Pesan untuk Orang Tua dalam Menamai Anak-anak Mereka

Ketika anaknya baru lahir, biasanya para orang tua bersegera mencarikan dan memilih nama yang baik untuk anak mereka. Hal ini merupakan tradisi sosial yang telah berlaku sejak dulu. Nama merupakan tanda pengenal pertama yang paling utama bagi seorang anak. Dengan nama, eksistensi anak akan diketahui oleh masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Dengan nama pula seorang anak akan terangkat harkat derajatnya. Dienul Islam sangat memperhatikan permasalahan nama. Sehingga ditetapkan pula berbagai hukum yang berkaitan dengan masalah nama ini.
A. Waktu Pemberian Nama
Diriwayatkan dari Samurah ‘Ibn Jundub ra. bahwa Rasulullah saw bersabda, “Setiap anak itu digadaikan dengan akikah yang disembelih pada hari ketujuh, dan ia dinamai, serta dicukur rambut kepalanya pada hari ketujuh, dan ia dinamai, serta dicukur rambut kepalanya pada hari itu”. (HR. Lima ahli hadiś dan di-Șahih-kan oleh Imam Turmudzi)

Hadiś di atas menetapkan bahwa menamai anak itu adalah pada hari ketujuh. Tetapi ada beberapa hadiś lain yang mengisyaratkan (bolehnya) menamai anak pada hari ketika baru lahir. Di antara hadiś tersebut:

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Sahal bin Sa’d as-Sa’idy. Ia mengatakan: Al-Mundzir bin Abu Usayd pernah dibawa oleh ayahnya – ke hadapan Rasulullah saw ketika baru dilahirkan. Lalu ia diletakkan pada paha Rasulullah saw. Sedangkan Abu Usayd duduk. Nabi Muhammad saw. mengalihkan perhatian dengan (mengambil) sesuatu yang ada di depannya. Abu Usayd memerintahkan untuk mengambil anaknya. Lalu anaknya itu dipindahkan dari pangkuan Rasulullah saw. Kemudian Nabi Muhammad saw ingat kembali-kepada anak tersebut. Lalu bertanya, kemana anak itu? Abu Usayd menjawab, ‘kami membalikkannya (menelungkupkan)nya, wahai Rasulullah.’ Ia bersabda, ‘Siapakah namanya?’ Abu Usayd menjawab, ‘Fulan (si anu)’. Rasulullah saw bersabda, ‘Justru namanya adalah al-Mundzir.’ Maka ia pun menamainya al-Mundzir (yang memberi peringatan).

Dalam kitab Șahih Muslim diriwayatkan hadiś dari Sulaiman bin Mughirah dari Tsabit, dari Anas ra. Ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, ‘Pada malam ini aku dikaruniai seorang anak laki-laki, maka aku menamainya dengan nama ayahku (kakekku), yakni, Ibrahim’. (Shahih Muslim, juz IV: 1806).
Dengan demikian dapat diambil kesimpulan, mengenai masalah waktu penamaan anak itu ada kesempatan yang cukup luang. Boleh saja penamaan anak itu sesegera mungkin. Yakni sejak hari pertama kelahirannya. Boleh juga diakhirkan sampai hari ketiga. Bahkan masih diperbolehkan sampai hari akikahnya, yakni hari ketujuh. Juga dapat saja dilakukan baik sebelum kelahirannya, mamupun sesudah hari ketujuh (al-Majmu’ Juz VIII: 351; al-Mughny wa asy-Syarh al-Kabir, Juz III: 587 dan seterusnya).

B. Hal-hal yang Harus dalam Pemberian Nama
1. Hendaklah orang tua menghindarkan nama-nama yang jelek dari putra-putrinya. Hal itu dimaksudkan demi memelihara kehormatan dirinya dan kemuliannya. Jangan sampai anak-anak mendapatkan cemoohan dan penghinaan hanya karena namanya jelek. Adapun Rasulullah saw. adalah orang yang suka mengubah nama-nama yang jelek, sebagaimana diriwayatkan Imam Turmudzi dan Ibn Majah dari Abdullah bin Umar ra. bahwa seorang putri Umar dinamai ‘Ashiyah (pelaku kemaksiatan). Maka Rasulullah saw. pun menamainya dengan Jamilah (cantik).
2. Orang tua hendaknya menjauhkan nama-nama yang diambil dari kata-kata yang mengandung pesimisme atau kesialan. Sehingga dengan demikian, anak-anak akan terhindari dari bencana yang diakibatkan oleh nama jelek tersebut dan kesialan yang mungkin ditimbulkannya.
Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda:
Dari Sa’id bin Musayyab dari ayahnya , dari kakeknya; ia mengatakan, “Aku pernah mendatangi Nabi Muhammad saw. Ia bertanya, ‘Siapa namamu?’ Aku menjawab, ‘Huzn (kesedihan).’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Namamu adalah Sahal (mudah).’ Ia berkata, ‘Saya tidak akan mengubah nama yang diberikan ayahku.’ Ibn Musayyib berkata, ‘Ternyata kesedihan tetap menyertai kami setelah kejadian itu.’”

