُ عَلَى عَجُزِ رَاحِلَتِهِ وَكَانَ الْفَضْلُ رَجُلاً وَضِيئًا فَوَقَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلنَّاسِ يُفْتِيهِمْ وَأَقْبَلَتْ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ وَضِيئَةٌ تَسْتَفْتِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَطَفِقَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَأَعْجَبَهُ حُسْنُهَا فَالْتَفَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا فَأَخْلَفَ بِيَدِهِ فَأَخَذَ بِذَقَنِ الْفَضْلِ فَعَدَلَ وَجْهَهُ عَنْ النَّظَرِ إِلَيْهَا فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ فِي الْحَجِّ عَلَى عِبَادِهِ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْتَوِيَ عَلَى الرَّاحِلَةِ فَهَلْ يَقْضِي عَنْهُ أَنْ أَحُجَّ عَنْهُ قَالَ  نَعَمْ   (صحيح البخاري 8/ 51)

Abdullah bin Abbas berkata: pada hari raya qurban Rasulullah saw menyuruh al Fadhl bin Abas  mengikutinya dari belakang kendaraan beliau yang lemah. Dan al Fadhla adalah seorang shahabat yang rupawan. Maka Nabi berdiri diahadapan para jamaah menyampaikan fatwanya kepada mereka. dan datanglah seorang wanita cantik dari Khots’am untuk memohon fatwa kepada Rasulullah saw. Maka al Fadhl pun melihat kecantikannya dan mengaguminya. Lalu Rasulullah saw memegang dagu al Fadhl dari belakang dan beliau palingkan wajahnya dari pandangan tersebut. Perempuan itu berkata: wahai Rasulullah! Kewajiban haji yang telah Allah tetapkann atas hamba-hhamba-Nya telah sampai kepada ayahku. Sedang dia adalah orang tua yang tidak mamapu duduk tetap di atas kendaraan. Apakah boleh aku berhaji atas nama dia? Beliau bersabda: ya .  (HR. Bukhori)

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ الفَضْلُ رَدِيفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَاءَتِ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ، فَجَعَلَ الفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ، فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْرِفُ وَجْهَ الفَضْلِ إِلَى الشِّقِّ الآخَرِ، فَقَالَتْ: إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لاَ يَثْبُتُ عَلَى الرَّاحِلَةِ، أَفَأَحُجُّ عَنْهُ؟ قَالَ: «نَعَمْ» وَذَلِكَ فِي حَجَّةِ الوَدَاعِ   (  صحيح البخاري 3/ 18)

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ قَالَ: كَانَ الْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ رَدِيفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَاءَتْهُ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ تَسْتَفْتِيهِ، فَجَعَلَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ، فَجَعَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْرِفُ وَجْهَ الْفَضْلِ إِلَى الشِّقِّ الآخَرِ، قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ فَرِيضَةَ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ، أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَثْبُتَ عَلَى الرَّاحِلَةِ، أَفَأَحُجُّ عَنْهُ؟ قَالَ: «نَعَمْ»، وَذَلِكَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ   (صحيح مسلم 2/ 973)

Dari Ibnu Abas dari al Fadhal bahwasanya dia menemani Nabi saw pada waktu haji wada’. Datanglah seorang wanita dari Khots’am memohon fatwa kepada Rasulullah Saw, ketika itu Fadhal melihat wanita tersebut demikian pula wanita melihatnya. Lalu Rasulullah memalingkan wajah Fadhal ke arah lain. maka wanita ituu berkata: sesungguhnya ketetapan Allah tentang fardhunya haji atas hamba-hamba-Nya telah sampai kepada ayahku yang sudah lanjut usia, dia tidak mampu menaiki kendaraan,   Apakah boleh aku berniat ibadah haji atas namanya? Beliau menjawab: ya. Peristiwa ini terjadi pada haji wada’  (HR. Bukhori dan Muslim)

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari  kedua hadits diatas antara lain:

  1. Seorang wanita boleh bertanya kepada seorang mufti peria langsung berhadapan tanpa perantara.
  2. Wajah wanita tersebut dalam hadis terlihat dengan jelas karena  dia tidak memakai cadar (niqab), hal ini menunjukan bahwa wajah tidak termasuk aurat.
  3. Sekiranya wanita tersebut menutup wajah maka al Fadhal tidak akan tergiur melahatnya, karena itu menutup wajah dalam kondisi tertentu dapat menjaga fitnah. Namun bukan merupakan kewajiban.
  4. Pertanyaan tentang ibadah haji atas nama orang lain terjadi pada akhir hayat Rasulullah saw. Yaitu ketika Rasulullah saw melakukan haji wada’ yang tidak lama setelah itu belaiu kemabali menuju keharibaan yang Mahasuci. Karena itu hukum yang terkandung didalamnya tidak dapat dihapus dengan hukum-hukum yang turun sebelumnya.
  5. Wanita dapat menunaikan ibadah haji atas nama seorang pria yang tidak mampu melakukannya. Hal ini memberi makna bahwa pelaksanaan ibadah hari atas nama orang lain tidak mesti dengan jenis yang sama meski pada  prakteknya ada perbedaan antara laki-laki dengan perempuan. Sebab yang menjadi perhatian utama adalah terpenuhinya rukun Islam yang kelima.
  6. Seorang anak diperbolehkan berniat ibadah haji atas nama orang tuanya yang tidak mampu sekalipun masih hidup.  Ketidak mampuan tersebut bagi yang masih hidup terbatas kepada masalah fisik karena disebutkan dengan jelas yaitu tidak mampu menaiki kendaraaan.
  7. Rasulullah tidak bertanya tentang keadaan orang tuanya, apakah dia orang kaya atau kah miskin, apakah dia sudah berniat untuk melakukan ibadah haji ataukah belum. Hal ini memberi isyarat bahwa niat dari orang yang dihajikan bukan merupakan syarat sahnya menghajikan. Hanya saja beliau mengetahui bahwa ayah dari wanita itu belum ibadah haji.
  8. Wanita tersebut berniat ibadah haji atas nama orang tuanya semasa hidupnya. Hal ini memberi isyarat bahwa berniat haji atas nama orang lain yang tidak mampu dapat dilakukan kendatipun orang tersebut masih hidup.
  9. wanita itu mewakili ibadah haji ayahnya. Ini memberi isyarat bahwa wanita boleh mewakili pria atau sebaliknya pria mewakili wanita, walaupun ibadah haji wanita sedikit berbeda dengan ibadah haji pria seperti dalam masalah pakaian ihram dan larangan-larangan yang mesti dijaganya.

