Kedudukan Anak dalam Al-Qurān

Di dalam Al-Qurān, terdapat banyak penjelasan mengenai kedudukan anak yang berkaitan erat dengan interaksi orangtuanya. Di antaranya: pertama, anak sebagai ataya, żuriyyah; kedua, anak sebagai zīnah; ketiga, anak sebagai fitnah; dan keempat anak sebagai amanah. Berikut penjabaranya:
a. Anak sebagai Fiţrah
Fiţrah berasal dari kata ر – ط – ف yang memiliki makna: sifat pembawaan (yang ada sejak lahir), ciptaan, agama, sunnah dan dalam keadaan menurut fitrah (Munawwir, 1997, hlm. 1063).
Firman Allāh dalam QS. Al-Rūm [30]: 30,
30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allāh; (tetaplah atas) fitrah Allāh yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allāh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

‘… (Tetaplah atas) fitrah Allāh yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu…’ dengan ini Al-Qurān mengaitkan antara fiţrah dan jiwa manusia dengan tabiat agama Islam. keduanya berasal dari Allāh. Allāh yang menciptakan hari manusia untuk mengaturnya, menggerakannya, dan mengobati sakitnya serta meluruskannya dari penyimpangan (Quthb, 2004, hlm. 143).
Fitrah sendiri merupakan potensi yang dapat dikembangkan melalui peranan lingkungan, entah lingkungan keluarga, sekolah atau masyarakat (Djamarah, 2004, hlm. 94). Dengan demikian orang tua hendaknya mendidik anaknya agar senantiasa berada dalam fiţrahnya Allāh.

b. Anak sebagai Ataya (pemberian)
Ataya (ي – ت – أ ) ini memiliki banyak makna setelah mengalami perubahan bentuk. di antaranya: pemberian, mempermudah, datang (Munawwir, 1997, hlm. 6). Dikaitkan dengan kedudukan anak, maka anak merupakan pemberian yang dianugerahkan oleh Allāh. Keterangan ini dapat ditemukan dalam QS. Al-A’rāf [7]: 190,
190. tatkala Allāh memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, Maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allāh terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allāh dari apa yang mereka persekutukan.

c. Anak sebagai Żuriyyah (pewaris)
Firman Allāh SWT. QS. Al-Nisā [4]: 9:
9. dan hendaklah takut kepada Allāh orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allāh dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar.

Firman Allāh SWT. QS. Al-Ahqāf [46]: 15:
15. Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila Dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri.

Sayyid Quthb (2004, hlm. 323) memaparkan bahwa kalimat “berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku” merupakan permohonan keinginan hati seorang mukmin agar amal salehnya sampai kepada keturunannya dan agar qalbunya merasa senang jika keturunannya beribadah kepada Allāh dan mencari keridhaan-Nya. Keturunan yang saleh merupakan dambaan hamba yang saleh. Mereka merupakan jejak, simpanan, dan perbendaharaan dirinya yang lebih bernilai bagi qalbunya daripada segala perhiasan dunia. Doa itu merentang dari orang tua kepada keturunan agar para generasi bertaut dalam ketaatan kepada Allāh.
Dengan demikian, kedudukan anak sebagai żuriyyah berfungsi untuk memberikan kebahagiaan qalbu kepada orang tuanya jika anak berada dalam ketaatan kepada Allāh demi mencari keridhaan-Nya.
Sedangkan Aam Abdussalam memaparkan, bahwa menjadi kepastian bagi anak ketika berada di lingkungan rumahnya untuk membaca dan menangkap penampilan orang tua secara keseluruhan. Baik fisik maupun non fisiknya. Seperti sifat semangat dan malasnya orang tua, komitmen dan integritas moral orang tua, sehingga apa yang ditampilkan oleh orang tua di hadapan anaknya akan ditangkap dan tentu saja akan menjadi warisan untuk anak (Rumah Cahaya, 2014, T.hlm).
Anak sebagai żuriyyah, dimaksudkan juga anak sebagai pewaris nilai. Sehingga anak memiliki posisi untuk mengembangkan ajaran agama, penerus nilai-nilai yang dibawakan oleh rasulullah saw
Dengan demikian warisan yang berharga dan terpenting dari orang tua bukan warisan materi melainkan warisan pendidikan dan nilai/akhlak. Seperti ketawadhuan orang tua dan kegigihan orang tua dalam membela kebenaran.

d. Anak sebagai Zīnah
Menurut Munawwir (1997, hlm. 598), kedudukan anak adalah seperti hiasan hidup bagi orangtuanya. Sebab kata żuyyinah secara bahasa berarti menghiasi atau mempercantik. Dalam konteks ini Al-Qurān menyejajarkan posisi anak di bawah wanita dan di atas harta, sebagai sesuatu yang dicenderungi manusia pada fitrahnya.
Firman Allāh dalam QS. Āli-Imrān [3]: 14,
14. dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allǎh-lah tempat kembali yang baik (surga).

