post image

Ali Bin Abi Thalib Tidak Dapat Izin Poligini

Ternyata Rasulullah tidak mengizinkan Ali bin Abu Thalib untuk poligini, karena jika Fatimah merasa sakit akupun, sabdanya, akan ikut sakit pula. Ungkapan ini tersebar demikian cepat dikalangan ibu-ibu yang rajin menghadiri majlis ta’lin bahkan termasuk aktif dalam membina umat.

Apakah cerita yang mereka sebar luaskan dapat dipertanggungjawabkan?

 

Pembahasan:

Kebencian sekelompok masyarakat terhadap poligini telah melahirkan dongeng-dongeng yang penuh fitnah. Nama-nama shahabat dilibatkan sebagai pelaku utama dalam dongeng tersebut.  Padahal mereka sama sekali tidak mengetahuinya. Diatara dongeng yang perlu diwaspadai dan mengandung fitnah ini antara lain cerita bahwa Aisyah ra merasakan panas akibat dimadu. Karena badannya panas, ketika dia menyandar ke satu pohon pisang maka pohon tersebut kekeringan. Apakah ceritera ini dapat diterima akal sehat? Mungkinkah hal ini terjadi, sementara Aisyah hidup ditempat yang tandus dan kering yaitu di Madinah. Tak ada seorang pun dari jamaah haji dan umroh yang pernah melihat kebun pisang di Madinah. Dimanakah pohon pisang yang disanndari Aisyah itu? munginkah panasnya manusia karena problem dapat membuat pohon pisang menjadi kering? sungguh luar biasa. Ceritera lain adalah berkaitan dengan maslah poligini. Ketika Ali mau malakukan poligini maka Rasulullah tidak mengizinkannya karena beliau kasihan kepada putrinya. Kapan hal ini terjadi? Siapa yang menyampaikan bahwa Ali mau melakukan poligini? Dan bagaimana kisah yang sebenarnya?

Memang sungguh banyak berita yang keliru tapi meyakinkan.

Seorang ibu yang telah menghubungi seorang gadis untuk dilamar menjadi isteri ketiga bagi suaminya yang biasa dipanggil Ummu Hamzah Ghaliyah al Jahdari[1] menyatakan: ada tiga kekeliruan yang tersebar dikalangan kaum muslimin. Kekeliruan ini akan membahyakan bila tidak segera diluruskan, karena akan merubah keyakinan mereka dan menyeret mereka secara bertahap kepada jurang pemurtadan, yaitu:

  1. Melemahkan hukum alQuran

Allah berfirman:

فَإِنْخِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً

Jika kamu takut tidak dapat berlaku adil maka (kawinilah) seorang.[2]

Mereka berkata: berlaku adil tidak akan tercapai, karena itu Allah telah menegaskan bahwa beristeri dengan satu isteri adalah lebih tepat.

Sungguh pandangan ini hanya muncul karena tidak mengetahui masalah syari’at. Syarat adil untuk berpoligini sangat erat hubungan dengan masalah individu. Maka tak ada seorang yang  berhak untuk berkata: kamu tidak akan mampu berlaku adil, maka jangan melakukan poligami. Dan bila dia berkata: Allah telah memilih bagimu satu orang isteri. Pernyataan ini pun muncul karena tidak paham ayat atau sengaja melecehkan alQurtan bahkan menuduh adanya kontradiksi hukum dalam al Quran.

Allah telah berfiman:  فانكحوا ما طاب لكم من النساء  (maka kawinilah wanita-wanita lain yang kamu senangi). Asal dari kata perintah menunjukkan makna wajib. Dan kedudukan wajib berubah menjadi halal karena ada kalimat “yang kamu senangi”. Dan pada kata lain فواحدة  (maka satu saja). Berlandaskan kepada kontek ayat ini maka poligami adalah halal pasti halal. Apa yang telah Allah halalkan adalah halal, dan apa yang telah Allah haramkan adalah haram.

