Al-Qur'an sahabat Orang Sakit

AlQurān Sahabat Setia Orang Sakit

Oleh: KH. Dr. Saiful Islam Mubarak, Lc

“Allāh hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” ( QS. An-Nisā [4]: 28 ).

Semua orang senantiasa mendambakan hidup sehat. Demi terpeliharanya kenikmatan ini, mereka rela mengorbankan apapun yang mereka miliki. Namun sayang, mereka kadang melupakan Dzat Pemberi kesehatan. Biasanya, seseorang sangat jauh dari Allāh ketika sehat dan sangat “merasa” dengan-Nya ketika menderita sakit.

Sedikit sekali orang yang bertambah dekat kepada Allāh karena melimpahnya kenikmatan. Dia pasti akan celaka. Namun, yang lebih celaka adalah orang yang tidak banyak diberi kenikmatan kemudian menjauh dari Allāh.

Sakit, bagi seorang mukmin merupakan bukti kasih sayang Allāh. Berbeda halnya dengan sakit yang diderita orang kafir, karena hal itu merupakan peringatan atau awal siksaan yang kemudian akan dilipatgandakan di hari yang telah ditentukan. Sakit bagi seorang mukmin bukanlah kerugian, namun merupakan media menuju ketakwaan karena ketika menderita sakit, dia dapat meningkatkan taqarrub (kedekatan) kepada Rabbnya.

Orang sakit relatif jauh dari berbagai kemaksiatan karena merasakan sakit saja sudah menguras tenaga dan pikirannya. Sementara itu, orang sehat, ketika beribadah pun, acapkali ternodai dengan kemaksiatan, kekhusyukan pun sulit dirasakan karena godaan yang tidak disadari.

Orang sakit, setiap kali menunaikan ibadah, tidak hanya mendapatkan pahala dari ibadahnya tersebut, dia pun mendapatkan pahala dari kesabarannya. Pahala ibadahnya pun berlipat ganda.

Orang sakit selalu menyadari penting istighfar sehingga bibirnya senantiasa basah oleh kalimat istighfar, tasbih, dan dzikir. Padahal, jika orang sakit merasa perlu memperbanyak istighfar dan yang lainnya, orang sehat justru lebih memerlukannya.

Sakit bagi orang mukmin merupakan imtihan (ujian) untuk meningkatkan ketakwaan. Jika dia tidak menyadari hal itu walau dekat dengan AlQurān, firman Allāh tersebut akan segera mengingatkannya dengan menjelaskan bahwa dia akan mendapatkan kegembiraan yang abadi.

“ Dan sungguh Kami akan memberikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan “ Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.Al-Baqarah [2] :155-156)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa puncak kebahagiaan akan diraih melalui beberapa ujian, diantarnya melalui rasa takut, lapar, sakit, kekurangan harta, dan kekurangan makanan.

Semua menuntut kesabaran, dan sabar akan dicapai ketika ada penderitaan. Tidak ada seorang pun yang ingin menderita. Akan tetapi, meski seseorang berusaha untuk menghindar darinya, jika sudah tiba saatnnya, tetap akan mengalaminya.

Yang membedakan antara satu dengan yang lainnya adalah faktor munculnya penderitaan itu. Jika dengan banyaknya ibadah orang mengalami letih dan jenuh, hal tersebut tidak berarti bahwa berbuat kemaksiatan tidak berarti letih dan jenuh karena faktanya banyak orang kelelahan bahkan menderita akibat bermaksiat. Oleh karena itu, yakinlah jika Allāh menghendaki untuk menimpakan suatu musibah, pasti akan terjadi.

Kita sering melihat orang sangat berhati-hati dalam mengonsumsi makanan dan minuman serta menghindari udara yang tidak sehat, namun tetap orang tersebut menderita sakit. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang kekurangan gizi, tinggal di tempat yang tidak layak, airnya kotor dan udaranya pengap serta bau, namun tetap sehat. Hal ini membuktikan kekuasaan Allāh Swt.

Oleh karena itu, beruntung orang yang memanfaatkan kesempatan selama sakit dengan meningkatkan taqarrub kepada Allāh dan merugi orang yang membiarkan waktu sehat kosong, tidak dipakai untuk beribadah dan berjuang membela agama Allāh. Dengan kata lain, tidak dikatakan merugi seseorang menderita sakit selama ia berdzikir kepada-Nya. Justru, yang merugi adalah orang yang sakit tidak mau berdzikir kepada-Nya. Bahkan dia merugi dua kali; pertama, sakit dan kedua, dia tidak berdzikir.

Simpulan, yang harus kita hawatirkan bukanlah sakit, akan tetapi kita jauh dari Allāh, tidak merindukan rahmat-Nya, serta lalai terhadap kewajiban hidup.

Langkah apakah yang harus ditempuh orang sakit agar selalu ingat kepada Allāh?

“AlQurān memberikan solusi”,

Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, sesungguhnya merekan pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allāh apa yang tidak mereka harapkan. Dan, adalah Allāh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa [5]: 104)

Antara orang yang sakit dalam keadaan iman dengan orang yang sakit dalam keadaan kafir keduanya sama namun kedudukannya berbeda. Yang pertama berjuang untuk meraih derajat yang mulia di hadapan yang Maha tinggi dan Maha agung, sementara yang kedua sedang berjuang dari satu penderitaan menuju penderitaan berikutnya yang lebih berat.