‘Dijadikan indah dalam pandangan manusia’. Digunakan fi’il majhul ‘kata kerja pasif’ disini mengisyaratkan bahwa susunan insting manusia mengandung kecenderungan-kecenderungan ini. “Keinginan-keinginan” ini dan itu merupakan bagian dari kejadian asal yang tidak dapat diingkari dan dianggap mungkar. Kecenderungan kepada keindahan merupakan kebutuhan vital bagi kehidupan manusia supaya kokoh, berkembang, dan berjalan normal.
Anak-anak merupakan salah satu kecenderungan yang sangat dicintai dan diinginkan oleh manusia. Kecenderungan ini membuat manusia merasa senang dan memandang anak sebagai sesuatu yang indah (Quthb, 2001, hlm. 42).
Keterangan lain yang menunjukkan kedudukan anak sebagai zīnah adalah Firman Allāh dalam QS. Al-Kahf [18]: 46,
46. harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.

Ayat di atas menunjukkan bawah Islam memberikan nilai tambah pada anak-anak yang membuatnya berhak menjadi perhiasan dalam standar keabadian dan tidak melampauinya (Quthb, 2003, hlm. 320).
Dari dua ayat tersebut, dapat dipahami bahwa anak diibaratkan sebagai perhiasan, berarti anak merupakan sumber kecintaan. Lazimnya sesuatu yang dicintai, maka ia mesti dijaga sepenuh hati. Begitu pula dengan keberadaan anak di mata orang tuanya.
Aam Abdussalam menerangkan bahwa kedudukan anak sebagai zīnah maknanya anak merupakan kebanggaan orang tuanya. Karena seringkali orang tua menampilkan kebanggaannya melalui anak. Anak juga diakui sebagai representasi kedua orang tuanya. Sehingga pengakuan itu mendorong orang tua untuk mendandani/menghiasi anak mereka, baik dengan pakaian atau perlengkapan hidup sederhana maupun dengan pendidikan yang baik (Rumah Cahaya, 2014, T.hlm).
Kedudukan anak sebagai kebanggaan maka otomatis dia menjadi kesenangan orang tuanya. Sebagai contoh: ketika orang tua pulang kerja dalam kondisi penat maka kepenatan yang dirasakan itu seakan-akan sirna karena senang melihat anaknya di rumah dalam kondisi baik-baik, shalih-shalih.
Selain itu, kedudukan anak sebagai żīnah pun menunjukkan bahwa anak sebagai kemuliaan orang tuanya. Maka dari itu orang tua berani mengorbankan segala hasil kerja kerasnya untuk anak-anak mereka tanpa ada pikiran untuk dibalas. Dengan begitu kemuliaan sang anak dapat terjaga.

e. Anak sebagai Amanah
Amanah berasal dari akar kata ن – م – أ. Apabila huruf tersebut mengalami perubahan bentuk maka menghasilkan makna yang berbeda-beda. Di antara makna tersebut: penunjuk jalan, jujur/dapat dipercaya, aman, tenteram, mempercayai, amin (bacaan setelah doa), menenteramkan, mengamankan, orang yang mempercayai setiap orang, ketenangan hati, segala yang diperintah Allāh kepada hamba-Nya, amanat/titipan (Munawwir, 1997, hlm. 40-41).
Firman Allāh dalam QS. Al-Nisā [4]: 9,
9. dan hendaklah takut kepada Allǎh orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allǎh dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar.
Ayat di atas memberikan sentuhan yang kuat terhadap hati seseorang. Yakni menyentuh tempat persembunyian kasih sayang naluriah orang tua kepada anak-anak yang lemah, dan takwa kepada Allāh Yang Maha Menghitung dan Maha Mengawasi (Quthb, 2001, hlm. 287).
Keadaan anak sebagai amanat ini mengundang para orang tua untuk menerima dan memperlakukan serta mengurus anaknya sebagai titipan atau amanat dari Tuhan. Dengan kata lain: anak itu tampil dalam peranannya sebagai titipan atau amanat Tuhan, dan para orang tua hendaknya mengajui dan menerima serta menjunjung tinggi peranan anaknya seperti itu (Soelaeman, 1994, hlm. 139).
Aam Abdussalam menjelaskan bahwa karena anak lahir sebagai amanah. Maka amanah itu memastikan anak itu lahir kepada orang tua dengan mendapatkan pendidikan yang baik dari orang tuanya, yakni orang tua mampu membimbing anaknya untuk berjalan di atas fitrah. Fitrah itu melingkupi potensi-potensi yang dasar, potensi bawaan, juga potensi-potensi yang hanif, kecenderungan untuk beragama. Dengan demikian Allāh memberikan pahala yang besar kepada orang tua yang bisa mendidik anaknya dengan baik (Rumah Cahaya, 2014, T.hlm).
Aam Abdussalam pun mengingarkan kepada orang tua agar mereka menyadari bahwa anak itu memiliki bakat khusus. Maka pendidikan orang tua kepada anak harus diarahkan sesuai dengan bakat dan potensi dasar. Jika anak dididik atau diarahkan tidak sesuai dengan potensi dasarnya (bakat dan minatnya), maka orang tua cenderung gagal (Rumah Cahaya, 2014, T.hlm).
Dalam hal ini, orang tua wajib menjadikan keluarga sebagai wahana yang menjadikan anak cenderung belajar hal-hal itu. Misalnya: shalat, bagaimana cara belajar yang baik. Jika anak tidak diberikan sentuhan itu maka dia cenderung berontak.

