Mukjizat Huruf Dan Qiraat

Sekiranya istilah “Tadabbur Huruf Dan Tafsir Qiraat”, masih dipandang asing bagi sebagian umat, maka sebelum masuk pada pembahasan tentang apa arti dan maksud dari istilah tersebut, dirasa perlu untuk dikemukakan terlebih dahulu beberapa pertanyaan sebagai berikut:

  1. Penulisan huruf Al-Quran terbukti berbeda dengan penulisan hadits Nabi Muhammad SAWatau buku-buku berbahasa Arab. Pertanyaannya adalah: Adakah karya ulama terdahulu yang menjelaskan rahasia penulisan ini secara menyeluruh?
  2. Al-Quran telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia. Al-Quran juga telah tersebar dengan berbagai qiraat yang dikenal dengan القراءات السبع  qiraat sab’ah (tujuh qiraat) dan القراءات العشر qiraat ‘asyrah (sepuluh qiraat). Pertanyaannya adalah: Adakah terjemah Al-Quran yang memerhatikan qiraat sab’ah atau qira’at  ‘asyrah?
  3. Kitab-kitab ulumulquran (ilmu-ilmu Al-Quran) telah tersebar di seluruh dunia dengan jumlah yang sulit dihitung. Pertanyaannya adalah: Adakah buku ulumulquran yang memerhatikan karakter bahasa Indonesia untuk memahami Al-Quran?

Sejak beberapa tahun terakhir ini sorotan terhadap terjemah Al-Quran Departemen Agama bermuncullan dari berbagai pihak.

Sorotan tersebut ada yang menggunakan cara yang halus dan persuasive,  ada pula yang menggunakan cara lain. Hal itu membuktikan adanya perhatian yang serius terhadap makna Al-Quran dan adanya kekhawatiran akan terjadinya pergeseran makna yang mengganggu terpeliharanya keaslian Al-Quran, ini dari satu segi dan dari segi lain, ini merupkan bukti bahwa masih banyak masalah yang berhubungan dengan pemeliharan Al-Quran dan penjelasan tentang mukjizat Al-Quran yang belum mendapat perhatian yang cukup, antara lain:

  • Makna Al-Quran dibalik penulisannya yang terbukti berbeda dari penulisan hadits atau litaratur berbahasa Arab;
  • Makna Al-Quran dibalik sepuluh qiraat yang disepakati ulama sebagai qiraat mutawatirah, sehingga semua qiraat tersebut biasa dibacakan dalam shalat di beberapa nagara muslimin, meski di Indonesia hal ini belum memasyarakat.
  • Pentingnya ilmu Al-Quran yang disusun untuk umat non Arab terutama umat Islam Indonesia yang diketahui sebagai komunitas Muslim terbesar di dunia dengan memerhatikan perbedaan karakter masing-masing dari Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab pada saat digunakan untuk menerjemahkan Al-Quran.

 

Sejak beberapa tahun yang lalu qiraat mulai disosialisasikan kepada umat Islam Indonesia melalui MTQ dan STQ, namun hal itu baru pada tataran bacaannya atau seni baca dan belum menyentuh makna dibalik qiraat.

Tidak diragukan bahwa masing-masing bahasa memiliki karakter. Bahasa Indonesia memiliki karakter yang sangat banyak perbedaannya dari bahasa Arab, terlebih dengan bahasa Arab Al-Quran. Karena bahasa Al-Quran bukan bahasa orang Arab akan tetapi bahasa wahyu yang sudah eksis sejak sebelum lahir bangsa Arab dan bangsa lainnya.

Sungguh banyak ditemukan dalam Al-Quran lafazh-lafazh yang berbeda, namun diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan makna yang sama. Dan ditemukan pula lafazh yang sama terulang pada beberapa ayat atau surat yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan menggunakan kata yang berbeda. Bahkan ada pula lafazh yang diterjemahkan kedalam kata yang tidak ada hubungan dengan makna yang sebenarnya, namun demikian para ahli bahasa pun belum menaruh perhatian.

