Konsep Anak dalam Al-Qurān

Al-Qurān menyebut anak dengan istilah yang beragam sebagaimana halnya ragam sebutan untuk manusia. Sekadar tamsil, untuk menyebut manusia, Al-Qurān terkadang menggunakan istilah al-basyar, an-nās, al-ins, Abdullāh, khalīfatullāh, banī Ādam, dan sebagainya. Beragam istilah ini tentu bukan tanpa maksud. Masing-masing mengandung pengertian yang berbeda sesuai dengan konteksnya (Awaliyah, 2008, hlm. 32).
Dalam menyebut istilah anak, Al-Qurān menggunakan istilah yang beragam. Żuriyyah dalam kamus Munawwir (Munawwir, 1997, hlm. 444) diartikan sebagai anak, cucu dan keturunan. Asal kandungan ini juga berarti makhluk yang keluar dari tulang iga (sulb) Nabi Adam a.s. Abdul Baqi dalam Al-Mu’jam (Awaliyah, 2008, hlm. 33) mengemukakan bahwa dalam Al-Qurān kata ini disebut sebanyak 41 kali dengan berbagai bentuk derivasinya dan penambahan domir, di antaranya: żurriyataha; żurriyatahu atau żurriyatihi; żurriyatahum atau żurriyatuhum; żurriyatan, żurriyatun, atau żurriyatin; żurriyati; żurriyatihim; żurriyatihima; żurriyatina; dan zurriyātina.

  1. Kata Ibn berarti anak (Munawwir, 1997, hlm. 112) diartikan sebagai anak. Tapi bisa pula diartikan orang seperti dalam istilah ibn sabil yang bermakna orang yang menempuh perjalanan. Dari asal kata yang sama, makna bisa berubah. Misalnya, bermakna bangunan dari kata bina. Abdul Baqi dalam Al-Mu’jam (Awaliyah, 2008, hlm. 39) mengemukakan bahwa kata ibn dengan berbagai derivasinya terulang sebanyak 47 kali dalam Al-Qurān. Di antara perinciannya: abnā dan banī yang keduanya terulang kali disebutkan dengan bermacam domir yang menyertainya.
  2. Kata walad ditemukan memiliki banyak makna dengan berbagai penambahan domirnya (Munawwir, 1997, hlm. 1580), di antaranya: lumpur; lahir, timbul, terjadi; lahir, timbul, terjadi; perempuan yang subur banyak anak; dan bayi, anak laki-laki. Kata walad berikut derivasinya terulang sebanyak 165 kali dalam Al-Qurān (Awaliyah, 2008, hlm. 41) yakni aulād yang lazim diikuti oleh domir dan wildān.
  3. Kata aţfal ditemukan memiliki makna bayi, anak kecil (Munawwir, 1997, hlm. 856). Ahmad Baqi dalam Awaliyah (2008, hlm. 42) mengemukakan bahwa kata ini hanya ditemukan dalam satu tempat, QS. An-Nūr [24]: 59.
  4. Kata şabiy bermakna anak laki-laki (Munawwir, 1997, hlm. 762). Sedangkan Ahmad Baqi dalam Awasilah (2008, hlm. 42) mengemukakan bahwa kata ini disebut dalam bacaan nasab, şabiyyan.
  5. Kata aqrab tidak bermakna langsung kepada anak. Namun demikian, ia masih memiliki kedekatan makna dan berhubungan erat dengan anak, cucu, dan bentuk-bentuk keturunan ke bawah (Awaliyah, 2008, hlm. 43).
  6. Kata aşbāţ bermakna anak (Munawwir, 1997, hlm. 605). Ahmad Baqi dalam Al-Mu’jam (Awaliyah, 2008, hlm. 44) mengemukakan bahwa kata ini terulang sebanyak 4 kali.
  7. Kata gulām bermakna seorang anak muda, berikut turunannya terulang dalam Al-Qurān sebanyak 12 kali.
  8. Kata naşl bermakna keturunan. Al-Qurān hanya menggunakan kata ini dalam satu tempat.
  9. Kata rabāib bermakna anak tiri. Kata ini pun hanya terdapat di satu tempat dalam Al-Qurān.
  10. Kata ad’iyā’akum bermakna anak angkat (Munawwir, 1997, hlm. 404). Al-Qurān menggunakan kata ini dalam 2 tempat.

Referensi:
Awaliyah, S. (2008). Konsep Anak dalam Al-Qurǎn dan Implikasi Pendidikan Anak dalam Keluarga. Skripsi pada Jurusan Kependidikan Islam Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta: diterbitkan [online] diakses pada 15 April 2013
Munawwir, A.W. (1997). Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap. Surabaya: Pustaka Progressif

Leave a Reply