 

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ مِنْ خَثْعَمَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ أَبِي شَيْخٌ كَبِيرٌ لا يَسْتَطِيعُ الرُّكُوبَ وَأَدْرَكَتْهُ فَرِيضَةُ اللهِ فِي الْحَجِّ فَهَلْ يُجْزِئُ أَنْ أَحُجَّ عَنْهُ؟ قَالَ: «أَنْتَ أَكْبَرُ وَلَدِهِ؟» قَالَ: نَعَمْ قَالَ: «أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ عَلَيْهِ دَيْنٌ أَكُنْتَ تَقْضِيهِ؟» قَالَ: نَعَمْ قَالَ: «فَحُجَّ عَنْهُ»  (السنن الكبرى للنسائي 4/ 12)

Dari Abdullah bin Zubair berkata: telah datang kepada Rasulullah saw seorang laki-laki, ia berkata: sesungguhnya ayahku sudah lanjut usia tidak mampu menaiki kendaraan sedang telah terkena wajib haji, apakah berguna bila aku berniat haji atas nama dia? Beliau bersabda: apakah kamu anaknya yang terbesar? Dia berkata: betul. Beliau bersabda: apa pandanganmu bila dia berutang, bukankah kamu yang membayarnya? Dia berkata: ya. Beliau bersabda: lakukanlah haji atas namanya! (HR an Nasai)

Pada hadits ini terdapat penekanan tentang tanggungjawab sebagai seorang anak terbesar agar memperhatikan kewajiban orang tua, baik yang berkaitan dengan sesama manusia seperti utang harta langsung atau berkaitan dengan kewajibah kepada Allah seperti ibadah haji yang diumpamakan dengan utang. Dan utang ibadah haji termasuk  yang mesti dibayar berlandaskan kepada perintah Rasulullah saw.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَبِي أَدْرَكَهُ الْحَجُّ وَهُوَ شَيْخٌ كَبِيرٌ، لَا يَثْبُتُ عَلَى رَاحِلَتِهِ، فَإِنْ شَدَدْتُهُ خَشِيتُ أَنْ يَمُوتَ، أَفَأَحُجُّ عَنْهُ؟ قَالَ: «أَفَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ عَلَيْهِ دَيْنٌ فَقَضَيْتَهُ، أَكَانَ مُجْزِئًا؟» قَالَ: نَعَمْ قَالَ: «فَحُجَّ عَنْ أَبِيكَ» (سنن النسائي 8 / 229)

Dari Abdullah bin Abbas bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi saw, sesungguhnya ayahku telah wajib haji namun dia sudah lanjut usia tidak dapat menaiki kendaraan, bila aku paksakan takut dia mati (diperjalanan). Apakah boleh aku berhaji atas namannya? Beliau bersabda: bagamana pandanganmu bila dia berutang dan kamu membayarnya, apakah (kewajibannya) terpenuhi? Ia berkata: ya. Beliau bersabda: lakukanlah ibadah haji atas nama ayahmu!. (HR Nasai)[2]

 

Beberapa hadits diatas menjelaskan disyariatkannya ibadah haji atas nama orang lain yang masih hidup namun berhalangan karena sudah lanjut usia. Karena mereka masih hidup tentu keinginan untuk melakukan haji masih tertanam dalam hatinya hanya saja mereka tidak mampu melakukannya.

Lalu bagaimana berniat ibadah haji atas nama orang yang sudah meninggal, maka jawabannya dapat kita temukan pada hadits-hadis berikut ini.

b) ibadah haji atas nama orang yang sudah meninggal

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ، جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ، أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ: «نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا، أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَةً؟ اقْضُوا اللَّهَ فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالوَفَاءِ» (صحيح البخاري 3 / 18)

Dari Ibnu Abas bahwasanya seorang perempuan dari Juhainah datang kepada Nabi saw lalu berkata: sesungguhnya ibuku bernadzar untuk ibadah haji lalu wafat sebelum menunaikan ibadah haji. Apakah boleh aku berhaji atas namanya? Beliau bersabda: ya, lakukanlah ibadah haji atas namanya. Bagaimana pandanganmu kalau dia punya kewajiban membayar utang, bukankah kamu yang membayarnya? Ia berkata: ya. Maka beliau besabda: bayarlah utangnya kepada Allah, Dialah yang lebih berhak untuk dipenuhi tuntutannya. (HR Bukhori)

 

Tidak diragukan bahwa nadzar adalah wajib dilaksanakan selama nadzar tersebut untuk kebaikan. Jika sesorang bernadzar akan melakukan yang hukumnya boleh maka setelah dinadzarkan maka hukumnya  akan menjadi wajib. Kalau bernadzar dengan yang boleh menadi wajib dilaksanakan maka bernadzar dengan yang wajib tentu tidak diragukan mesti dipenuhi. Dan nadzar untuk haji disamping wajib dipenuhi karena nadzarnya dan mesti dilakukan karena haji itu sendiri adalah fardhu. Ketentuan ini tidak terhalangi dengan wafat. Karena itu Rasul menekankan pentingnya untuk dilaksanakan seperti halnya membayar utang kepada manusia tidak terhalangi dengan kematian. Utang tetap utang yang mesti dibayar. Kalau utang kepada manusia wajib dibayar kecuali bila dishadaqahkan oleh orang yang punya piutang, maka sesungguhnya utang kepada Allah tidak dapat diketahui apakah dibebaskan utang tersebut ataukah tidak. Dan Rasul saw menekankan bahwa utang kepada Allah lebih berhak untuk dipenuhi. Tentu yang dimaksud dengan utang disini bukan dalam artian yang sebenarnya akan tetapi perumpamaan dalam segi tuntutannya yang sama-sama harus dipenuhi.

