post image

Amin Dibaca Saat Khathib Berdoa?

Seorang imam jumat yang mendapat jadwal di beberapa masjid menemukan kondisi jamaah sangat beragam, antara lain pada saat dia berdoa pada akhir khutbah di salah satu masjid dia mendengar ungkapan amiin sejak sebelum berdoa dimulai hingga selesai khutbah, sementara di masjid lainnya dia tidak mendengar ungkapan tersebut “aaminn” sama sekali sejak awal hingga khutbah berakhir.

Pertanyaan:

Apakah hukumnya membaca “aaminn” pada saat imam menyampaikan khutbah?

Pembahasan:

Sebelum memasuki pembahasan masalah hukum dirasa perlu untuk dikemukakan terlebih dahulu makna-makna yang berhubungan dengan kata “amin”.

  • أَمِنَ (amin)   bacaa waqaf dari  أَمِنَ artinya dia telah aman atau dia telah beriman
  • ءَامِن (aamin) dengan dipanjangkan pada huruf (أ) a dan pendek pada huruf mi artinya amankanlah seperti   آمِنْ أَخَاكَ (amankanlah saudaramu), berimanlah seperti: آمِنْ بِالله  (berimanlah kepada Allah)
  • أمين (amiin) dengan panjang pada huruf miin artinya orang yang dirpercaya atau orang terpercaya. Karena itu Rasulullah dijuluki dengan الأمين
  • آمِيْن (aamiin) dengan bacaan panjang pada huruf (أ) a dan huruf mi artinya kabulkanlah do’aku atau do’a kami.

Kata yang pertama berbentuk berita lampau yang disebut fi’il madhi dengan pelaku satu orang yaitu dia.

Kata yang kedua berbentuk perintah yang ditujukan kepada seseorang. Jika langsung berhubungan dengan objek berarti amankanlah dan jika tidak langsung namun ditambah huru ب berarti berimanlah.

Kata yang ketiga merupakan kata sifat yang tidak terpengaruh dengan waktu dan tempat

Kata yang keempat adalah mengandung makna permohonan yang biasa dipakai bukan hanya oleh orang muslim saja akan tetapi juga oleh non muslim. Hanya dalam ajaran Islam kata tersebut memiliki aturan yang mesti diperhatikan kapan waktunya dan bagaimana cara pengucapannya. Menurut ahli bahasa formulasi kata ini disebut isim fi’il yaitu kata yang berbentuk isim namun bermakna fi’il atau bentuk noun bermakna verb.

Pada saat imam menyampaikan khutbah, semua jamaah dilarang berbicara kepada sesama jamaah lainnya meski hanya mengatakan “diamlah”, yaitu larangan berbicara kepada orang lain. karena larangan tersebut merupakan satu perkataan yang akan mengganggu konsentrasi jamaah dalam memerhatikan semua ungkapan khotib.

Bagaimana dengan ungkapan aamiin?

Setiap imam jumat suka mengakhiri khutbahnya dengan berdoa. Itulah ajaran yang sesuai dengan sunnah Rasulullah Saw. Doa yang dikumandangkan seorang khatib hendaklah mengandung permohonan untuk kepentingan umat secara keseluruhan.  Apakah jamaah boleh mengucapkan aamiin dengan harapan semoga doanya dikabulkan? Bukankah jamaah tidak boleh berbicara pada saat imam menyampaikan khutbah?

Untuk mengetahui hal tersebut sangat penting untuk kembali memerhatikan teks hadits dan memahaminya tanpa terpengaruh oleh pemikiran pihak lain.

… فَقَالَ أَبُو مُوسَى: أَمَا تَعْلَمُونَ كَيْفَ تَقُولُونَ فِي صَلَاتِكُمْ؟ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَنَا فَبَيَّنَ لَنَا سُنَّتَنَا وَعَلَّمَنَا صَلَاتَنَا. فَقَالَ: ” إِذَا صَلَّيْتُمْ فَأَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ ثُمَّ لْيَؤُمَّكُمْ أَحَدُكُمْ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا، وَإِذْ قَالَ {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ} [الفاتحة: 7]، فَقُولُوا: آمِينَ، يُجِبْكُمُ اللهُ … (صحيح مسلم 1/ 303)

… Abu Musa berkata: tidakkah kalian mengetahui bagaimana bacaan kamu dalam shalat? sesungguhnya Rasulullah Saw menyampaikan khutbah, dan beliau menjelaskan kepada kami tentang sunnah dan shalat yang mesti kita ikuti, belaiu bersabda: jika kamu shalat maka luruskanlah barisanmu lalu angkatlah seorang dari kamu untuk menjadi imam. Jika dia bertakbir maka bertakbirlah dan jika dia membaca غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ maka katakanlah amiin niscaya Allah akan mengabulkan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ: أَنْصِتْ، وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَقَدْ لَغَوْتَ» (موطأ مالك ت الأعظمي 2/ 142)

 

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda: jika kamu berkata kepada sahabatmu: “diamlah” padahal imam sedang menyampaikan khutbah pada hari jum’at, maka kamu dinyatakan telah berbicara[1].

عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ أَدْرَكَ الْخُطْبَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الْجُمُعَةَ، وَمَنْ لَمْ يُدْرِكِ الْخُطْبَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ، وَمَنْ دَنَا مِنَ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ، وَأَنْصَتَ كَانَ لَهُ كِفْلَانِ مِنَ الْأَجْرِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَمِعْ، وَلَمْ يُنْصِتْ، كَانَ عَلَيْهِ كِفْلَانِ مِنَ الْوِزْرِ» وَمَنْ قَالَ: صَهْ، وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ، فَقَدْ لَغَا، وَمَنْ لَغَا فَلَا جُمُعَةَ لَهُ، أَوْ قَالَ: «فَلَا شَيْءَ لَهُ» (مصنف عبد الرزاق الصنعاني 3/ 223)

 

Dari Yahya bin Abi Katsir dari Nabi Saw, bersabda: siapa yang mendapatkan khutbah maka dia mendapat jumat, dan siapa yang tidak mendapat khutbah maka dia hanya mendapat shalat. Orang yang mendakat ke imam untuk memerhatikannya dan dia terdiam maka baginya dua bagian pahala. Dan siapa yang tidak memerhatikan serta tidak terdiam maka atas dua bagian dosa. Orang yang berkata: “ssst” padahal imam sedang berkhutbah maka dia termasuk katagori orang yang berbicara. Dan siapa yang berbicara maka tidak (nilai) jum’ah baginya atau dia tidak mendapat apa-apa[2].

Dari hadits diatas dapat dipahami bebarapa hal:

  • Hadis ini menjelaskan hukumnya ungakapan seseorag yang ditujukan pada sahabatnya yaitu sesama jamaah yang melaksanakan shalat jum’at baik yang sudah dikenal sebelumnya atau pun belum.
  • Perkataan yang berlangsung pada saat imam menyampaikan khutbah dapat menghilangkan nilai juma’at secara keseluruhan
  • Pengertian imam menyampaikan khutbah memberi makna bahwa pada dasarnya khutbah itu disampaikan oleh imam, jika imam berbeda dengan khatib maka hal tersebut dapat dilaksanakan dalam kondisi darurat.
  • Jika terbukti bahwa khutbah disampaikan oleh orang lain maka kedudukan hukum mendengarkan khutbah tetap sama, sehigga para jamaah tidak diperkenankan berbicara kepada sesama.
  • Larangan berbicara kepada sesama sahabat tidak mengandung larangan berbicara kepada khatib, sekiranya khatib memanggil atau bertanya kepada sebagian jamaah maka hukum menyambut panggilan khatib tidak sama dengan hukum berbicara kepada sesama jamaah.
  • Jika hukum berbicara kepada khatib bebeda, maka demikian pula halnya dengan hukum berbicara kepada Allah seperti ungkapan amin pada saat imam berdoa.

Simpulan:

Permohonan agar dikabulkan doa adalah   آمين yang bacaannya dipanjangkan pada awal dan akhirya. Namun ucapan tersebut perlu disesuaikan dengan isi doa.

Para jamaah yang mengucapkan aamiin tidak termasuk dalam katagori berbicara kepada sesama jamaah selama ucapannya tidak dengan suara yang mengganggu suara khatib.

[1] HR. Malik jld 2 hal 142

[2] Mushannaf Abdurrazzaq jld 3 hal 223

Aamiin Saat Khathib Berdoa?

Seorang imam jumat yang mendapat jadwal di beberapa masjid menemukan kondisi jamaah sangat beragam, antara lain pada saat dia berdoa pada akhir khutbah di salah satu masjid dia mendengar ungkapan amiin sejak sebelum berdoa dimulai hingga selesai khutbah, sementara di masjid lainnya dia tidak mendengar ungkapan tersebut “aaminn” sama sekali sejak awal hingga khutbah berakhir. (more…)