Sungguh sulit dihitung, berapa jumlah buku ulumulquran (ilmu-ilmu untuk mempelajari Al-Quran) yang sudah beredar di dunia. Buku-buku tersebut telah menjadi rujukan ulama, asatidz, para penulis skripsi, tesis, disertasi dan karya-karya lainnya. Semua karya tersebut disusun untuk membantu umat dalam memahami Al-Quran agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab di tengah-tengah masyarakat Arab, namun demikian mereka menemukan bahasa Al-Quran sangat berbeda dengan bahasa yang biasa mereka gunakan. Ini mebuktikan bahwa bahasa Arab Al-Quran bukan bahasa Arab manusia. Karena itu, tidak semua ahli bahasa Arab dapat menjiwai keagungan Al-Quran. Untuk memahami dan menjiwai Al-Quran diperlukan tiga hal utama yang tidak terpisahkan yaitu iman, ilmu dan amal.

Untuk memahami lafazh-lafazh yang terdapat dalam Al-Quran sangat diperlukan pengetahuan bahasa Arab meliputi قواعد اللغة العربية  (grammar), الذوق العربي  (penjiwaan bahasa Arab) dan البلاغة والنقد الأدبي(ilmu balaghah dan ilmu sastra).

Untuk mencapai pada sasaran, ilmu tersebut tidak cukup tanpa disertai dengan taqarrub(pendekatan diri) kepada Allah. Dan taqarrub kepadaNya adalah merupakan satu aktivitas yang tidak terukur dan tidak terikat waktu dan tempat. Karena itu, boleh jadi ada orang yang merasa sudah melakukan taqarrub dengan baik, maka dengan perasaan tersebut dia kehilangan hakikat taqarrub yang sebenarnya. Sebaliknya, ada orang yang sedang menyadari bahwa dirinya sedang jauh dari Allah, maka kesadaran tersebut merupakan satu langkah menuju taqarrub pada-Nya.

Dengan demikian, maka untuk mengetahui makna-makna yang masih tersembunyi dalam Al-Quran baik bacaannya atau penulisannya sangat diperlukan pengalaman amal jihadi yang berkesinambungan. Sebab amal tersebut laksana labolatarium yang dapat mengantarkan setiap hamba untuk menemukan masalah dan problem umat yang tiada habisnya yang menuntut solusi Islami setiap saat. Betapapun  problem hidup umat itu begitu banyak dan berat, maka sesungguhnya di dalam Al-Quran telah tersedia semua solusi bagi semua problem yang dihadapi umat seluruh dunia untuk sepanjang masa. Solusi tersebut akan diketahui dengan cara berinteraksi dengan Al-Quran secara total dan menyeluruh yaitu dengan memerhatikan segala aspek sesuai turunnya.

Wahyu yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad SAWSAWmemiliki  empat nama yang populer. Keempat nama tersebut sangat bermakna dan merupakan satu kesatuan yang memelihara keasliannya secara keseluruhan, yaitu: Al-Quran, Al-Kitab, Al-Furqan, dan AlDzikr. Semuanya adalah mukjizat abadi yang tidak pernah akan selesai dikaji. Namun demikian, kemampuan manusia sangat beragam dalam menikmatinya sebagai pedoman hidup menuju cita-cita abadi. Setiap kali kajian ditingkatkan maka mukjizat tersebut semakin membuktikan hakikatnya yang tidak pernah berkesudahan. Dan kemampuan manusia untuk meraih kenikmatan interaksi dengan Al-Quran sangat beragam.