Imam Malik-dalam Al-Muwaththa’-nya meriwayatkan dari Yahya bin Sa’id bahwa Umar Bin Kattab ra. pernah berkata kepada seseorang (laki-laki), “Siapa namamu?” Ia menjawab, “Nama saya Jamrah (bara api/kerikil). “Umar berkata, “Dari keturunan siapa?” Ia menjawab, “Dari keturunan Haraqah (nyala api).” Umar bertanya, “Di mana tempat tinggalmu?” Ia menjawab, “hazrah an-nar (di lautan api).” Umar bertanya, “Tepatnya di sebelah mana?” Di Dzat Lazha (yang paling menyala-nyala). Umar berkata, “Aku tahu, bahwa mereka memang betul-betul celaka dan hancur terbakar.” Maka terjadi seperti apa yang dikatakan Umar Ibn Kattab ra. (Al-Muwatta ‘Imam Malik, juz II: 973).
3. Orang tua juga harus menghindari untuk anak-anaknya nama-nama yang khusus bagi Allah SWT. Mereka tidak boleh menamai anaknya dengan al-Ahad, Aş-Șamad, ar-Razzaq, al-Khalik, dan lain-lainnya.

Abu Daud dalam Sunannya mengatakan, “Sesungguhnya Hani’ ketika diutus oleh Rasulullah saw ke Madinah bersama kaumnya, mereka menggelarinya dengan sebutan Abu al-Hakam. Rasulullah saw memanggilnya, lalu bersabda, ‘Sesungguhnya Allah itu adalah al-Hakam (Penentu Hukum) dan Dia-lah sumber hukum. Mengapa Anda digelari Abu al-Hakam?’ Dia menjawab, ‘Sesungguhnya kaumku, jika berselisih pendapat mengenai sesuatu, mereka mendatangiku. Lalu aku menentukan hukum di antara mereka. Ternyata kedua pihak merasa puas dengan keputusanku.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Betapa bagusnya itu. Lalu, apakah kamu mempunyai anak?’ Ia berkata, ‘Saya punya anak bernama Syurayh, Muslim dan Abdullah.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Jadi, kamu adalah Abu Syurayh dan bukan Abu Al-Hakam.”

Imam Muslim, dalam Șahih-nya meriwayatkan hadiś Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Manusia yang paling dibenci/dimurkai oleh Allah SWT pada hari kiamat; dan yang paling jahat adalah seseorang yang bernama Malik al-Amlak (raja diraja), sebab tidak ada raja yang sebenarnya selain Allah SWT (Șahih Muslim, Juz III: 1688).

4. Orang tua mesti menjauhkan dari anak-anaknya nama-nama yang mengandung nasib baik atau keuntungan dan optimisma/pengharapan. Sehingga tidak ada kecemasan dan kesimpangsiuran ketika mereka dipanggil atau disebut-sebut pada saat mereka tidak ada di tempat, dengan panggilan Laa (tidak). Seperti penamaan dengan Aflah (beruntung), Nafi’ (bermanfaat), Rabah (keuntungan/beruntung), dan Yasar (kaya/kekayaan). (Paling tidak, sering dilecehkan).

Imam Muslim, Imam Turmudzi, dan Imam Abu Daud meriwayatkan hadiś Samurah ‘Ibn Jundub ra. Ia berkata, Rasulullah saw. bersabda,
“Perkataan/ucapan yang paling disukai Allah adalah empat, Subhanallah, wa al-hamdu lillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar (Mahasuci Allah; segala puji hanya miliki Allah; dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah; dan Allah itu Mahabesar), janganlah kamu sekali-kali menamai anak dengan Yasar, Rabah, Najih, dan Aflah. Sebab boleh jadi kamu mengatakan, apakah disitu ada dia-Aflah umpamanya-dan ternyata tidak ada, maka ada yang mengatakan, la-aflah (tidak beruntung). Hanya perkataan yang empat itu saja, dan janganlah kamu sekali-kali menambahinya.” (Sunan Baihaqi, juz IX: 306; Sunan Abu Daud, Juz IV: 397, Shahih Muslim, Juz III: 1680).