Namun dalam masalah nadzar untuk ibadah haji ini perlu dipertanyakan, apakah boleh bernadzar dengan menunaikan ibadah yang wajib? Umpamanya: seseorang yang sedang berjuang untuk mencapai cita-citanya berkata: jika aku berhasil dan sukses, maka aku bernadzar dengan melaksanakan shalat lima waktu setiap hari? Atau akan ibadah shaum Ramadhan satu bulan penuh? Tentu tiada seorang muslim yang paham akan ajaran agama kecuali akan berkata bahwa nadzar seacam ini tidak punya arti. Karena tanpa nadzar pun kewajiban tersebut mesti dipenuhi. Jadi, apakah nadzar dengan ibadah haji itu boleh bagi orang yang belum ibadah haji? Tampaknya, nadzar yang disebutkan dalam hadits diatas adalah dari seorang ibu yang telah beribadah haji. Sehingga dengan nadzar maka haji yang kedua ini mulanya sebagai ibadah nafilah berubah menjadi ibadah mafrudhah atau hukum asal adalan sunah menjadi wajib.

Dengan demikian maka pernyataan bahwa “ibadah haji atas nama orang lain disyaratkan sudah bernadzar” adalah pandangan yang perlu diteliti kembali.

Bagaimana kalau yang meninggal itu tidak bernadzar, bolehkan dihajikan? Mari kita perhatikan hadis berikut ini:

حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ سَلَمَةَ الْهُذَلِيُّ، أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ قَالَ: أَمَرَتِ امْرَأَةٌ سِنَانَ بْنَ سَلَمَةَ الْجُهَنِيَّ أَنْ يَسْأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أُمَّهَا مَاتَتْ وَلَمْ تَحُجَّ أَفَيُجْزِئُ عَنْ أُمِّهَا أَنْ تَحُجَّ عَنْهَا؟ قَالَ: «نَعَمْ، لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّهَا دَيْنٌ فَقَضَتْهُ عَنْهَا أَلَمْ يَكُنْ يُجْزِئُ عَنْهَا؟ فَلْتَحُجَّ عَنْ أُمِّهَا» (السنن الكبرى للنسائي 4/ 10)

Dari Musa bin Salamah al Hudzali bahwa Ibnu Abas berkata: seorang perempuna menyuruh Sinan bin Salamah al Juhani untuk bertanya kepada Rasulullah Saw sehubungan dengan ibunya telah meninggal dan dia belum menunaikan kewajiban ibadah haji, apakah bermakna jika dia berniat ibadah haji atas namanya? Maka beliau bersabda: ya, tidakkah terpenuhi kewajibannya jika ibunya punya utang lalu dia yang membayarnya? Maka hendaklah dia lakukan haji atas namba ibunya. (HR. Nasai)

Hadits ini sama sekali tidak berhubungan dengan masalah nadzar, tidak pula berhubungan ada atau tidak adanya niat dari pihak yang dihajikan. Sebab semua umat Islam yang memahami kewajiban ini pasti berkeinginan untuk ibadah haji meski tidak mengucapkannya.

Ibadah haji atas nama orang lain juga tidak dikhususkan untuk orang tua saja akan tetapi juga dapat dilakukan atas nama orang lain yang merupakan saudara seiman.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ أُخْتِي مَاتَتْ وَلَمْ تَحُجَّ، أَفَأَحُجُّ عَنْهَا فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  «أَرَأَيْتَ لَوَ كَانَ عَلَيْهَا دَيْنٌ فَقَضَيْتَهُ، فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ»(صحيح ابن حبان – مخرجا 9/ 306)

Dari Ibnu Abas berkata: telah datang kepada Nabi saw seorang lelaki, ia bekata: saudaraku yang perempuan telah meninggal sedang ia belum ibadah haji, apakah boleh aku berhaji atas namanya? Maka beliau bersabda: apa pandanganmu bila dia punya utang lalu kamu membayarnya?. Dan hak Allah lebih berhak untuk dipenuhi. (HR Ibnu Hibban)

Menurut hadis ini ternyata ibadah haji atas nama orang yang sudah meninggal tidak hanya karena nadzar akan tetapi juga dapat dilakukan kendatipun tidak bernadzar. Sebab bernadzar ataupun tidak, ibadah haji adalah wajib atas semua mukmin, sama dengan ibadah-ibadah lainnya yang tercantum dalam rukun Islam. Dan hadis ini juga menjelasakan bahwa yang malakukan ibadah haji untuk orang yang sudah meninggal tidak mesti anaknya akan tetapi dapat dilaksanakan juga oleh orang lain seperti saudaranya. Dan persaudaraan dalam Islam sangat luas karena tidak terbatas oleh ikatan darah akan tetapi semua orang yang beriman adalah saudara.

c) niat haji atas nama saudara seiman  

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ شُبْرُمَةُ» قَالَ: أَخٌ لِي أَوْ قَرَابَةٌ، قَالَ: «هَلْ حَجَجْتَ قَطُّ» قَالَ: لَا، قَالَ:  «فَاجْعَلْ هَذِهِ عَنْ نَفْسِكِ ثُمَّ احْجُجْ عَنْ شُبْرُمَةَ»  (صحيح ابن حبان – مخرجا 9 / 299، المعجم الكبير للطبراني 12/ 42 ، سنن أبي داود (2/ 162)

[حكم الألباني] : صحيح

Dari Ibnu Abas bahwasanya Rasulullah saw mendengar seseorang berkata: aku sambut panggilan-Mu (untuk ibadah) atas nama Syubrumah. Beliau bersabda: siapa Syubrumah itu? Dia berkata: saudaraku, atau teman dekatku. Beliau bersabda: apakah kamu telah melaksanakan ibadah haji? Dia berkata: belum. Beliau bersabda: lakukanlah ibadah haji untuk dirimu lebih dahulu kemudian (tahun berikutnya) lakukanlah haji untuk Syubrumah . (HR. Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Majah)

Dari hadis ini dapat diketahui bahwa berniat ibadah haji atas nama orang lain dapat dilakukan selama pelakunya telah beribadah haji untuk dirinya. Dan Syubrumah yang tersebut dalam hadis ini tidak jelas apakah dia keluarga yang berkaitan dengan nasab atau kekeluargaan atas dasar ikatan iman semata.

d) syarat ibadah haji atas nama orang lain.  