Untuk meraih nikmatnya hidup bersama Al-Quran, Al-Kitab, AlDzikr, dan nikmatnya hidup bersama Al-Furqan sangat diperlukan komunikasi dengan Zat Yang Mahatinggi karena keempat istilah tersebut sampai kepada manusia bukan dari hasil pencarian di bumi atau ditemukan dengan pendidikan dan penelitian (diklat) akan tetapi Allah turunkan sesuai kehendak-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah berifirman:

(إِنّا نَحنُ نَزَّلنا عَلَيكَ القُرآنَ تَنزيلًا (الإنسان: ٢٣

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu (hai Muhammad) AlQur’an dengan berangsur-angsur. (QS. 76:23)

(نَزَّلَ عَلَيكَ الكِتابَ بِالحَقِّ مُصَدِّقًا لِما بَينَ يَدَيهِ وَأَنزَلَ التَّوراةَ وَالإِنجيلَ  (آل عمران: ٣

Dia menurunkan Al-Kitab kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan apa yang ada di hadapannya[1] dan menurunkan Taurat dan Injil.(QS.3:3)

إِنّا نَحنُ نَزَّلنَا الذِّكرَ وَإِنّا لَهُ لَحافِظونَ (الحجر: ٩

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan AlDzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. 15:9)

(تَبارَكَ الَّذي نَزَّلَ الفُرقانَ عَلىٰ عَبدِهِ لِيَكونَ لِلعالَمينَ نَذيرًا (الفرقان: ١

Maha Suci Allah yang telah menurunkan AlFurqaan kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, (QS. 25:1)

Dengan empat nama bagi wahyu ini maka kita selalu diingatkan agar berjuang demi meraih kenikmatan semuanya, yaitu dengan mengikuti:

  • قرآنCara membaca yang disertai dengan memerhatikan mukjizat bacaan (qur’an) sebagaimana Jibril turunkan;
  • كتابCara membaca yang disertai dengan memerhatikan mukjizat tulisan (kitab) yang penuh makna;
  • ذكرCara membaca yang disertai mengingat Allah (dzikir) melalui tadabbur ayat-ayatnya;
  • فرقانCara membaca yang disertai dengan berjuang untuk membuktikan perbedaan (furqan) antara yang hak dan yang batil dengan jelas dalam kehidupan sehari-hari baik secara pribadi, keluarga dan umat.

Kondisi Umat

Kondisi umat terhadap mukjizat yang agung ini sangat beragam sesuai dengan latar belakang dan lingkungan masing-masing hingga terbagi kepada beberapa kelompok, antara lain sebagai berikut:

  1. Kelompok yang mendapat karunia Allah berupa keimanan kepada mukjizat Al-Quran dengan qiraahnya. Kendatipun mereka berbeda bahasa akan tetapi bacaan mereka adalah sama. Mereka sapakat mennyatakan bahwa tiada Al-Quran selain yang berbahasa Arab.

(إِنّا أَنزَلناهُ قُرآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُم تَعقِلونَ (يوسف: ٢

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu berakal.

Mereka adalah orang-orang yang mendengar bacaan dan mengikuti apa yang mereka dengar yang disebut dengan talaqqi. Namun pada saat membaca mereka belum merasa terpanggil untuk memerhatikan keistimewaan tulisannya. Tulisan Al-Quran yang disebut Al-Kitab jelas berbeda dari tulisan biasa. Mereka juga belum sampai kepada kajian makna yang tersembunyi dibalik tulisannya, tidak pula pesan-pesan lain yang ada didalamnya apa lagi sampai kepada kemampuan menjadikannya sebagai petunjuk bagi kehidupan pribadi, keluarga dan umat. Mereka hanya mampu membaca dengan baik hingga sah menjadi imam. Orang yang mendapat karunia ini banyak ditemukan di tengah-tengah masyarakat pencinta seni baca Al-Quran terutama pada saat Musabaqah Tilawah Al-Quran (MTQ) berlangsung. Mereka termasuk manusia pilihan yang biasa menghiasi masjid-masjid dengan suaranya terutama saat mereka menjadi imam shalat atau menjadi pembuka acara  majlis ta’lim. Mereka dapat menghiasi suasana dengan tilawah yang indah sesuai anjuran   Rasulullah SAW. Mereka adalah hamba-hamba pilihan yang ditetapkan Allah untuk menjadi pemelihara Al-Quran melalui bacaannya. Meski Al-Quran diturunkan empat belas abad silam namun hingga saat ini keaslian bacaannya masih tetap terpelihara.

