post image

Al-Fatihah Rukun Shalat Atau Rukun Rakaat?

Dalam praktik shalat berjamaah sering terjadi keterlambatan sebagian jamaah. Diantara mereka tidak sempat mengikuti imam dari awal. Bahkan tidak sempat mendengar bacaan surat alFatihah. Namun mereka sempat ikut ruku’  bersama imam dengan sempurna. Menyikapi kondisi seperti kaum muslimin menghadapi perbedaan pandangan. Ada yang mengatakan harus menambah rakaat dan ada pula yang menyatakan tidak.

Mengapa masalah ini muncul ?

 

Pembahasan:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ (رواه البخاري)

Dari ‘Ubadah bin Shomit bahwasanya Rasulullah saw bersabda: tidak (shah) shalat bagi orang yang tidak membaca alFatihah. (HR Bukhori)

Hadis ini menjelaskan hakikat shalat.  Maka tidak shah shalat tanpa membaca surat alFatihah. Kita ketahui bersama bahwa rakaat shalat berbeda-beda. Paling sedikit shalat dapat dilakukan dengan satu rakaat yaitu shalat sunnat malam.  Berapapun jumlah rakaat shalat maka surat alFatihah harus dibaca. Yang perlu dicermati: apakah surat alFatihah   merupakan rukun shalat atau rukun rakaat? Bila kita perhatikan, hadis diatas,  sama sekali, tidak menjelaskan tentang hakikat rakaat melainkan hadis tesebut dengan jelas menerangkan hakikat shalat. Karena itu bila orang yang mendapat ruku bersama imam dengan sempurna dinyatakan bahwa dia sudah mendapat satu rakaat walaupun tidak mendengar imam membaca suarat alFatihah, maka pernyataan tersebut tidak berlawanan dengan hadis diatas. Sebaliknya jika seorang makmum yang ketinggalan bacaan fatihah imam pada rakaat pertama dari shalat fardhu, lalu dia menambah rakaat setelah imam salam maka dia melakukan shalat dengan jumlah rakaat lebih. Bila terjadi pada wakatu shalat subuh maka dia akan melakukannya  dengan tiga ruku artinya tiga rakaat, dan maghrib akan menjadi empat ruku artinya emapat rakaat. Hal ini berarti menambah rakaat yang telah ditetapkan Rasulullah saw. Padahal  Rasulullah saw bersabda:

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جِئْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ وَنَحْنُ سُجُودٌ فَاسْجُدُوا وَلَا تَعُدُّوهَا شَيْئًا وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ (رواه أبو داود)

 

Dari Abu Hurairah ra Rasulullah saw bersabda: jika kamu datang untuk menuju shalat dan (menemukan) kami sedang sujud maka sujudlah dan janganlah kamu hitung sedikitpun, dan siapa yang medapatkat rakaat (ruku’) maka dia telah mendaptkan shalat.

 

Hadis ini menjelaskan bahwa orang yang mendapatkan imam sedang sujud lalu mengikutinya maka dia belum memulai hitungan shalat berbeda dengan orang yang sempat mengikuti ruku bersama imam walaupun tidak sempat mengikuti bacaan sebelumnya akan tetapi dia sudah termasuk mendapat hitungan ruku’ shalat. Artinya sudah termasuk hitungan rakaat shalat. Sementara masalah bacaan alFatihah, maka makmum yang mengikuti imam dari awal pun tidak disepakati wajib untuk membacanya karena dicukupkan dengan bacaan imam.

 

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ لَهُ إِمَامٌ فَقِرَاءَةُ الْإِمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ (رواه ابن ماجه)

Dari Jabir Rasulullah saw bersabda: siap yang baginya imam (shalat erjamaah) maka bacaan imam adalah bacaan baginya. (HR. Ibnu Majah)