Antara Amirul Mukminin Umar ‘Ibn Khaţţab ‘Ibn Khaţţab dengan Sha’sha’ah, Seorang Anak Kecil

Abu Musa telah mengirimkan kepada Umar ‘Ibn Khaţţab ra. dari Iraq uang sejumlah sejuta Dirham sebagai pembayaran harta zakat, tatkala kiriman itu sampai kepada Amirul Mukminin dia segera membagikannya kepada orang banyak, kemudian harta itu masih bersisa sehingga orang-orang berbeda pendapat ke mana harta itu akan disalurkan, lalu berdirilah Amirul mukminin Umar ‘Ibn Khaţţab ra. berkhutbah di kalangan manusia, di berkata,
‘Wahai sekalian manusia! Sungguh telah tersisa harta milik kalian sesudah ditunaikannya hak seluruh manusia, aku meminta pendapat tentangnya… bagaimana pendapat kalian ..’
Berdirilah Sha’sha’ah, seorang anak kecil, dia berkata setelah meminta izin kepada sang Amir… dan Umar ‘Ibn Khaţţab pun mengizinkannya,
‘Wahai Amirul Mukminin! Orang banyak hanya boleh diajak musyawarah pada perkara yang belum turun ayat Al-Quran tentangnya, sedangkan untuk perkara yang telah diturunkan ayat padanya maka tempatkanlah dia di tempat yang sesuai dengan aturan Allah SWT.
Berkatalah Amirul Mukminin, Umar ‘Ibn Khaţţab ra.
Benar engkau wahai Sha’sha’ah, engkau bagian dariku dan aku bagian darimu.’ Lalu Umar ‘Ibn Khaţţab membagikan sisa harta itu kepada kaum muslimin (Sulthan, 2002: 13-14).

Masya Allah, cerita di atas tentunya memberikan pelajaran kepada kita bahwasanya pada masa Shahabat, kedewasaan keimanan sudah mewarnai jiwa anak-anak yang masih belia sekalipun. Menakjubkan, bagaimana seorang anak kecil bisa menyuarakan pendapatnya kepada seorang pemimpin, dan lihatlah bagaimana seorang pemimpin bisa dengan lapang dadanya menerima masukan dari seorang anak kecil. Apabila kita berkaca pada kondisi kehidupan sekarang ini, pernahkah kita menyaksikan atau mendengar seorang anak kecil menyuarakan pendapatnya terdapat kebijakan-kebijakan yang telah para pemimpin kita buat? Seperti kepada presiden, atau anggota MPR/DPR misalnya? Meski kita belum pernah mengetahui kabar beritanya, semoga saja dari yang tidak kita ketahui ada di antara anak-anak pada masa kita yang berani menyuarakan pendapatnya sebagaimana Sha’sha’ah.
Sebenarnya tidak ada perbedaan atas penciptaan Allah terhadap anak-anak yang lahir pada masa Rasulullah saw juga generasi-generasi terbaik setelahnya dengan anak-anak yang lahir pada masa sekarang ini. Tetapi perbedaan terletak pada bagaimana pola asuh orang tua terhadap anak-anak mereka. Pada masa sekarang, banyak orang tua yang meremehkan kemampuan anak-anak mereka. Banyak para orang tua yang melewatkan masa emas anak-anak mereka dengan membiarkan anak-anak mereka bermain tanpa pengarahan. Di mana seharusnya anak-anak mereka mendapatkan pendidikan yang akan meninggalkan bekas yang sangat mendalam pada jiwa mereka jika mereka sudah dewasa. Sehingga tidak aneh, jika penelitian belakangan ini menunjukkan bahwa usia psikologis anak-anak kita hanya setengah dari usia biologis mereka. Oleh karena itu pentingnya bagi kita untuk memahami siapa anak, bagaimana kondisi dunianya, dan yang terpenting adalah mengetahui bagaimana kita memperlakukan anak-anak kita.
Pembahasan tentang pada artikel ini hanya menyajikan ringkasannya saja, sebagai permulaan. InsyaAllah dalam waktu ke depannya kami segera menyajikan pembahasan-pembahasan lainnya yang lebih mendalam (Nd).

Sumber Cerita:
Sulthan, Muhammad. 2002. Asybaluna al-‘Ulama’ 65 Kisah Teladan Pemuda Islam yang Brilian. Solo: Pustaka Arafah

Leave a Reply