Orang-orang yang akan mengikuti hawa nafsu berkeyakinan bahwa seorang suami wajib menerapkan keadilan delam segala hal. Mereka berkata: siapa yang dapat berlaku adil dalam pandangan?, dalam hubungan bersebadan?, dalam senyum?, dan membagi cinta?. Pernyataan mereka ini berlandaskan kepada keyakinan yang rusak. Penulis buku al Mughni menegaskan:  para ulama telah sepekat bahwa tuntutan adil disini adalah dalam membagi waktu bermalam. Bila kita telusuri syarat yang mereka kemukakan maka sesungguhnhya Rasul pun tidak melakukannya. Karena beliau sendiri bersabda:

اللَّهُمَّ هَذِهِ قِسْمَتِي فِيمَا أَمْلِكُ فَلَا تَلُمْنِي فِيمَا تَمْلِكُ وَلَا أَمْلِكُ

 

Ya Allah inilah (cara) aku membagi pada (kemampuan) yang aku miliki, maka janganlah Engkau mencelaku pada yang Engkau miliki dan pada (kemampuan) yang tidak aku miliki.[3]

Yang tidak beliau miliki adalah kemampuan membagi cinta yang telah Allah tetapkan dalam qalbu.

Jadi tuntutan untuk berlaku adil adalah dalam masalah mabit (menginap). Hal ini menuntut adanya tanggung jawab menyediakan tempat, pakaian dan keperluan lain yang berhubungan dengan masalah pergaulan keluarga. Sekiranya suami telah membeli sepasang sepatu bagi seorang isterinya maka dia tidak diwajibkan membeli sepatu bagi isteri lainnya kalau tidak mereka perlukan, akan tetapi sediakanlah apa yang sesuai dengan keperluan mereka masing-masing.

 

  1. Memandang ada kotradiksi hukum

Allah berfirman:

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil antara isteri-isterimu walaupaun sangat ingin berbuat demikian[4].

Dan mereka mengambil ayat ini hanya sepotong, dan mereka tinggalkan sambungan ayat ini. Mereka bagaikan orang mendengar seorang ulama berkata: lakukanlah olehmu shalat! Maka mereka menjawab: Allah telah melarang kami shalat dengan firman-Nya:

لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ

Janganlah kamu lakukan shalat[5]

Dan mereka berhenti pada kata ini tanpa dilanjutkan dengan kalimat berikutnya.

Begitulah mereka memahami ayat diatas tadi. Padahal ayat tersebut ada lanjutannya, yaitu:

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا(129)

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlakku adil di antara siteri-isterimu walaupun kamu sangt ingin berbuat demikian, karenaitu janganlah kau terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain tekantung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan pemeliharaan diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Penngampun dan Maha Penayang.

Ayat ini menjelaskan bahwa seorang suami tidak mewajibkan untuk berlaku adil dalam membagi cinta dan syahwat karena dia tidak akan mampu. Dan Allah tidak memerintahkan hal itu. Akan tetapi Allah mengingatkan dalam peraktek poligami jangan mengikuti kecenderungan dan jangan berlebihan dalam kecenderungan tersebut. Sebab hal ini akan membuat isteri-isteri lainnya terkatung-katung tidak memiliki status yang jelas.  Bila kenderungan itu tidak hanya sedikit maka hal merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari.

Dan bila kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri dari kecurangan maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun.

Kalimat ini memberi  peluang agar melakukan poligami. Artinya wahai para suami jika kamu ingin melakukan poligami maka janganlah kamu takut tidak mampu berlaku adil dalam segala hal sebab hal itu di luar kemampuanmu dan Allah tidak mewajibkan kamu untuk berlaku adil dalam hal yang tidak mampu kamu melakukannya, akan tetapi berlaku adillah dalam hal  yang telah Allah tetapkan padamu.

Jadi surat an Nisa ayat 3 tidak berlawanan dengan ayat 129 akan tetapi kedua ayat ini saling menguatkan dan menafsirkan.

 

  1. Mengharamkan yang halal

 

Dalam suatu khutbah di Makkah Rasulullah Saw bersabda:

 

إِنَّ بَنِي هِشَامِ بْنِ الْمُغِيرَةِ اسْتَأْذَنُوا فِي أَنْ يُنْكِحُوا ابْنَتَهُمْ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ فَلَا آذَنُ ثُمَّ لَا آذَنُ ثُمَّ لَا آذَنُ إِلَّا أَنْ يُرِيدَ ابْنُ أَبِي طَالِبٍ أَنْ يُطَلِّقَ ابْنَتِي وَيَنْكِحَ ابْنَتَهُمْ فَإِنَّمَا هِيَ بضْعَةٌ مِنِّي يُرِيبُنِي مَا أَرَابَهَا وَيُؤْذِينِي مَا آذَاهَا  وَقَالَ لَا يُجْمَعُ بَيْنَ ابْنَةِ نَبِيِّ اللَّهِ وَبِنْتِ عَدُوِّ اللَّهِ فَرَفَضَ عَلِىٌّ ذَلِكَ

