shadaqah

Shadaqah yang Benar

Oleh:
KH.Dr. Saiful Islam Mubarak, Lc

Kita semua tentunya ingin berjuang agar dapat menjadi orang yang berguna, namun kita tidak tahu ‘Apakah kita masih memiliki kesempatan hingga esok hari? Ataukah jangan-jangan hari ini merupakan hari terakhir kita?’.

Jika kita sudah mendapatkan panggilan Illahi meninggalkan dunia ini tentu kita sudah tidak bisa menambah amal. Tetapi selalu ada cara agar nilai amal tetap bertambah atau berlangsung meski aktivitas menambah amal sudah tidak mungkin bisa dilakukan. Nilai amal bisa bertambah walaupun diri kita sudah dijemput oleh ajal, di antaranya sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah saw:

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu katanya, “Rasulullah SAW telah bersabda : Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim)

Berikut penjelasan hadis:
Pertama, menggunakan harta dengan tepat; kedua, menggunakan ilmu; dan ketiga, menggunakan usia untuk berkomunikasi dengan generasi mendatang.
Menggunakan harta dengan tepat adalah makna dari shodaqotin jariyah atau shadaqoh yang berkesinambungan. Shodaqoh yang nilainya berkesinambungan tentunya shadaqoh yang digunakan untuk kepentingan umat dalam hal yang benar. Tentunya yang lebih bermakna lagi manakala shadaqoh tersebut digunakan untuk penyimpanan ilmu yang bermakna sehingga shadaqah tersebut memiliki dua nilai.
Pertama, mendapatkan nilai dari shadaqoh itu sendiri; dan kedua, mendapatkan nilai dari upaya pengembangan ilmu melalui shadaqohnya.
Apabila harta shadaqah digunakan untuk pengembangan ilmu dan ilmu tersebut digunakan oleh generasi mendatang yang akan melahirkan generasi sholihin yang mendoakan kaum muslimin muslimat, maka istilah tree in one akan tercapai. Maksud dari tree in one ini adalah:

Pertama, harta dikeluarkan untuk pengembangan ilmu; kedua, ilmu dari harta tersebut disebarkan oleh
para penuntutnya; dan ketiga hasil dari penyebaran ilmu yang bermanfaat tersebut akan melahirkan generasi sholihin yang akan mendoakan kaum muslimin dan muslimat.

Makna waladin shalihin dari hadis di atas adalah anak sholeh yang tidak mesti ada hubungan keturunan. Sehingga anak siapapun yang kita bina atau kita didik agar mereka menjadi anak yang sholeh termasuk dalam kategori waladin shalihin. Hal ini berbeda dengan kata anak dalam ‘Ibn yang selalu ada kaitannya dengan keturunan, seperti ‘Ibn dalam Umar ‘Ibn khaţţab, Usman ‘Ibn Affan.

Anak-anak yang shaleh pastinya mereka sering berdoa ‘Allahummagfirly wa liwalidayya wa lil muslimin wa lil muslimat’. Tentunya orang-orang yang telah berjasa besar buat merekalah yang akan mendapatkan nilai dari doa tersebut. Oleh karena itu mudah-mudahan bagi yang mendapatkan keluangan, kelapangan, dan keluasan rizki diharapkan dapat segera menyalurkan hartanya untuk kepentingan pendidikan keislaman. Terutama pendidikan bagi generasi mendatang yang masih muda-muda, yang kiranya anak-anak mereka masih memerlukan bantuan pendidikan.

Terkadang saya berfikir ‘Mengapa Negara-negara yang disebut tidak mayoritas muslim mau-maunya mereka menyediakan beasiswa pendidikan buat orang-orang luar negaranya?’. Terlepas dari tujuan mereka, entah untuk kepentingan ekonomi, politik atau sosial, tapi yang jelas mereka saja yang non-Islam sudah terbiasa mengeluarkan harta untuk pendidikan. Suatu prestasi yang harus dicontoh oleh kita selaku umat Islam. Tentunya sangat baik dan akan menjadi benar kalau niatnya penggunaan harta untuk pendidikan itu karena Allah, dan digunakan untuk pengembangan keilmuan yang membawa mereka menuju akhirat.

Sering diungkapkan disini ada baik dan ada benar, adalah keduanya berbeda. Tidak semuanya yang baik itu benar, tapi semua yang benar menurut Allah pasti baik. Hanya saja kebaikan tersebut terkadang diketahui dan terkadang tidak. Tergantung kacamata yang dipakai, apabila kacamatanya gelap, tidak bisa melihat dengan jelas. Apabila yang dipakai kacamata imani, pasti seseorang meyakini bahwa semua yang datang dari Allah pasti baik. Apabila kacamata ‘tidak beriman’ dipakai maka boleh jadi yang jelas masih baik tidak akan dipandang baik.

Selama masih ada kesempatan bagi kita, selama masih ada usia bagi kita untuk menyimpan dana pensiunan yang abadi (dana pensiunan dunia sampai wafat selesai, tetapi dana pensiunan akhirat tidak ada akhirnya), mari kita sama-sama berjuang untuk memanfaatkan sisa umur hidup ini dengan hal yang bermakna buat kepentingan masa depan yang abadi (Dd).

 

Foto : istimewa – http://nasional.inilah.com/

Leave a Reply