Kiblat Dalam Perspektif Agama Dan Sains

“…Sebetulnya apabila kita memperhatikan posisi bumi dengan melihat sumbu bumi yang menghubungkan kutub utara dan selatan, ternyata posisinya itu tidak tegak lurus dengan bidang putarnya mengitari matahari. Posisi bidang putar bumi yang mengitari matahari selama 365 hari (revolusi bumi) ternyata tidak 90 derajat atau tegak lurus dengan sumbu bumi yang menghubungkan kutub utara dan kutub selatan. Maha suci Allah SWT. yang merancang dan menciptakan bumi dengan sumbu kutub utara kutub-selatan yang membentuk sudut dengan garis tegak lurus ke atas sebedat 23 derajat. Hal ini memungkinkan permukaan bumi mendapatkan musim yang adil…”

 

  1. Dalam Perspektif Agama

Firman Allah SWT. dalam QS. Al-Baqarah [2]: 142-145,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Surat tersebut menjelaskan tentang hakikat arah kiblat yang seringkali kebanyakan manusia lupa pada arah tersebut. Allah SWT. pun mengingatkan kepada kita bahwa ada orang-orang yang berpikiran picik saat mereka mendengar peristiwa perpindahan kiblat dari Baitul Maqdis yang berada di Palestina ke Baitullah (ka`bah) yang berada di Mekkah.

 

Pada saat tiba bulan Rajab memasuki bulan Sa`ban, Rasulullah Saw. melihat dan mendengar bahwa orang-orang Yahudi mencemoohkan diri beliau karena melaksanakan ibadah shalat dengan menghadap Baitul Maqdis. Padahal dalam pikiran mereka, Baitul Maqdis merupakan kiblatnya para nabi terdahulu. Saat itu Baitul Maqdis merupakan tempat ibadah tawaf-nya para nabi terdahulu, dan Allah SWT. lah yang menjadikan Baitul Maqdis tersebut menjadi kiblat pertama.

 

Pada suatu waktu Rasulullah Saw. mengunjungi Ka’bah. Kondisi Ka’bah saat itu dipenuhi banyak berhala, baik di dalam maupun di sekitarnya. Allah SWT. mempersilahkan beliau untuk melaksanakan shalat menghadap ke Baitul Maqdis. Setelah Rasulullah Saw. melakukan hijrah ke Madinah, Rasulullah Saw memohon berdoa agar Allah SWT. memindahkan kiblat dari Baitul Maqdis ke Baitul Mekkah (ka`bah). Kemudian turunlah Surat Al-Baqarah ayat 144, yang artinya “Kami memperhatikan kamu wahai muhammad sering melihat kelangit mengharap agar ada perpindahan kiblat maka kini arahkan wajahmu ke arah yang engkau inginkan (Ka`bah).” maka saat itu Rasulullah Saw. mengumumkan kepada kaum muslimin untuk berpindah kiblat dari Baitul Maqdis ke Baitullah.

 

Orang-orang yang pikirannya picik bertanya-tanya, “Ada apa lagi ini Muhammad, udah ajarannya beda. Sekarang, asalnya sama kiblatnya sekarang beda lagi, apa yang membuat Muhammad dan pengikutnya pindah kiblat”. Mereka memperhatikan ibadah tersebut ada hubungannya dengan kondisi fisik Baitul Maqdis dan Baitullah. Kemudian Allah SWT. memerintahkan kepada Rasulullah Saw. untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang tidak ada kaitannya dengan Baitul Maqdis dan juga Baitullah, yakni dengan jawaban yang sangat umum dan sangat luas: “Katakan hanya milik Allah timur dan barat, Dia-lah yang memberikan petujuk kepada orang yang memang mau mendapat petunjuk kepada jalan yang lurus.” Maksudnya adalah Allah SWT. memberi petunjuk kepada orang yang mau mendapat petunjuk dan orang yang dikehendaki mendapat petunjuk. Karna tidak semua orang yang menunggu petunjuk diberi petunjuk, tapi orang yang tidak menunggu pun jika dikehendaki oleh Allah SWT. untuk diberi petunjuk pasti akan mendapatkan petunjuk. Petunjuk jalan yang lurus pun diberikan kepada mereka yang mengharapkannya.