Kemampuan mereka juga terdiri dari beberapa tingkatan. Ada yang memelihara bacaan wahyu hanya dengan menggunakan satu riwayat, dua riwayat dan seterusnya bahkan sampai memeliharanya dengan duapuluh riwayat mutawatirah dan ditambah dengan riwayat syadzah[2].

Ketika riwayat yang sama dibacakan oleh orang yang berbeda baik bahasa, budaya, social, kebangsaan atau lainnya, maka terbukti bacaan tersebut terdengar sama. Jika dibaca dengan berbagai riwayat dari qiraat yang sama atau qiraat yang berbeda maka sudah dipastikan pada beberapa qiraat tersebut disamping banyak persamaan namun banyak juga perbedaannya. Dan diantara perbedaan tersebut banyak sekali yang berpengaruh bagi maknanya. Artinya banyak makna Al-Quran yang masih belum ditemukan karena belum digali kecuali hanya dari satu riwayat. Itulah mukjizat yang abadi dari segi bacaan.

  1. Kelompok yang mendapat karunia Allah berupa keimanan kepada mukjizatAl-QurandanAl-Kitab.

(تَنزيلُ الكِتابِ لا رَيبَ فيهِ مِن رَبِّ العالَمينَ (السجدة: ٢

Turunnya Al-Kitab yang tidak ada keraguan padanya, (adalah) dari Rabb semesta alam. (QS.32:2)

 

Orang-orang yang meraih nikmat bimbingan ilahi dengan Al-Kitab (tulisan wahyu Ilahi) adalah mereka yang mengetahui adanya tulisan Al-Qurandan perbedaannya dengan tulisan hadits, tafsir dan karya tulis para ulama. Dengan pengetahuan tersebut maka mereka berjuang untuk menggali makna Al-Quran dibalik keistimewaan tulisannya, karena berkeyakinan bahwa Allah menurunkan kepada Nabi Muhammad SAWbukan hanya bacaan wahyu lalu ditulis sesuai apa yang terdengar atau menurunkan wahyu berupa tulisan lalu dibaca sesuai dengan tulisannya yang terlihat, akan tetapi Al-Quran dibaca dan ditulis sesuai petunjuk ilahi yang mangandung banyak makna dibalik tulisannya yang khas dan bacaannya yang khas pula.

Dalam kitab Al-Quran terdapat banyak huruf yang dibaca tanpa tulisan dan banyak huruf yang ditulis tanpa bacaan. Dalam kitab suci ini sering ditemukan satu tulisan untuk dua bacaan  dan satu bacaan dalam dua tulisan.

Pada saat seorang penerima karunia Al-Kitab ini memabaca yang tidak tertulis atau melihat tulisan yang tidak terbaca maka dia akan berupaya untuk melihat huruf-huruf Al-Quran sebagai jalan untuk mengetahui makna atau menggali mukjizat yang tersembunyi dibalik tulisannya.

Hingga saat ini penulis masih mencari, adakah litaratur lengkap yang menerangkan rahasia tulisan Al-Quran? Jika belum ada, maka semakin diyakini bahwa makna Al-Quran yang belum tergali jauh lebih banyak daripada maknanya yang sudah diketahui. Dengan demikian maka mukjizat Al-Kitabbukan saja belum banyak dikaji akan tetapi dapat dikatakan belum dikaji kecuali baru sedikit saja. Yang sedikit pun belum diketahui keberadaannya selain hanya oleh orang-orang tertentu saja. Sebab pada umumnya orang mengenal mukjizat Al-Quran hanya terbatas kepada ketinggian bahasanya yang telah terbukti tidak dapat ditiru oleh para ulama bahasa Arab sejak turunnya kepada Nabi Muhammad SAWSAWhingga saat ini dan tidak akan pernah dapat ditiru sampai hari kiamat.