Ibadah haji seperti ibadah lainnya baru akan diterima bila memenuhi syarat-syarat tertentu, demikian pula halnya dengan beribadah haji atas nama orang lain, perlu diperhatikan beberapa hal antara lain:

  1. Beriman. Beribadah haji untuk orang lain sangat berkaitan dengan keimanan yang berhaji dan yang dihajikan. Maka tidak sah menghajikan orang yang tidak beriman sekalipun  orang tuanya sendiri. Orang yang beriman pasti merindukan untuk ibadah haji kendatipun tidak terdengar dia mengungkapkan keinginnanya. Sementara orang yang yang tidak beriman tidak akan berniat untuk ibadah haji.
  2. Yang dihajikan hendaklah orang yang diketahui suka beribadah. Iman tidak cukup hanya pengakuan akan tetapi terbukti dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang mengaku sebagai seorang muslim tapi tidak pernah terlihat melakukan rukun Islam lainnya seperti shalat dan shaum, tidak dapat dihajikan. Karena dalam ibadah haji terdapat ibadah shalat dan menahan diri dari hal-hal yang dibolehkan pada waktu lain yaitu selama dalam keadaan ihram atau sebelum mendapat tahallul. Seperti halnya orang yang sedang ibadah shaum diwajibkan menahan diri dari hal-hal yang halal pada waktu biasa hingga terbenam matahari.
  3. Ikhlash. Semua ibadah akan diterimma oleh Allah bila terpenuhi dua syarat yaitu ikhlas dan mengikuti aturan Allah dan Rasul-Nya. Demikian pula halnya dalam masalah ibadah haji baik untuk diri sendiri atau atas nama orang lain maka kedua syarat tersebut mesti terpenuhi. Keikhlasan dalam berniat ibadah atas nama orang lain tidak dapat dipaksakan. Karena itu seorang anak yang telah merasakan curahan sayang dari orang tuanya lebih dekat untuk meraih nikmat ikhlas dalam melaksanakan ibadah haji atas nama orang tuanya. Dan bila anaknya belum beribadah haji untuk dirinnya lalu meminta bantuan kepada orang lain maka sangat penting baginnya untuk memperhatikan semua keperluan ibadah haji selama ibadah tersebut dilakukan. Bila biaya yang digunakan itu hanya sebagian saja yang dari anaknya atau keluarganya sedangkan yang sebagian lagi dari kantong pelaku yang diminta tolong maka biaya sisa tersebut tidak dapat diketahui dengan  sebenarnya, apakah dia shadaqahkan kepada yang dihajikan ataukah tidak. Bila tidak, maka kesempurnaan hajinya sulit dipertanggungjawabkan. Karena itu, menghajikan orang lain sangat berkaitan dengan masalah biaya. Bila belum cukup biaya maka tidaklah dipaksakan kecuali kalau ada orang yang memang telah berniat untuk menghajikan orang lain sejak awal dengan biaya sendiri. Seperti yang dialami seorang shahabat Rasul yang berniat haji atas nama saudaranya.
  4. Orang yang menghajikan telah malakukan ibadah haji untuk dirinya sendiri. Jika seseorang dapat membayar utang saudaranya kepada sesama manusia sekalipun dia sendiri masih punya kewajiban membayar utang dirinya sendiri maka hal ini berbeda dengan masalah ibadah haji atas nama orang lain. Sebab kesempatan untuk membayar utan kepadan sesama manusia lebih luang waktunya dibanding dengan membayar untuk haji. Yaitu masalah utang kepada Allah. Maka tidak sah seseorang menghajikan orang lain kecuali dia sendiri telah berhaji untuk dirinya. Lihat hadits tentang shahabat yang berhaji atas nama Syubrumah.
  5. satu kali ibadah haji atas nama orang lain hanya berlaku untuk seorang. Waktu wuquf hanya berlangsung satu kali dalam setahun. Wuquf adalah yang sangat menentukan berlangsungnya ibadah haji. Tidak sah haji seseorang tanpa wuquf . Karena waktu wuquf hanya satu kali dalam setahun maka seseorang tidak mungkin dapat melakukan ibadah haji dua kali dalam setahun. Oleh karena setiap kali pemberangkatan untuk ibadah haji hanya dapat dilakukan untuk satu orang, baik untuk dirinya ataupun untuk orang lain, maka tidak dibenarkan seseorang mengumpulkan dana ibadah haji dari beberapa orang yang mewakilkan kemudian dilakukan oleh seorang saja atas nama beberapa orang. Cara seperti ini tidak diragukan melanggar aturan dan menyalahi sunnah Rasul. Sebagaimana contoh dalam hadis-hadis diatas, satu orang hanya dapat mewakili satu orang.
  6. Menguasai ilmu manasik. Perjalanan ibadah haji senantiasa menghadapi berbagai masalah. Maka sangat penting bagi yang mau melaksanakan ibadah haji untuk mempelajari manasik dengan mendalam. Bila seseorang yang ingin beribadah haji untuk dirinya sendiri sangat dituntut menguasi manasik maka demikian pula halnya bagi orang yang ingin berniat haji atas nama orang lain. Sebab bila terjadi kekurangan atau pelanggaran yang ringan wajib atasnya membayar kifarat. Dan bila pelanggaran tersebut termasuk pelanggaran berat  wajib atasnya membayar dam. Sementara bila dia meninggalkan salahsatu rukun maka tidak sah hajinya dan dia dihadapkan kepada konsekwensi yang lebih berat. Bila hal ini tidak diketahui maka praktek ibadahnya bukan mengurangi beban yang mewakilkan tetapi menjadi perbuatan yang sia-sia bila tidak menambah beban dihadapan Allah. Kecuali jika Allah mengampuni dan mencurahkan rahmat-Nya. Kalau kita tidak mengetahui apakah Allah mengampuni dosa yang kita lakukan ataukah tidak, maka bagaimana kita dapat mengetahui bahwa Dia mengampuni dosa orang lain. Karena itu, bila seseorang ingin mewakilkan ibadah haji kepada orang lain baik untuk dirinya karena sudah tidak mampu menempuh perjalanan akibat penyakit yang secara lahir tidak dapat diharapkan kesembuhannya, atau untuk orang tua atau lainnya yang sudah lanjut usia atau yang sudah meninggal, sementara anggota keluarganya belum ada yang memenuhi syarat untuk mmenghajikannya, maka hendaklah dia meminta bantuan kepada orang yang sudah diketahui ketaatannya kepada Allah dan diketahui penguasaannya terhadap manasik. Artinya menghajikan orang lain tidak semudah yang dibayangkan atau tidak seperti yang sering terdengar dan terjadi ditengah masyarakat yang kurang mengetahui masalah ini dengan sebenarnya. Hingga diantara mereka terjadi tawar menawar harga antara pihak yang menghajikan dengan keluarga yang akan dihajikan, padahal biaya haji sudah jelas, baik biaya dihitung dari tanah air ataupun dari sejak niat yaitu ketika melewati miqat hingga selesai  ibadah.