Sangat penting bagi para pakar untuk mengkaji mengapa jawaban dari Allah SWT. terhadap pertanyaan orang-orang kafir tersebut tidak ada hubungannya dengan fisik (Baitul Maqdis dan Baitullah). Tentunya ini berdasar pada hakekat peribadahan, yang manusia sembah bukanlah Baitul Maqdis ataupun Baitullah melainkan yang manusia sembah adalah Allah SWT. Pemilik Timur dan Barat.

 

  1. Dalam Perspektif Sains

Mengapa yang dikatakan Allah SWT. dalam Al-Quran hanya dua, ‘timur dan barat’? tidak ada selatan dan utara? bahkan seakan-akan Allah SWT. menghindai kata ‘utara dan selatan’?. Sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah [2]: 177 yang maknanya, ”Tidak termasuk bernilai baik apabila kamu menghadap ke barat dan ke timur, tetapi menyembah Allah SWT., beriman kepada Allah SWT. dan hari akhirlah yang demikian itu.” Jadi dalam Al Quran disebutkan bahwa Allah SWT.-lah Pemilik timur dan barat. Maksud Allah SWT-lah Rabb-nya timur dan barat adalah bukan masalah baik dan tidak perhatian manusia ke barat dan ke timur, tapi bagaimana perhatian manusia kepada Pemilknya. Berikut Sains memberikan penjelasannya.

 

Apabila kita perhatikan timur dan barat secara kenyataan alam di bumi, tentu kita mengenal bahwa matahari selalu terbit dari arah Timur, kemudian pada petang hari (maghrib) matahari tenggelam di sebelah barat. Hal ini dikarenakan perputaran bumi pada sumbunya ke arah timur, sehingga mengakibatkan kita ada di permukaan bumi menyaksikan matahari seoalah-olah berputar dari barat ke timur. Jika kita perhatikan timur dan barat pada bola dunia atau peta dunia, maka permukaan bumi ini terbagi menjadi garis lintang yang melingkar dari barat ke timur dimana garis khatulistiwa adalah salah satu diantara garis lintang yang terpanjang, sedangkan arah kutub hingga utara kutub selatan dihubungkan melalui garis bujur. Secara umum pada garis bujur, tidak ada perbedaan panjang satu dengan yang lainnya di sepanjang permukaaan bumi, meski secara khusus ada sedikit perbedaan. Sedangkan pada garis lintang yang mengitari bumi pada arah barat timur ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan antara garis lintang yang satu dengan yang lainnya.

 

Posisi garis yang menjauh menuju khatulistiwa dimana garis lintangnya makin kecil dan yang semakin membesar (karena berada di lokasi kutub) ini melukiskan sesuatu yang berubah dalam panjang atau keliling ini berkaitan dengan posisi belahan pada muka bumi. Maka secara tidak langsung kita memang diingatkan bahwasanya ‘garis lintang yang dimulai dari garis lintang disekitar kutub maupun di khatulistiwa itu sifatnya membesar sedangkan garis bujur sifatya itu sama saja’ memberikan suatu intuisi kepada kita mengenai arah timur dan barat. Esensi dari ayat-ayat Al-Quran pada surat Al-Baqarah itu berkaitan dengan orientasi kehidupan kita, yakni benar-benar orientasi karna Allah sebagai Pemilik dan Pemelihara alam semesta.