 

  1. Kelompok yang mendapat karunia Allah berupa keimanan kepada hakikat Al-Quran sebagai sarana komunikasi qalbu dengan Yang Mahaagung yang disebut AlDzikr (ingat).

(وَلَقَد يَسَّرنَا القُرآنَ لِلذِّكرِ فَهَل مِن مُدَّكِرٍ (القمر: ٢٢

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk dzikir, maka adakah orang yang menjadi ahli dzikir?

 

Lafazh ﯪdiambil dari akar kata ذكر  yang berubah melalui proses sebagai beriktu:

ذَكَرَ يَذْكُرُ فَهُوَ ذَاكِرٌ،  اِذْتَكَرَ يَذْتَكِرُ فهو مُذْتَكِرٌ،  اِذْدَكَرَ يَذْدَكِرُ فهو مُذْدَكِرٌ، اِدَّكَرَ يَدَّكِرُ فهو مُدَّكِرٌ

Proses perubahan tersebut memberi makna pentingnya mencurahkan segala upaya untuk menjadi ahli dzikir dengan memerhatikan kandungan Al-Quran dari berbagai segi.

Dzikir (mengingat Allah) adalah sifat Rasulullah SAWyang melekat dalam kehidupannya setiap saat termasuk pada saat beliau sedang dalam keadaan tidur. Bagaimana Rasulullah SAWberdzikir pada saat tidur?

 

قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ فَقَالَ « يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَىَّ تَنَامَانِ وَلاَ يَنَامُ قَلْبِى

(صحيح مسلم – 2 / 166)

Aisyah berkata, wahai Rasulullah! apakah engkau tidur sebelum mewitirkan (mengganjilkan shalat malam), beliau bersabda: hai Aisyah ! sesungguhnya dua mataku tidur sementara qalbuku tidak tidur. (HR. Muslim)

 

Mengapa Rasulullah SAWdinyatakan selalu berdzikir termasuk pada saat tidur? Karena beliau tidak pernah lepas dari Al-Quran.

قَالَ قَتَادَةُ وَكَانَ أُصِيبَ يَوْمَ أُحُدٍ. فَقُلْتُ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَنْبِئِينِى عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. قَالَتْ أَلَسْتَ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ قُلْتُ بَلَى. قَالَتْ فَإِنَّ خُلُقَ نَبِىِّ اللَّهِ   صلى الله عليه وسلم  كَانَ الْقُرْآنَ (صحيح مسلم -2 / 168)

Qatadah yang cedera pada para perang Uhud berkata, aku berkata: hai Ummulmukminin terangkanlah padaku tentang akhlak   Rasulullah SAW! dia berkata: bukankah kamu suka baca Al-Quran? Aku berkata: tentu. Dia berkata: sesungguhnya akhlak Nabi Muhammad   SAWadalah Al-Quran. (HR. Muslim)

 

Pada saat Aisyah Ra ditanya tentang akhlak   Rasulullah SAWmaka dia menjawab: akhlak beliau adalah Al-Quran. Artinya, Al-Quran tidak pernah lepas dari Rasulullah SAWdan beliau tidak pernah terpisah dari Al-Quran maka pada saat tidurpun beliau senantiasa bersama Al-Quran termasuk pada saat beliau berhadas besar. Jadi, dzikir yang paling utama adalah Al-Quran, yang terbukti pada akhlak Rasulullah SAWyaitu dzikir dan dzikir adalah Al-Quran. Yang dimaksud dengan dzikr adalah ingat kepada Allah dalam arti luas meliputi ingat kepada karunia Allah, ingat kepada kewajiban yang mesti dipenuhi untuk mendapat karunia-Nya, ingat kepada larangan yang mesti dijauhinya hingga tercapai keselamatan dari murka-Nya, ingat kepada aturan yang mesti dipatuhi dan diajarkan kepada yang lain, ingat kepada berbagai peringatan yang mesti diperhatikan oleh setiap manusia agar kehidupan teratur baik yang berkaitan dengan keyakinan, pemikiran atau perasaan dan masih banyak lagi makna lainnya yang merupakan bagian dari makna dzikir. Semua itu akan dicapai manakala Al-Quran diingat, dipahami dan dijiwai.