 

ISLAM TIDAK MENGENAL PINDAH PAHALA

Telah muncul tiga kelompok yang berberbeda pandangan dalam menyikapi masalah badal haji atau ibadah haji atas nama orang lain. Pertama: kelompok yang menerima tanpa ilmu; kedua: kelompok yang menolak dan apriori terhadap kashahinan dalil atau menolak dalil dengan alasan tertentu; dan ketiga adalah orang kebingungan hingga tidak menerima dan tidak pula menolaknya.

Pertama:

Menerima dengan gegabah. Diantara kaum muslimin ada yang berlebihan dalam menerima keterangan tentang badal haji tanpa memperhatikan syarat-syarat yang mesti terpenuhi. Sehingga demikian enteng mereka melaksanakan badal haji ini. Siapapun dapat melakukannya kedatipun kurang menguasai manasik. Bahkan sering dititipkan kepada siapa saja sekalipun tidak dikenalnya atau tidak dapat dibuktikan sejauh mana pengetahuannya tentang manasik dan sejauh mana kejujuran dalam pelaksanaannya. Sebagian jamaah ada yang membawa amanah haji untuk disalurkan kepada orang yang tinggal di tanah suci. Maka ketika ada orang yang bertanaya tentang badal haji, tanpa berpikir labih jauh langsung saja dia salurkan kepada orang yang baru bertemu itu. Tidaklan masalah bila dia dapat mengetahui tanda-tandanya yang dapat meyakinkan bahwa orang tersebut memenuhi syarat untuk mengemban amanah yang berat itu.   Sikap seperti ini dapat disebut tafrith تفريط  yang dapat mengurangi nilai-nilai Islam karena menganggap remeh terhadap yang sangat berat. Bahkan tidak mustahil seseorang memandang agar lebih murah maka tidak usah pergi haji tapi wakilkan saja kepada orang lain atau berwasiat saja agar dihajikan nanti setelah meninggal dunia, dengan biaya yang lebih murah. Ini dari satu pihak, dan dari pihak lain ada yang menjadikan haji badal sebagai mata pencaharian sehingga dia akan mencari orang berniat mewakilkan haji baik untuk dirinya atau untuk keluarganya yang telah meninggal. Bahkan lebih dari itu, ada yang pergi haji atas nama bebarapa orang. Sungguh kenyataan ini telah penulis dengar dan temukan di lapangan. Dan yang lebih tafrith lagi adalah kepuasan mereka dengan menerima piagam atau sertifikat haji dengan  tanda tangan dan cap dari pihak tertentu. Padahal sertifikat tersebut sama sekali tidak ada hubungan dengan masalah haji. Sebab ibadah adalah hubungan seorang hamba dengan Allah swt, dan tak ada seorangpun dapat mengetahui kualitas haji seseorang, sementara sertifikat atau piagam haji dibuat oleh manusia. Perlu ditegaskan bahwa nilai keikhlasan seseorang tidak dapat diketahui oleh siapapun termasuk oleh dirinya sendiri. Dan bila seseorang menilai dirinya telah mencapai keikhlasan dalam beramal maka dikhawatirkan dengan perasaan tersebut akan terhapus nilainya karena dia telah berani berbuat yang bukan haknya.

Kedua:

Menolak dengan keras. Fenomena tersebut diatas telah mendapat reaksi yang beragam dari pihak yang sedang mengkaji al Islam dari sumbernya yaitu Al-Quran dan hadis. Diantara mereka ada yang menentang dan apriori terhadap dasar-dasar hukum yang membolehkan badal haji atau menganjurkannya. Sikap ini dapat dikatakan ifrath إفراط . Bila sikap ini dibiarkan terus berkembang maka sebagian hadis yang shahih akan lenyap. Karena kendatipun sanadnya shahih, menrut mereka, hadis-hadis tersebut dha’if fil matni. صحيح السند ضعيف المتن artinya shahih periwayatannya namun lemah redaksi atau isinya.

Sungguh hadis yang menjelaskan adanya ibadah haji atas nama orang lain demikian banyak, baik yang meriwayatkannya atau yang diriwayatkannya karena kasusnya pun demikian banyak, diantaranya:

  • seorang wanita berhaji atas nama ayahnya yang sudah lanjut usia;
  • seorang wanita berhaji atas nama ibunya yang sudah wafat;
  • seorang laki-laki yang berhaji atas nama ayahnya yang sudah lanjut usia;
  • seorang laki-laki yang berhaji atas nama saudara yang wanita;
  • seorang laki-laki berhaji atas nama seorang karabatnya dan lain-lain.

Mengapa sikap ifrath ini terjadi? Mengapa mereka berani memvonis hadis shahih dengan mengatakan bahwa sekalipun riwayatnya shahih tapi isinya lemah?