 

Dan kalimat pada Al-Quran merujuk langsung kepada perjalanan matahari. Kalimat masyriq yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai timur, Sebenarnya memiliki makna asli: tempat terbit. Sedangkan maghrib adalah tempat terbenam. Sehingga di hadapan Allah SWT. baik barat, timur, selatan maupun utara adalah sesuatu yang kecil. Umpamnya seperti kita melihat kelereng yang menurut kita arahnya sama saja, namun di hadapan Allah SWT. kelereng tersebut melampaui pandangan kita. Oleh karna itu Al-Quran tidak menyebutkan pembagian arah, tetapi menyebutnya dengan tempat terbit matahaari dan tempa terbenam matahari (itupun tentunya diukur dengan pandangan kita). Kemudian yang sangat menarik a da istilah al-masyriqoin al-maghribain yang artinya adalah dua timur dan dua barat.

 

Sebetulnya apabila kita memperhatikan posisi bumi dengan melihat sumbu bumi yang menghubungkan kutub utara dan selatan, ternyata posisinya itu tidak tegak lurus dengan bidang putarnya mengitari matahari. Posisi bidang putar bumi yang mengitari matahari selama 365 hari (revolusi bumi) ternyata tidak 90 derajat atau tegak lurus dengan sumbu bumi yang menghubungkan kutub utara dan kutub selatan. Maha suci Allah SWT. yang merancang dan menciptakan bumi dengan sumbu kutub utara kutub-selatan yang membentuk sudut dengan garis tegak lurus ke atas sebedat 23 derajat. Hal ini memungkinkan permukaan bumi mendapatkan musim yang adil.

 

Sebagai contoh kita lihat daerah-daerah yang posisinya agak jauh dari daerah khatulistiwa, yakni daerah subtropis. Daerah tersebut mengalami empat musim yang mengalami pergantian setelah 3 bulan berselang selama satu tahun. Keadaan musim yang berlangsung tiap tahun Ini mengakibatkan posisi relatif matahari ketika terbit. Kemudian perputaran bumi ke arah timur menyebabkan kita menyaksikan matahari seolah-olah berjalan sampai di atas kepala kita saat waktu zhuhur. Pada kondisi tertentu seperti di bulan Juni, bidang tenggelam matahari itu sedikit lebih ke utara. Bahkan tanggal 23 Juni 2013 adalah posisi yang paling utara ketika matahari terbit dan tenggelam, tetapi sebaliknya ketika tanggal 23 Desember 2013 adalah posisi yang paling selatan ketika matahari terbit dan tenggelam. Hal ini disiratkan Al Quran bahwa tempat terbit matahari maupun tenggelamnya masing-masing ada dua (al-maghribain dan al-masyriqatain).

Al-Quran sudah memberi pengetahuan sejak awal kepada kita unutk mempelajari ilmu astronomi mempelajari ilmu alam yang jauh lebih. Padahal nabi Muhammad tidak pernah kuliah di UNPAD, ITB. Itulah Al Quran, oleh karena itu tentunya dengan kejadian seperti ini diharapkan semakin meningkatkan keyakinan hakikat kebenaran Al Quran

 

Al-Quran juga menggambarkan bahwasannya kenyataan atau fakta bahwa bumi itu ternyata bentuknya bulat dan mengalami perputaran bumi (rotasi) sebagaimana Al-Quran menggambarkan malam menentukan siang, siang menentukan malam dan sebagainya (QS. Ali-Imran [3]: 27).

 

Dari sudut budaya pun, manusia hanya mengenal budaya Barat dan budaya Timur. Kita tidak mendengar budaya selatan dan utara. Hal ini menandakan bahwa Al-Quran diturunkan untuk kita pahami, resapi dan jiwai. Ada makna yang sangat jauh dan mendalam yang menuntut kita untuk terus mengkaji sehingga sampailah kita kepada pembahasan yang lebih mengkaji bagaimana bumi dilihat dari luar bumi, sehingga ketika dilihat dari luar bumi baik dari arah barat, timur, utara maupun selatan apa yang ditangkap sama saja.

Nara Sumber :

  • KH. Dr. Saiful Islam, Lc
  • Dr. Kunto Baiquni
  • Dr. Hanirono

Leave a Reply