Langkah-langkah seseorang menjadi Sahabat Al-Qurān Part I

(Memahami Tafsir, Tadabbur dan Tadarus)
Oleh: KH. Dr. Saiful Islam Mubarak, Lc

Alhamdulillāhirrabbil’ālamin. Maha Suci Allāh SWT. yang memberikan kesempatan kepada kita untuk bersama-sama meningkatkan interaksi diri kita dengan Al-Qurān.

Langkah-langkah yang seharusnya seseorang tempuh agar dia dapat menjadi sahabat Al-Qurān, dalam hal ini para ulama memberikan pengarahan dengan menggunakan istilah at-tafsir, at-tadabbur dan at-tadarus. Berikut penjelasan masing-masing istilah tersebut:

1) at-Tafsīr
Firman Allāh Qs. Al-Furqān [25]: 33,
Artinya: “Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu membawa sesuatu yang ganjil melainkan kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan paling baik penjelasannya.
Kata tafsīrān dalam ayat di atas berasal dari kata ر – س – ف yang artinya penjelasan. Sedangkan para ulama memberikan pengertian, tafsir adalah menjelaskan atau menerangkan. Menjelaskan atau menerangkan disini terbatas pada pengambilan makna. Karena sasaran tafsir adalah fahmul makna, maksudnya ialah seseorang dapat memahami makna ayat.
Menjelaskan atau menerangkan makna memiliki hubungan dua arah. Pertama, orang yang menjelaskan atau menerangkan; dan kedua adalah orang yang menerima penjelasan atau keterangan. Orang yang menjelaskan atau menerangkan adalah dia yang memiliki ilmu tentang ayat-ayat Al-Qurān, sedangkan orang yang menerima penjelasan atau keterangan adalah dia yang sangat berharap memperoleh ilmu tentang ayat-ayat Al-Qurān.
Tafsir terhadap Al-Qurān merupakan kewajiban para ulama untuk menyampaikan kepada murid-muridnya. Tidak semua manusia berkewajiban menafsirkan Al-Qurān. Karena untuk menjadi seorang mufasir (penafsir Al-Qurān) terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi. Tidak sembarangan orang bisa menafsirkan Al-Qurān, maka dalam tafsir ini seseorang bisa memahaminya dengan mengkaji tafsir-tafsir ulama yang sudah ada.

2) at-Tadabbur
Firman Allāh SWT. dalam QS. Muhammad [47]: 24,
Artinya “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qurān ataukah hati mereka terkunci?”
Sesuai akar katanya tadabbur berasal dari kataر – ب – د yang memiliki arti belakang. Maksudnya ialah mengetahui apa yang ada di balik itu, yakni apa yang ada di balik ayat. Berbeda dengan tafsir yang terbatas pada mengambil makna, tadabbur tidak ada batasannya. Karena sasaran tadabbur adalah mengambil petunjuk dari ayat. Sehingga seseorang dipersilahkan mengambil makna sedalam-dalamnya dengan cara mengkomunikasikan dirinya, pikirannya, perasaannya dengan Al-Qurān.
Sebagai perumpamaan pada ayat pertama QS. Al-Fatihah, Alhamdulillhirrabbil’ālamīn diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi ‘Segala puji bagi Allāh Tuhan semesta alam’. Bentuk penafsiran pada ayat tersebut ialah ‘manusia tidak memiliki pujian selain milik Allāh SWT. Dari manapun datangnya pujian kepada manusia itu hakekatnya milik Allāh SWT. Bentuk tadabburnya adalah menghubungkan ayat dengan kondisi diri. Yakni, apabila ada yang memuji hendaklah seseorang jangan berbangga diri karena Allāh SWT-lah yang sebenarnya memiliki pujian tersebut. Demikian juga ketika seseorang memberikan pujian kepada orang lain hendaklah dia hati-hati. Karena yang seharusnya dilihat oleh dia bukan manusia (makhluknya) yang mendapatkan pujian melainkan Khaliknya, yang menciptakan manusia itu.
Maka makna tadabbur pada Alhamdulillāhirrabil’ālamīn dalam kehidupan sehari-hari ialah seharusnya seseorang tidak merasa bangga diri ketika dirinya dipuji. Apalagi sampai merasa ingin dipujinya dia berjuang untuk mendapatkan pujian. Oleh karena itu seseorang yang dapat memaknai tadabbur ini, dia bisa menghindari penyakit hati seperti ingin dipuji makhluk. Inilah buah dari tadabbur Al-Qurān.
Berbeda dengan tafsir dimana tidak semua umat memiliki kewajiban untuk bisa melakukannya, tadabbur merupakan kewajiban semua hamba Allāh SWT. Seseorang hanya memerlukan pemahaman yang umum saja tentang ayat Al-Qurān dari tafsir yang telah dia baca, kemudian meresapi dengan hatinya. Sebagai perumpamaan, mari coba pahami firman Allāh SWT dalam QS. Al-Baqarah [2]: 21 berikut.
Artinya: “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”
‘Yā ayyuhannās’ diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘hai sekalian manusia’. Penafsiran Al-Qurānnya ialah panggilan untuk semua manusia. Ketika seseorang sudah mentadaburinya maka dia akan berpikir, ‘yang dipanggil dalam ayat ini adalah manusia, dan saya mendengar panggilan tersebut (menyembah Tuhan yang telah menciptakan). Tapi sekian banyak manusia lain masih tidak mendengarkan panggilan. Lantas bagaimana dengan nasib mereka yang belum mendengar?’. Maka orang-orang yang telah mendengar panggilan (mendapat hidayah untuk menyembah Allāh SWT) berkewajiban menyampaikan panggilan tersebut kepada yang mereka belum mendengar (mendapat hidayah untuk menyembah Allāh SWT). Ketika seseorang merasa belum mampu menyampaikan panggilan, hendaklah dia bertaubat dan diikuti dengan mencari ilmu kepada mereka yang memiliki ilmu tersebut.