Dari segi apa mereka memandang lemah? Setelah ditelusuri, mereka memandang lemah terhadap hadis tersebut dengan beberapa anggapan antara lain:

  •  Hadis-hadis diatas berlawanan dengan firman Allah surat an Najm:

(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, QS. 53:38

 

  • Hadis itu shahih tapi maknanya dimansukh oleh ayat Al-Quran. Surat An Najm.

 

dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (QS. 53:39)

 

Mereka memandang bahwa hadis ini berlawanan dengan ayat Al-Quran. Betulkah ada hadis shahih yang berlawanan dengan Al-Quran, apakah ada orang yang lebih paham kepada Al-Quran melebihi Rasul?

Mahasuci Allah yang telah membekali utusan-Nya dengan sifat amanah, fathanah dan tabligh.  Hadis shahih adalah tafsir pertama bagi Al-Quran. Tak ada yang lebih paham kepada Al-Quran melebihi Rasulullah saw.

Karena itu sangat mungkin bahwa yang berlawanan bukan Al-Quran dengan hadis, akan tetapi yang berlawanan adalah pemahaman mereka terhadap Al-Quran dengan pemahaman mereka terhadap hadis. Dan selama kita semua meyakini bahwa hadis shahih adalah tafsir pertama bagi Al-Quran, maka  kita berharap Allah akan mempertemukan kita dalam pemahaman yang sama terhadap ayat dan hadis-hadis ini. Untuk itu mari kita sama-sama mengkaji kembali teks-teks diatas.

  • beberapa hadis diatas memberi perumpamaan bahwa ibadah haji atas nama orang lain bagaikan membayar utang orang itu. Bila anda membayar utang orang tua anda atau utang saudara anda dengan niat semata-mata menolong dia karena Allah, siapakah yang akan mendapat nilai dari Allah? Tentu jawabannya adalah yang membayar atau yang menolong yaitu anda sendiri. Sementara orang tua anda atau siapapun orang yang ditolong akan mendapatkan kebebasan dari beban utang. Demikian pula halnya dengan hadis-hadis diatas. Hadis itu tidak berbicara tentang perpindahan pahala, akan tetapi menerangkan upaya pembebasan seseorang dari yang membebaninya. Dan hasilnya tiada yang mengetahui selain Allah.
  • Adapun surat anNajm ayat 38 menerangkan bahwa diakhirat nanti semua manusia akan memikul beban masing-masing. Tidak ada seorang pun yang dibebani dengan beban orang lain. Artinya tiada seorangpun yang mendapat siksa karena dosa orang lain. Umpamanya seseorang disiksa dengan siksaan tukang zina padahal dia tidak pernah berzina. Atau disiksa sebagai pencuri padahal yang mencuri bukan dia tapi saudaranya. Hal ini tidak akan terjadi.
  • Sementara ayat berikutnya yaitu ayat 39 berbicara tentang pahala. Bahwa seseorang hanya mendapat pahala dari hasil amalnya sendiri. Artinya hasil amal orang lain tidak akan pindah kepadanya dan hasil amal dia tidak akan pindah kepada orang lain. Adapun dia mendapat hasil dari amal orang lain tanpa mengurangi pahala mereka, hal itu bisa terjadi karena ada hubungan dengan amal dia sendiri maka hal itu merupakan karunia Ilahi.
  • Kedua ayat ini menerangkan tentang kehidupan manusia dan hubungan antara mereka diakhirat. Sementara hadis-hadis diatas menerangkan hubungan antara manusia didunia untuk akhirat. Jadi, sama sekali tidak ada kontradisksi antara ayat dengan hadis. Karena kandungan masalahnya berbeda.
  • Ayat mengingatkan pentinngnya banyak bertaubat karena tidak ada yang menanggung dosa kita kecuali kita sendiri. Dan mengingatkan agar banyak beramal shaleh untuk diraih hasilnya nanti diakhirat. Sebab kita tidak akan mendapatkan hasil kecuali dari amal kita sendiri. Sedangakan hadis mengingatkan pentingnya meringankan beban orang lain yang sudah terbukti dia tidak mampu memikulnya. Dan menolong orang lain adalah merupakan amal ibadah yang terpuji dan orang yang melakukannya akan mendapat nilai yang setimpal dari Allah. Amal tersebut berguna bagi dirinya dan juga bermanfaat bagi orang lain yang ditolongnya.
  • Pandangan bahwa hadis tersebut dimansukh (dihapus hukumnya) oleh ayat adalah pandangan yang sangat jauh dari kenyataan. Sebab nasikh dan mansukh tidak akan terjadi tanpa terpenuhi syaratnya. Diantaranya adalah yang dinyatakan mansukh (yang dihapus) lebih dahulu datangnya atau turunnya daripada yang dinyatakan sebagai nasikh (yang menghapus). Logika juga mengatakan: hukum yang terdahulu tidak mungkin dapat menghapus hukum yang belakangan atau yang akan datang. Yang pasti adalah hukum yang belakangan dapat menghapus hukum yang terdahulu. Sehubungan dengan teori tersebut maka hukum yang terkandung dalam surat anNajm tidak mungkin dapat menghapus hukum yang terkandung dalam hadis-hadis diatas. Karena surat anNajm lebih dulu turun yaitu sebelum Rasulullah hijrah atau disebut ayat Makkiyah, sementara peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan masalah haji terjadi pada akhir hayat beliau.

 

Ketiga:

Tinggal diam. Ada pula diatara mereka yang memilih diam. Mereka menolak  ikut memikirkan masalah ini. Bila pengambilan sikap ini dilandaskan kepada banyaknya kewajiban lain yang mesti diprioritaskan serta menunggu timing yang tepat untuk membahasnya, maka langkah tersebut termasuk langkah terpuji insyallah, namun sekiranya semua umat bersikap yang sama, siapa yang akan meluruskan kebengkokan atau menjelaskan  kesamaran dalam masalah ini. Dan siapa yang akan menyelamatkan sunah ini dari penyimpangan makna dan kekeliruan arti yang sudah tersebar dikalangan sebagian umat.