Banyak orang yang berusaha meraih cita-cita duniawi. Mereka rela meninggalkan berbagai kesenangan; makanan yang enak, rumah yang nyaman, kasur yang empuk, bahkan jauh dari keluarga, padahal apa yang mereka cita-citakan tidak ada jaminan pasti tercapai. Kemudian, walau memiliki kesempatan untuk
meraih kesuksesan dalam waktu yang telah ditargetkan, namun apakah dia memiliki kepastian bahwa dia akan hidup sampai waktu yang telah dia targetkan tersebut? Mungkin saja dia meninggal beberapa menit sebelum tiba waktunya meraih kesuksesan tersebut. Namun demikian, mereka tetap optimis, bahkan untuk memotivasi semangat kerja, mereka berusaha berlari sejauh mungkin dari kematian, paling tidak melupakannya, karena hal itu akan mengurangi semangat kerja. Hal tersebut karena hidup dalam persepsi mereka adalah kehidupan yang sebentar.

Padahal, kehidupan yang hakiki adalah kehidupan setelah mati. Adapun kematian, hanyalah pintu yang dilewati orang yang tengah berjalan dari tempat yang sempit menuju tempat yang luas, dari kehidupan yang sementara menuju kehidupan abadi, dari kesenangan sesaat menuju penderitaan yang sebenarnya jika dia bermaksiat kepad Allāh dan kesenangan yang abadi jika dia taat kepada-Nya, berjuang menghadapi berbagai beban hidup sebagai ujian untuk meraih kedudukan yang tinggi di hadapan yang Maha suci.
Adakah orang yang naik derajat dengan hanya tinggal diam? Orang yang tidak merasakan kesulitan hidup di dunia, hendaklah mempersiapkan diri untuk mengahadapi kesulitan di akhirat. Menurut ahli tafsir, firman Allāh dalam surat Al-Baqarah ayat 155-157 di atas menjelaskan tentang berbagai tantangan hidup yang biasa dihadapi oleh para pejuang agama Allāh.

Rasa takut adalah sebuah fitrah. Dengan takut, manusia akan menjaga diri dari berbagai bahaya yang mengancam. Sementara itu, tidak ada ancaman yang paling berbahaya melebihi siksa Allāh. Oleh karena itu, kita tidak boleh takut selain dari murka dan azab Allāh. Namun demikian, kebanyakan manusia lebih takut kepada selain Allāh, padahal jika Allāh menghendaki untuk menimpakan bencana, apakah hamba tersebut takut atau tidak, pasti akan terjadi.

Di samping rasa takut, bagi seorang pejuang, rasa lapar pun terbiasa dihadapinya. Salah seorang sahabat AlQurān yang namanya dicatat sejarah dengan tinta emas pernah mengalami rasa lapar yang melampaui batas kemampuan manusia sehingga Allāh turunkan kepadanya pertolongan. Dialah Khubaib bin ‘Adiy yang ditahan oleh Bani Harits tanpa diberi makan dan minum. Ketika seorang wanita dari Bani Harits menengoknya, dia terkejut karena Khubaib yang sedang diborgol dengan besi itu sedang memakan buah anggur yang masih segar. Perempuan itu berkata,

“Demi Allāh, aku menemukan dia sedang makan anggur yang ada di tangannya, padahal dia diborgol dengan besi dan tidak satu biji pun buah anggur di Mekkah.” Ia sering berkata, “Sungguh, buah itu adalah rezeki yang Allāh berikan kepada Khubaib. (HR. Bukhari)

Khubaib bin ‘Adiy menyakini bahwa siksaan yang tengah dialaminya itu tidak lama lagi akan berakhir dan yang akan berganti menjadi kebahagiaan.

Tidak ada penyakit atau penderita yang tidak akan berakhir. Akan tetapi, yang menjadi persoalan adalah bagaimana mengisi waktu selama ditimpa ujian tersebut. Jika kita mengisinya dengan su’uzhan (berburuk sangka) kepada Allāh, Allāh akan menempatkan kita di tempat yang lebih menyiksa. Sebaliknya, jika kita menghadapinya dengan husnuzhan (berbaik sangka) kepada-Nya, Allāh akan membuktikan kekuasaan-Nya dan menempatkan kita di tempat yang mulia.

Ya Allāh, hanya kepada-Mu ku panjatkan puji dan syukur karena Engkau telah tanamkan keimanan dalam hatiku. Meski badanku sedang sakit, di dalam hatiku masih terpelihara keimanan kepada-Mu. Ya Allāh, Engkau Maha tahu, karena penyakit yang ku derita ini, aku dapat menjauh dari perbuatan maksiat dan aku berusaha untuk selalu mengingat-Mu.

Ya Allāh, jika saat ini kondisi badanku dalam keadaan lemah sebagaimana Engkau ketahui, aku mohon hanya kepada-Mu agar Engkau kuatkan imanku sehingga penyakit yang sedang kuderita ini membawaku semakin dekat dengan-Mu.

Ya Allāh, jadikanlah penyakit yang kuderita ini sebagai penebus dosaku meski dosaku demikian banyak, lebih banyak dari yang aku ketahui, dan jauhkanlah aku dari siksaan-Mu.

Ya Allāh, kabulkanlah permohonanku. Amin.

 

Foto : http://www.radiokita.or.id

Leave a Reply