3) at-Tadarus
Agar pemaknaan terhadap tafsir dan tadabbur Al-Qurān terus mencapai peningkatan, maka perlu adanya tadarus. Para ulama Al-Qurān menyebutkan, dalam tadarus harus ada interaksi antara orang yang menjelaskan atau menerangkan dengan orang yang menerima penjelasan. Jelasnya adalah interaksi antara guru dengan murid .
Pada praktiknya dalam komunitas-komunitas Al-Qurān, tadarus Al-Qurān dimulai dengan membaca ayat demi ayat. Kemudian diperbaiki apabila ada bacaan yang belum baik. Lalu menggali makna ayat yang telah dibaca. Apabila seseorang belum memiliki kemampuan memahami bahasa Arab, dia bisa meminta bantuan pada terjemahan Al-Qurān berbahasa Indonesia. Setelah itu dia mencari tafsir atas ayat yang telah dibaca. Terakhir, dia berupaya untuk menghayati makna dan kandungan ayat sudah dibaca dan dicari tafsirnya itu agar menjadi petunjuk bagi kehidupan bagi pribadi dirinya.
Agar Al-Qurān ini menjadi pegangan bagi segenap lapisan masyarakat, sangat penting bagi mereka yang telah Allāh SWT. pahamkan dengan Al-Qurān dalam memulai mengadakan majelis-majelis tadarus Al-Qurān yang diupayakan rutin dilaksanakan, meski hanya sejam dalam seminggu. Majelis bisa berbentuk halaqah yang keanggotaannya mulai dari 3 sampai 7 orang. Dengan anggota yang tidak terlalu banyak ini diharapkan setiap orang yang berada di dalamnya bisa terbuka menyampaikan isi hatinya. Seperti ayat apa yang menakjubkannya? Ayat apa yang dia sulit untuk pahami? Sehingga semua anggota akan mendapatkan ilmu (buah tadabbur) dari saudara-saudaranya yang hadir dalam majelis tadabbur tersebut.
Apabila ditemukan ada pertentangan dalam tadabbur ayat Al-Qurān yang sama pada anggota, hendaknya tidak langsung diperdebatkan. Tetapi apa yang bertentangan tersebut dicatat, kemudian disampaikan dahulu kepada yang lebih ahli. Sehingga anggota majelis atau halaqah tersebut tidak memaksakan diri dalam berdebat tanpa ilmu.
Demikian uraian mengenai makna tafsir, tadabbur dan tadarus. Secara garis besarnya dapat dibedakan, bahwa: pertama, tafsir merupakan penafsiran Al-Qurān yang terbatas pada makna. Tidak semua orang berkewajiban untuk menyampaikannya, hanya ulama yang berkewajiban untuk menyampaikannya. Sedangkan tadabbur merupakan kewajiban bagi segenap umat manusia yang telah Allāh SWT anugerahkan mereka akal untuk dapat berpikir; kedua, dalam kehidupan sehari-hari seseorang bisa mempelajari tafsir berdasarkan karya-karya tafsir ulama yang sudah ada. sedangkan tadabbur dapat dilakukan di mana saja meskipun seorang diri; dan ketiga, tadarus merupakan sarana untuk seseorang meningkatkan tafsir dan tadabbur mereka terhadap Al-Qurān.
Semoga dapat dipahami 🙂 silahkan bagi siapa saja yang mau bertanya atau berkomentar untuk mengisi kolom komentar yang telah disediakan 🙂

Leave a Reply