 

MAKNA ISTITHO’AH (mampu)

Munculnya perbedaan pandangan tentang badal haji tidak lepas dari perbedaan pandangan tentang arti istitho’ah ( mampu) yang terdapat pada Al-Quran.   Maka tiada salahnya kalau kita kembali kepada ayat tersebut untuk kita kaji ulang.

Allah berfirman:

 Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. 3:97)

 

Kata “mampu” sangat relative maknanya, tergantung kepada yang memandangnya. Dalam kehidupan bermasyarakat telah ditemukan beberapa fenomena yang menuntut kita untuk berfikir lebih jauh, diantarannya:

  1. Sering ditemukan orang yang telah memiliki kendaraan lebih dari satu unit, namun orang tersebut masih mengaku bahwa dia belum mampu menunaikan ibadah haji, padahal dia termasuk ahli masjid.
  2. Seorang petani yang memiliki ladang dan sawah yang nilainya cukup untuk ongkos haji lebih dari satu orang, dia dibiarkan berkata: “saya belum dapat panggilan haji”. Padahal, sebagaimana umumnya masyarakat di lingkungannya, dia termasuk yang dipandang penuh perhatian kepada amal ibadah lainnya.
  3. Ketika seorang pengusaha telah mencapai kemajuan, namun dia belum mempersiapkan diri untuk ibadah haji pada tahun tersebut karena kesibukan bisnis, lalu usahanya menurun kembali, dan ketika bangkrut ajalpun tiba sebelum melaksanakan ibadah haji, maka dianggaplah dia termasuk yang tidak mampu menunaikan ibadah haji. Padahal dia pernah mampu namun tidak menggunakan kemampuannya.
  4. Setelah jumlah kaum muslim dunia mencapai lebih dari satu milyar, maka  dunia Islam sepakat memutuskan bahwa bagi setiap Negara hanya disediakan visa haji dengan jumlah satu berbanding seribu. Dengan kesepakatan ini, akhirnya banyak sekali kaum muslimin yang sudah memuliki kesiapan untuk menunaikan rukun Islam yang kelima ini namun tidak mendapat quota. Diantara mereka ada yang mendapat kesempatan pada tahun berikutnya dan tidak sedikit dari mereka yang dijemput ajal sebelum musim haji berikutnya tiba. Mereka adalah bagaikan orang telah menyediakan dana untuk membayar utang, namun sebelum dana tersebut dibayarkan ajal mendahuluinya. Apakah akan dibiarkan utang tersebut membani mereka, dan tidak terbayar karena kematian tiba sebelum waktu membayat tiba, lalu uang yang sudah mereka persiapkan dibagikan kepada ahli warisnya.
  5. Ada orang yang memegang harta cukup untuk biaya haji dan semangatnya pun demikia membara untuk melakukannya, namun kesehatan tidak mengizinkannya untuk keluar kota apalagi keluar negeri, apakah hartanya akan dibiarkan habis tanpa digunakan untuk ibadah haji?
  6. Ada orang yang sehat namun tidak memiliki pemahaman tetang manasik haji sehingga tidak terbayang baginya bagaimana menunaikan ibadah haji. Dan dia menunggu waktu untuk dapat ilmu namun kondisi belum mendukungnya. Apakah orang seperti ini dipandang tidak mampu?
  7. Ada orang yang secara kondisi keuangan dan kesehatan sangat mendukung untuk haji, namun kondisi keluarga berantakan dan dia terus berjuang membina keluarga sebagaimana mestinya. Dia pun terus menunggu waktu yang kondusif untuk ibadah haji, namun ajal menjemputnya sebelum dia menunaikan ibadah haji apakah orang seperti ini termasuk tidak mampu?
  8. Seorang pemimpin yang sedang mengurus umat, telah tersedia baginya dana yang lebih dari cukup untuk ibadah haji, dan niatnyapun telah kuat untuk pergi,  namun ketika dia mau menunaikan kewajiban tersebut ternyata umat sangat memerlukan kehadirannya, akhirnya niat untuk haji dia tangguhkan kepada tahun berikutnya. Sebelum tiba waktu haji berikutnya ketetapan ilahi memanggilnya untuk kembali menghadap-Nya. Apakah akan dibiarkan menghadap kepada Allah dengan mempertanggung jawabakan keislamannya yang kurang duapuluh persen itu?

Berbagai fenomena diatas adalah sekedar perumpamaan yang dikemukakan sebagai gambaran yang mungkin ditemukan dalam lingkungan pembaca mungkin juga tidak.  Paling tidak, sebagian dari perumapamaan tersebut pernah terdengar. Dan penting untuk kita kaji bersama dan kita cari solusinya dengan cara kembali mengkaji teks-teks Al-Quran dan hadis.

Ketika  KBIH Maqdis mengadakan pengajian pada waktu mabit di Mina, maka muncul pertanyaan dari seorang jamaah tentang ibadah haji atas nama orang lain. Sebelum dijawab, seorang jamaah dari KBIH lain yang ikut bergabung dalam pengajian mengacungkan tangan dan dengan semangat dia berkata: saya tidak setuju adanya ibadah haji atas nama orang lain atau badal haji, karena orang yang sudah lanjut usia dan lemah fisiknya atau orang yang telah meninggal dan belum menunaikan ibadah haji tidak wajib haji. Karena orang yang tidak mampu tidak akan dihisab tentang haji.. Dan bila dia orang mampu namun tidak menunaikan ibadah haji berarti dia bukan orang baik. Kaena itu apapun alasannya, menghajikan orang lain tidaklah bermakna, bukankah kewajiban haji ditetapkan atas orang yang mampu?

Inilah masalah yang sering muncul ditengah masyarakat yang mengakibatkan beberapa  hadis hampir lenyap dari kajian.

Karena itu demi terpeliharanya hadis-hadis tersebut alangkah baiknya bila kita kembali mengkajinya dan meninjau ulang pemahaman yang telah tersebar itu. Mari kita ambil salah satu  dari beberapa hadis yang dikemukakan diatas.