AlDzikir  juga memiliki beberapa tahapan. Diantara manusia ada yang mendapat dzikir hanya terbatas pada hafalan Al-Quran tanpa mereka ketahui makna apa yang terdapat didalamnya. Ada yang tidak mampu menghafal Al-Quran tapi mengingat isinya yang menjadi pegangan kehidupan dan ada pula yang mendapat nikmat hafal Al-Quran serta mengingat isinya namun belum mampu membuktikannya dalam kehidupan sebagai pembimbing utama. Sehingga muncul dari pihak lain pertanyaan: mengapa dia hafal Al-Quran dan mengerti isinya akan tetapi akhlaknya tidak sesuai dengan ajaran Al-Quran? Jawabannya adalah: dia sudah mendapat Al-Quran sebagai bagian dari makna dzikir tapi belum mendapat kenikmatannya sebagai Al-Furqan.

 

  1. Kelompok yang meraih nikmat karunia Allah dengan hakikatAl-Furqan (pemisah, pembeda).

(تَبارَكَ الَّذي نَزَّلَ الفُرقانَ عَلىٰ عَبدِهِ لِيَكونَ لِلعالَمينَ نَذيرًا (الفرقان: ١

Maha Suci Allah yang telah menurunkan AlFurqaan kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, (QS. 25:1)

Kehidupan semua manusia senantiasa dihadapkan kepada lapangan perjuangan untuk mencapai dua hal yaitu kemaslahatan dan keselamatan. Banyak yang beranggapan adanya kemaslahatan yang hanya terbatas pada saat tertentu yaitu kenikmatan dunia tanpa melihat masa depan yang lebih jauh. Demikian pula halnya dengan masalah keselamatan, banyak sekali manusia yang mencurahkan segala upaya untuk menikmati keselamatan sesaat sementara ancaman abadi kurang mereka perhatikan. Padahal kemaslahatan dan keselamtan sesaat belum tentu tercapai sementara kemaslahatan dan keselamatan abadi pasti menunggu setiap yang berjuang untuk meraihnya. Untuk mencapai dua hal tersebut sangat diperlukan petunjuk yang jelas dan pasti. Setelah diturunkan petunjuk tersebut berupa Al-Furqan maka banyak sekali manusia yang membacanya, namun tidak semua yang membaca itu mengikuti petunjuk tersebut akibat berbagai factor. Dan factor utama adalah terhalangi oleh tuntutan hawa nafsu. Sungguh berat masa depan orang yang tidak membaca Al-Furqan karena mereka tidak mengetahui apa yang mesti dilakukan untuk meraih kemaslahatan dan mereka tidak mengetahui apa yang mesti mereka jauhi untuk meraih keselamatan yang mereka inginkan. Namun yang lebih berat lagi yaitu masa depan orang yang sudah membaca petunjuk tapi tidak menghiraukan isinya. Itulah orang-orang yang telah membaca Al-Kitab dan mengetahui isinya namun mereka tinggalkan dibelakang dan tidak mereka lirik karena mereka tertarik oleh kenikmatan bayangan yang jauh dari kenyataan karena boleh jadi besok dia sudah berada di alam kubur.

 

Hubungan intergral antara satu nama dengan nama lainnya dari empat nama tersebut diatas dapat kita temukan dalam firmanNya:

(اللَّهُ نَزَّلَ أَحسَنَ الحَديثِ كِتابًا مُتَشابِهًا مَثانِيَ تَقشَعِرُّ مِنهُ (الزمر:  ٢٣

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) satu kitab yang serupa lagi berulang-ulang,….  (QS. 39:23)

Tiada perkataan yang paling indah selain yang dibacakan Jibril kepada Nabi Muhammad SAWSAW, yaitu Al-Quran. Pada ayat ini diterangkan dengan jelas bahwa Al-Quran adalah satu kitab.