5. Orang tua juga hendaknya menjauhkan nama-nama yang biasa disembah oleh sebagian manusia. Seperti nama Abdul ‘Uzza, Abdul Ka’bah, Abdu an-Nabiy, dan yang seperti itu. Penamaan sperti itu diharamkan oleh para ulama, sesuai dengan kesepakatannya.

6. Orang tua harus menjauhkan dari putra-putrinya nama-nama yang mengandung makna sanjungan, kecintaan, kenikmatan/kelezatan. Seperti nama Huyam (kecintaan), Nariman, Ahlam (mimpi-mimpi) dan yang seperti itu. Mengapa tidak boleh? Untuk menyatakan kepribadian kaum Muslimin dan keistimewaannya, dan untuk menegaskan identitas Islam serta umatnya yang sesungguhnya.

Oleh karena itu, Rasulullah saw. memerintahkan dan menganjurkan umat Islam untuk menggunakan nama dan menamai putra-putrinya dengan nama-nama Nabi, Abdullah dan Abdurrahman serta nama-nama lain yang seperti itu. Sehingga terlihatlah identitas kepribadian umat Islam yang pasti jauh berbeda dengan identitas kepribadian umat lainnya dalam berbagai bentuk dan manifestasinya. Sehingga umat Islam selalu tampil sebagi umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk menjadi suri tauladan bagi umat lain. Yang bertugas untuk menunjuki manusia ke jalan yang benar, cahaya kebenaran, cahaya Islam dan segala prinsip-prinsip dasarnya.

Abu Daud dan Nasa’I meriwayatkan dari Abu Wahb al-Jasymy ra, yang mengatakan, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Pakailah nama-nama Nabi’ dan nama-nama yang paling disukai Allah seperti Abdullah, dan Abdurrahman. Sedang nama yang paling benar/bagus adalah Harits dan Hammam. Sedang nama yang paling jelek adalah Harb (peperangan) dan Murrah (yang pahit). (Sunan Baihaqi, juz IX: 306; dan Sunan Abu Daud, juz IV: 394).

C. Masalah di sekitar penamaan anak, yaitu sebagai berikut:
1. Jika kedua orang tua tidak sepakat mengenai suatu nama anak, maka yang harus didahulukan adalah pilihan sang ayah. Hadiś-hadiś yang telah disebutkan pada permulaan pembahasan dan sesudahnya mengisyaratkan bahwa pemberian nama anak itu adalah hak ayah.
Al-Qurān dengan terang-terangan menyatakan bahwa sang anak dinisbatkan kepada ayahnya dan bukan kepada ibunya. Antara lain disebutkan, “Panggilah mereka (anak-anak itu) dengan (memakai) nama bapak mereka; itulah yang lebih adil di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 5).
Diriwayatkan dari Imam Muslim dari Anas ra, Rasulullah saw. bersabda, “Pada malam ini aku dikaruniai anak laki-laki. Lalu aku menamainya dengan nama ayahku, Ibrahim.” (Shahih Muslim, Juz IV: 1806).
2. Tidak dibolehkan bagi sang ayah atau yang lainnya mengelari anaknya dengan gelar-gelar yang jelek dan terela, seperti si pendek/boncel, si buta, si pincang, si bisu, dan yang seperti itu. Karena gelar-gelar yang jelek seperti itu termasuk yang dilarang oleh Allah SWT, sebagaimana difirmankan-Nya, “….dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar yang jelek.”
Sebab dengan nama-nama yang jelek seperti itu, anak akan terpengaruh dan akan melakukan berbagai penyimpangan psikologis dan sosial.
Semoga dengan adanya informasi ini, para orang tua dapat mengikuti aturan Islam dalam menamai anak-anak mereka. Agar anak-anak mereka bisa menjadi pribadi yang mulia. Karena bahwasanya nama yang baik adalah doa yang baik untuk anak tersebut (Nd).

Dialihjudulkan dan dirujuk dari:
Yanggo, Huzaemah Tahido. 2004. Fiqh Anak. Jakarta: Al-Mawardi (halaman 57-64)

Leave a Reply