 

عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَرْدَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفَضْلَ بْنَ عَبَّاسٍ يَوْمَ النَّحْرِ خَلْفَهُ عَلَى عَجُزِ رَاحِلَتِهِ وَكَانَ الْفَضْلُ رَجُلاً وَضِيئًا فَوَقَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلنَّاسِ يُفْتِيهِمْ وَأَقْبَلَتْ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ وَضِيئَةٌ تَسْتَفْتِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَطَفِقَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَأَعْجَبَهُ حُسْنُهَا فَالْتَفَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا فَأَخْلَفَ بِيَدِهِ فَأَخَذَ بِذَقَنِ الْفَضْلِ فَعَدَلَ وَجْهَهُ عَنْ النَّظَرِ إِلَيْهَا فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ فِي الْحَجِّ عَلَى عِبَادِهِ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْتَوِيَ عَلَى الرَّاحِلَةِ فَهَلْ يَقْضِي عَنْهُ أَنْ أَحُجَّ عَنْهُ قَالَ  نَعَمْ    (صحيح البخاري 8/ 51)

Abdullah bin Abbas berkata: pada hari raya qurban Rasulullah saw menyuruh al Fadhl bin Abas  mengikutinya dari belakang kendaraan beliau yang lemah. Dan al Fadhl adalah seorang sahabat yang rupawan. Maka Nabi berdiri diahadapan manusia menyampaikan fatwanya kepada mereka. dan datanglah seorang wanita cantik dari Khots’am untuk memohon fatwa kepada Rasulullah saw. Maka al Fadhl pun melihat kecantikannya dan mengaguminya. Lalu Rasulullah saw memegang dagu al Fadhl dari belakang dan beliau palingkan wajahnya dari pandangan tersebut. Perempuan itu berkata: wahai Rasulullah! Kewajiban haji yang telah Allah tetapkann atas hamba-hhamba-Nya telah sampai kepada ayahku. Sedang dia adalah orang tua yang tidak mamapu duduk tetap di atas kendaraan. Apakah boleh aku berhaji atas nama dia? Beliau bersabda: ya .  (HR. Bukhori)

 

Ketika seorang wanita itu menyampaikan masalah orang tuanya kepada Rasulullah saw, bahwa dia tidak mampu manunggangi kendaraan untuk berhaji karena sudah lanjut usia, Rasulullah saw tidak bertanya bagaimana kondisi fisiknya atau kondisi keuangannya atau lainnya, karena sudah jelas bahwa dia tidak mampu melaksanakan ibadah haji, namun demikian beliau menyuruh wanita tersebut untuk melakukan ibadah haji atas nama orang tuanya. Hal ini menunjukkan bahwa bagi yang tidak mampu untuk ibadah haji pun rukun Islam tetap lima. Dan setiap muslim dituntut untuk melakukan kelima rukun tersebut. Hanya saja bagi yang mampu, perintah tersebut ditekankan tanpa ada pilihan dan keringanan, sementara bagi yang tidak mampu diberi keringanan.

 

Mari kita perhatikan kembali teks Al-Quran dan hadis, adakah kontradiksi diantara keduanya.

 Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. 3:97)

Ayat ini menegaskan bahwa:

  • Ibadah haji dilaksanakan semata-mata karena Allah
  • Kewjiban pelaksanaannya ditujukan kepada semua manusia tanpa kecuali
  • Setelah kewajiban tersebut ditujukan kepada semua manusia lalu stressing kewajiban ditujukan kepada orang yang mampu
  • Ancaman ditujukan kepada yang mengingkari kewajiban haji

Adakah kalimat yang menunjukkan bahwa orang yang tidak mampu, baik secara financial atau lainnya tidak wajib atasnya ibadah haji? Atau apakah orang yang tidak mampu dikecualikan dan dibebaskan dari kewajiban tersebut. Atau adakah seorang mufassir yang berani berkata:

على الناس حج البيت إلا لمن لم يستطع منهم  إليه سبيلا

(Wajib atas manusia menunaikan ibadah haji kecuali mereka yang tidak mampu dijalannya). Sungguh, tidak ditemukan pernyataan itu atau pernyataan yang sejajar dengan maknanya. Demikian pula bila kita perhatikan sabda Nabi saw.

وتحج البيت من استطاع إليه سبيلا

Kedua nash diatas memberi isyarat bahwa atas orang yang mampu perintah tersebut ditekankan. Dan penekanan tersebut tidak memberi arti penghapusan kewajiban dari yang tidak mampu.  Allah Maha Mengetahui apa yang tersirat pada hati semua hamba-Nya. Banyak yang tidak mampu sangat merindukan ibadah haji. Dan tidak sedikit yang  diberi kemampuan namun tidak begitu perhatian kepada ibadah ini. Allah Mahaadil, Dia tidak membiarkan hamba-Nya mencintai ibadah dan tha’at kecuali Dia sediakan jalan untuk meraihnya. Dia memberi jalan bagi orang yang tidak mampu untuk mencapai yang dicita-citakannya dengan cara lain. Dan bila cara lain pun tidak tercapai, sungguh Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Artinya bagi yang mampu tidak ada alasan untuk meninggalkannya, dan bagi yang  tidak mampu secara langsung maka lakukanlah dengan cara lain yang telah ditetapkan Rasulullah saw. Dan bila dengan cara lainpun tidak mungkin juga, maka hanya kepada Allah kita berharap semoga Allah mangampuni semua hamba-Nya.

 [1]  أخرجه البخاري  في صحيحه  ج2/ص690/ح1851. و ابن حبان في صحيحه  ج8/ص335/ح3569. و ابن خزيمة في صحيحه  ج3/ص271/ح2052. و أبي داود في سننه  ج3/ص237/ح3311

[2] Menurut AlAlbani hadits yang terakhri ini mudhtharib, sekiranya hadits ini tidak dapat dijadikan hujjah maka cukuplah dengan hadits sebelumnya yang demikian meyakinkan karena riwayatnya yang sangat kuat tidak mengandung keraguan. Jika masih ada yang memandang bahwa hadits tersebut shahih sanad dan dhaif matan maka sesungguhnya yang dhoif adalah pemahaman terhadap matannya.

 

Foto : (AP Photo/Hassan Ammar) – http://www.bbc.co.uk/blogs/africahaveyoursay/2010/11/your-hajj-stories.shtml