f. Anak sebagai fitnah (cobaan)
Fitnah berasal dari 3 huruf yakni ن – ت – ف yang memiliki banyak makna setelah mengalami perubahan huruf oleh damir. Di antaranya: cobaan, bala, siksaan, gila, sesat, penyakit, harta dan anak-anak, perselisihan paham (Askar, 2009, hlm. 595). Dalam keterangan lain, ketiga huruf tersebut juga dapat membentuk kata yang memiliki makna lain, di antaranya: memikat, menarik hati, menggoda, membujuk, memfitnah, tergila-gila, hal/keadaan, macam, pencuri, setan,emas-perak, aib-noda, kegaduhan, yang gila, dan lain-lain (Munawwir, 1997, hlm. 1033).
Berdasarkan keterangan tersebut, maka segala sesuatu yang memikat dan menarik hati manusia hingga tergila-gila apabila dilakukan secara berlebihan maka dapat mengundang datangnya cobaan, siksaan atau kondisi buruk lainnya..
Sayyid Quthb (2003, hlm. 175) mengemukakan, fitnah atau cobaan itu bukan hanya dengan kesulitan, kesengsaraan dan sejenisnya saja. Tetapi, fitnah itu juga bisa berupa kemakmuran dan kekayaan. Termasuk kemakmuran dan kesenangan itu adalah anak-anak. Sebagaimana firman Allāh dalam QS. Al-Anfāl [8]: 28,
28. dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allāh-lah pahala yang besar.

Allāh menjadikan anak sebagai ujian atau cobaan karena Dia hendak melihat apa yang diperbuat dan dilakukan seorang hamba terhadapnya. Apakah dia mau mensyukurinya dan menunaikan nikmat yang diperolehnya itu? Ataukah, malah sibuk dengannya sehingga melupakan hak-hak Allāh (Quthb, 2003, hlm. 175).
Allāh mengulang kembali peringatan tentang fitnah anak-anak ini dalam berbagai bentuk agar manusia berhati-hati; dan tidak terjerumus kepada penyimpangan dan maksiat (Quthb, 2004, hlm. 302). Sebagaimana dalam QS. At-Tagābun [64]: 15 dan QS. Luqman [31]: 33,
15. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allāh-lah pahala yang besar.

33. Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allāh adalah benar, Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allāh.
Kedudukan anak sebagai fitnah maksudnya adalah orang tua yang mendapat kepercayaan untuk membesarkan dan mendidik anak itu diuji seberapa jauh ia dapat sabar dan bertanggung jawab dalam mengemban amanat dari Allah Maha Pencipta. Pertanggungjawaban tersebut tidak sekedar menyangkut masa kini, melainkan melibatkan juga masa depannya (Soelaeman, 1994, hlm. 139).
Aam Abdussalam (Rumah Cahaya, 2014, T.hlm) menerangkan bahwa kedudukan anak bisa menjadi fitnah bagi kedua orang tuanya apabila mereka terperdaya dengan kebanggaan anak mereka. Fitnah ini terjadi karena orang tua berlebihan dalam memperlakukan anak sebagai kebanggaan tanpa memberikan sentuhan nilai-nilai rohani. Sehingga anak bisa menjadi manja, tidak tahu diri, tidak tahu sopan-santun, bebal dan malah menjadi musibah.
Keterangan ayat-ayat yang menyatakan bahwa kedudukan anak bisa menjadi fitnah untuk kedua orang tuanya ini menunjukkan pentingnya perhatian, penjagaan, dan pendidikan yang benar bagi orang tua terhadap anak-anak mereka.

g. Anak sebagai ‘aduwan
‘Aduwan merupakan bentukan kata dari huruf ا – د – ع yang memiliki beragam makna apabila mengalami perubahan bentuk kata. Di antaranya: musuh, permusuhan, memusuhi, menganiaya, melampaui batas, menjauhkan, saling bermusuhan, membenci, kebencian, berselisih, dll (Munawwir, 1997, hlm. 907-908).
Keterangan anak sebagai ‘aduwan dapat ditemukan dalam QS. Al-Tagābun [64]: 14,
14. Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allāh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Aam Abdussalaam dalam Rumah Cahaya (2014, T.hlm) menerangkan bahwa seorang anak masuk surga atau masuk neraka itu ada hubungannya dengan orang tua. Kalau seorang bapak membimbing anaknya, menjaga dan melindunginya karena khawatir terjerumus pada neraka akhirat itu jauh lebih penting. Karena saat ini orang tua memiliki kecenderungan khawatir kepada duniawinya anak. Tidak sedikit seorang anak yang menelantarkan orang tuanya, itu bukan salah anak sendiri. Itu karena orang tuanya sejak kecil hanya memberikannya perhatian, anaknya hanya dijadikan kebanggaan tanpa disertai dengan pengendalian atau sentuhan nilai-nilai moral. Hingga kelak seorang anak bisa menjadi musuh kedua orang tuanya di hari pembalasan.

Leave a Reply