 

sesungguhnya bani Hasyim meminta izin padaku untuk menikahkan puteri mereka kepada Ali, sungguh aku tidak mengizinkan, aku tidak mengizinkan, kecuali bila Ali ingin menceraikan puteriku dan menikah dengan puteri mereka. kemudian beliau bersabda: Fatimah adalah segumpal darah atau bagian dariku. Akan menyakitkanku apa yang menyakitkannya dan meragukanku apa yang meragukannya. Dan tidak patut bergabung dengan satu suami puteri Rasulullah Saw dengan puteri musuh Allah, maka Ali pun menolak. (HR an Nasai)[6]

Orang-orang yang membenci Islam telah memperalat hadits ini untuk mengharamkan yang telah Allah halalkan. Mereka mengambil sepotong hadits dan menghapuskan yang lainnya. Mereka mengambil kesimpulan dari hadits ini dengan cara yang menyimpang dari maksud dan isi yang sebenernya. Mereka berkata bahwa Rasulullah Saw melarang Ali untuk berbuat yang telah Allah halalkan yaitu poligami. Apakah mungkin Rasulullah mengharamkan yang Allah halalkan. Sungguh ini adalah permainan yang mereka buat agar muncul pandangan yang kotradiktif dalam hukum Allah dan Rasul-Nya. Bahkan akan muncul tuduhan kepada Rasul bahwa beliau melarang orang lain melakukan sesuatu yang beliau sendiri melakukannya. Mereka kubur maksud dari hadits yang sebenarnya dengan menjauhkan kisah dimana hadits itu muncul. Dan dalam kondisi bagaimana Rasulullah bersabda, serta apa lanjutan dari hadits tersebut.

 

 

عَنْ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ أَنَّ الْمِسْوَرَ بْنَ مَخْرَمَةَ أَخْبَرَهُ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ خَطَبَ بِنْتَ أَبِي جَهْلٍ وَعِنْدَهُ فَاطِمَةُ بِنْتُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا سَمِعَتْ بِذَلِكَ فَاطِمَةُ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنَّ قَوْمَكَ يَتَحَدَّثُونَ أَنَّكَ لَا تَغْضَبُ لِبَنَاتِكَ وَهَذَا عَلِيٌّ نَاكِحًا ابْنَةَ أَبِي جَهْلٍ قَالَ الْمِسْوَرُ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعْتُهُ حِينَ تَشَهَّدَ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّي قَدْ أَنْكَحْتُ أَبَا الْعَاصِ بْنَ الرَّبِيعِ فَحَدَّثَنِي فَصَدَقَنِي وَإِنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ بَضْعَةٌ مِنِّي وَأَنَا أَكْرَهُ أَنْ تَفْتِنُوهَا وَإِنَّهَا وَاللَّهِ لَا تَجْتَمِعُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ وَبِنْتُ عَدُوِّ اللَّهِ عِنْدَ رَجُلٍ وَاحِدٍ أَبَدًا قَالَ فَنَزَلَ عَلِيٌّ عَنْ الْخِطْبَةِ  [7]

 

 Dari Ali bin Husai  bahwa al Miswar bin Makhzumah, ia menerangkan bahwa Ali bin Abu Thalib melamar putri Abu Jahal padahal isterinya adalah Fatimah puteri Nabi Saw. Setelah Fatimah mendengar berita dia datang menghadap kepada Nabi Saw dan berkata: kaummu berbicara bahwa membiarkan keadaan puteri-puterimu. Dan ini-lah Ali mau menikah dengan puterinya Abu Jahal. Miswar berkata: maka Nabi berdiri dan mendengar beliau bersyahadat kemudian bersabda: amma ba’du, sesungguhnya  aku telah menikahkan Abul ‘Ash bin al Rabi’. Maka dia berbicara kepadaku dan percauya padaku. Dan sesungguhnya Fatimah puteri Muhammad bagian dariku dan tidak rela kalian memfitnahnya. Demi Allah, sungguh tidak patut puteri Rasulullan di satu kan dengan puteri musuh Allah pada seorang pria untuk selamanya. Ia berkata: maka Ali membatalkan khitbahnya. (HR.Muslim)