(وَلَقَد يَسَّرنَا القُرآنَ لِلذِّكرِ فَهَل مِن مُدَّكِرٍ (القمر: ٢٢

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan AlQur’an untuk dzikir, maka adakah orang berjuang menjadi ahli dzikir (yang suka mengambil pelajaran)?

Dzikir yang sebenarnya adalah dengan Al-Quran. Dzikir dengan Al-Quran pasti membimbing manusia bagaimana cara menggunakan semua unsur dirinya untuk menghadap kepada Allah. Lisan membaca ayat-ayat qauliyah sesuai aturan qiraah yang diajarkan   Rasulullah SAWkepada para sahabat; akal terus berfikir hingga dapat bimbingan ilahi berupa ayat qauliyah yang diterapkan dalam ayat kauniyah berupa dirinya dan alam sekitarnya; dan qalbu senantiasa memilik peran utama dalam meluruskan niat. Sehingga terjadilah komunikasi yang sinergi antara ucapan, pemikiran dan keyakinan. Itulah dzikir yang dapat mengantarkan manusia menuju amal yang bermakna yaitu yang membedakan antara alhak dan albathil sebagaimana tercantum pada ayat berikut:

(شَهرُ رَمَضانَ الَّذي أُنزِلَ فيهِ القُرآنُ هُدًى لِلنّاسِ وَبَيِّناتٍ مِنَ الهُدىٰ وَالفُرقانِ (البقرة:185

bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan  AlQur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). (QS.2:185)

Pada saat Ramadhan tiba semua muslimin yang taat beribadah berlomba untuk meraih peningakatan derajat ketakwaan di hadapan Allah. Dan pada bulan ini, dengan banyaknya orang yang membaca dan mendengar Al-Quran maka semakin terlihat siapa yang berada dalam hak dan siapa yang tenggelam dalam kebatilan.

Jadi, dengan tiga ayat diatas tampak begitu jelas bahwa Al-Quran adalah Al-Kitab, AlDzikr, dan Al-Furqan. Namun demikian, Allah menggunakan semua istilah tersebut tentu memiliki tujuan yang mesti diperhatikan sesuai dengan makna masing-masing. Karena itu, jika ditemukan satu istilah diterjemahkan dengan istilah lain maka hal itu bukanlah terjemah akan tetapi satu keterangan tentang satu makna dan pada saat yang sama menyembunyikan makna lain yang lebih diperlukan.

Umpamanya lafazhﭬ demikian pulaﮚdanﯗketika diartikan dengan Al-Quran[3] maka makna kitab, dzikir, furqan menjadi tidak jelas. Karena itu, dirasa perlu untuk memerhatikan etika menerjemahkan Al-Quran dengan memerhatikan semua qiraat dan hubunngannya dengan huruf-hurufnya.

[1] Penulis merubah redaksi terjemahan depag dengan  “apa yang dihadapannya” maksudnya adalah semua isinya yang merupakan mukjizat abadi yang akan membuktikan hakikat kebenaran Al-Quran sepanjang masa. Dalam terjemahan depag tertulis “membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya”.

[2] Semua riwayat mutawatirah dapat digunakan sebagai bacaan dalam shalat, sementara riwayat syadzah hanya biasa digunakan para ulama Al-Quran untuk menggali makna yang tersirat di balik qiraat tersebut.

[3] Pada umumnya terjemahan-terjemahan yang beredar di tengah-tengah masyarakat Indonesia khususnya dan Melayu menggunkan kata Al-Quran untuk menerjemahkan lafazh  الكتاب و الذكر والفرقان . langkah yang dilakukan ini disamping memberi kejelasan satu makna juga dapat menghilangkan makna lain yang dimaksud dengan lafazh yang sebenarnya.