 

Makna hadits diatas demikian jelas, menerangkan bahwa Rasul tidak rela kalau puterinya disederajatkan dengan puteri Abu Jahal. Dan bukan hanya Rasul yang tidak setuju akan tetapi juga shahabat lainnya. Dan Alipun tidak berkeberatan untuk membatalkan niatnya. Kandungan hadis diatas akan lebih jelas lagi bila kita perhatikan riwayat lain, Rasulullah bersabda:

 

إِنَّ فَاطِمَةَ مِنِّي وَأَنَا أَتَخَوَّفُ أَنْ تُفْتَنَ فِي دِينِهَا ثُمَّ ذَكَرَ صِهْرًا لَهُ مِنْ بَنِي عَبْدِ شَمْسٍ فَأَثْنَى عَلَيْهِ فِي مُصَاهَرَتِهِ إِيَّاهُ قَالَ حَدَّثَنِي فَصَدَقَنِي وَوَعَدَنِي فَوَفَى لِي وَإِنِّي لَسْتُ أُحَرِّمُ حَلَالًا وَلَا أُحِلُّ حَرَامًا وَلَكِنْ وَاللَّهِ لَا تَجْتَمِعُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِنْتُ عَدُوِّ اللَّهِ أَبَدًا

 

Sesungguhnya Fatimah adalah dari diriku dan aku khawatir agamanya akan terganggu. Kemudian beliau menyebutkan perkawinan bani Abdi Syams dan beliau menyanjung pergaulannya. Dia bicara dengan ku dan mempercayaiku, dia berjanji padaku dan dia penuhi. Dan sungguh aku tidak mengharamkan yang halal dan tidak pula menghalalkan yang haram, akan tetapi, demi Allah, jangan sekali-kali bersatu puteri Utusan Allah saw dengan puteri musuh Allah. (HR. Bukhori)[8]

 

Dengan demikian jelaslah bahwa Rasulullah tidak melarang Ali untuk poligami akan tetapi beliau melarang Ali menempatkan putri kekasih Allah sederajat dengan puteri musuh-Nya.

Artinya, kalau dia berniat untuk poligami maka jangan dengan puteri Abu Jahal.

[1]  أم الحمزة ، غالية الجحدري ،  نعم ، تعدد الزوجات نعمة  ، دار الهجرة ، صنعاء 1411 هـ ص 24

[2]  QS. 4:3

[3]  lihat pada bab Poligami Rasul

[4]  QS. 4:129

[5]  QS. 4:43

[6]أخرجه النسائي في سننه الكبرى  ج 5/ص 147/ح 8519أخرجه مسلم  في صحيحه  ج4/ص1903/ح2449،   و البخاري في صحيحه  ج3/ص1365/ح3523. و ابن حبان في صحيحه  ج15/ص407/ح6955،   و الترمذي في سننه  ج5/ص698/ح3867،   و ابن ماجه في سننه  ج1/ص644/ح1998،   و أبي داود في سننه  ج2/ص226/ح2071. و ابن حنبل في مسنده  ج3/ص18/ح11155،   و الحاكم في مستدركه  ج1/ص464/ح1193،   و الطبراني في معجمه الكبير  ج11/ص348/ح11975،   و الطبراني في معجمه الصغير  ج2/ص74/ح804.

 

 

[7]أخرجه مسلم  في صحيحه  ج4/ص1903/ح2449،  و البخاري في صحيحه  ج3/ص1365/ح3523. و ابن حبان في صحيحه  ج15/ص407/ح6955،  و الترمذي في سننه  ج5/ص698/ح3867،  ج5/ص699/ح3869. و ابن ماجه في سننه  ج1/ص644/ح1998،  ج1/ص644/ح1999. و أبي داود في سننه  ج2/ص226/ح2071.

[8]أخرجه البخاري في صحيحه  ج 3/ص 1132/ح 2943أخرجه مسلم  في صحيحه  ج4/ص1903/ح2449،  ج4/ص1904/ح2449. و أبي داود في سننه  ج2/ص226/ح2069. و ابن حنبل في مسنده  ج4/ص326/ح18933