Surat Al Fatihah (Bag-1)

Surat AlFatihah telah Allah tetapkan sebagai pembuka wahyu yang mulia ini hingga secara urutan menempati surat pertama, dan kandungannya pun meliputi semua syariat. Karena itu para ulama sepakat menyatakan bahwa surat ini satu rukun dalam shalat dengan berdasarkan pada sabda Rasulullah Saw:


عنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ

(صحيح البخاري 1/ 151   و صحيح مسلم 1/ 295 )

 

Dari Ubadah bin Shamit, bahwa Rasulullah Saw bersabda: tiada shalat bagi siapa yang tidak membaca fatihah alKitab. (HR. Bukhori dan Muslim)

 

Tiada hari bagi seorang muslim tanpa membaca surat AlFatihah minimal tujuh belas kali. Dan jika deperhatikan secara keseluruhan, maka surat ini tidak pernah berhenti dibaca, sebab di satu tempat baru selesai membacanya maka ditempat lain balum selesai dan juga ada yang baru memulai.

Sungguh hal itu meyakinkan kita, bahwa surat ini tidak mungkin dapat dibahas dengan sempurna karena kemampuan manusia sangat terbatas sedangan kandungannya tidak terbatas.

 

Terjemah

  1. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
  2. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
  3. Maha Pengasih, Maha Penyayang.
  4. Pemilik/Penguasa hari pembalasan
  5. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
  6. Tunjukilah kami jalan yang lurus,
  7. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang tersesat.

Wahyu yang turun pada nabi akhir zaman dikenal dengan AlQuran, AlKitab, AlFurqan, AlDzikr. Semua istilah ini tercantum didalamnya dan masing-masing memliki makna dan peran sebagai pemelihara keasliannya.

  1. AlQuran adalah bacaan yang terdengar, berasal dari akar kata   قرأ yang berarti membaca; inilah pedoman hidup yang bacaannya memiliki aturan tersendiri dan bacaannya terus terdengar tanpa mengenal berhenti.
  2. AlKitab adalah tulisan yang terlihat, berasal dari akar kata كتب yang berarti menulis; inilah kitab suci yang memiliki cara penulisan yang berbeda dari aturan menulis yang dikenal dalam kehidupan masyarakat Arab. Tentu penulisan ini mengandung makna yang sangat penting untuk digali.
  3. AlFurqan adalah pemisah antara yang haq dari yang batil, aturan yang terkandung didalamnya mesti dipahami untuk diamalkan hingga jelas perbedaan antara hak dengan batil. Kata ini berasal dari akar kata فرق yang berarti membedakan atau memisahkan;
  4. AlDzikr adalah ingat. Kata ini mengingatkan hakikat manusia dalam hubungannya dengan Allah dan hakikat manusia dalam hubungannya dengan sesama makhlukNya serta mengingat ayat-ayatNya baik ayat qauliyah ataupun ayat kauniyah yang keduanya adalah pembimbing kehidupan menuju ridhaNya.

Keempat hal diatas diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw melalui Jibril as. Allah berfirman:

insan 23

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur”.

ali imron 7

Dia-lah yang menurunkan Al Kitab kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Kitab dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat.

 alfurqon 1

Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,

al hijr 9

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan AlDzikr (Al Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar pemeliharanya.

Alquran terpelihara dalam berbagai segi meliputi penulisannya. Terpeliharanya penulisan tidak berhubungan dengan masalah tanda baca, waqaf, nomor ayat dan seni tulisan (kalighrafi), sebab semua itu adalah bukan termasuk wahyu melainkan karya manusia yang sangat bermakna bagi pengajaran dan penyebaran wahyu agar lebih mudah dipelajari terutama setelah ajaran Islam tersebar ke seluruh dunia. Sebagai salah satu contoh, surat AlFatihah disepakati berjumlah tujuh ayat, namun dari mana mulainya ternyata berbeda.

perbedaan riwayat

Surat AlFatihah tidak mengandung perbedaan tentang isinya namun ada perbedaan dalam penetapan nomor ayat. Penomoran yang digunakan dalam tulisan disini mengikuti penomoran mushaf yang qiraat Ashim yaitu yang beredar di negeri kita:

Surat 1:1

bismillah

Studi terjemah:

 

1)   Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang[1].

2)   Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang[2]

3)   Dengan nama Allah yang Mahaluas dan kekal belas kasih-Nya kepada orang mukmin, serta Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya.[3]

 

Tiga terjemah diatas diambil dari tiga sumber yang berbeda. Adanya perbedaan satu terjemah dengan terjemah lainnya membuktikan bahwa terjemah AlQuran bukanlah AlQuran, terjemah hanyalah produk manusia yang tidak memiliki nilai kebenaran mutlak. Karena itu, tiada satu pun dari terjemah tersebut yang sempurna, sebab yang sempurna hanyalah lafazh aslinya yaitu firman Allah yang diterima Rasulullah Saw. Dengan demikian maka siapapun yang mempelajari AlQuran atau menafsirkan AlQuran, jika hal tersebut dilakukan hanya melalui terjemah maka sesungguhnya dia belum sampai kepada tingkat mengkaji kitab suci akan tetapi baru mengkaji produk manusia yang merupakan bagian ilmu yang diambli dari kitab suci.

Untuk meningkatkan pemahaman terhadap ayat AlQuran maka diperlukan studi huruf-hurufnya, formulasi kata, susunan kalimat dan seterusnya.

penulisan surat alfatihah

Fiqih Huruf:

Semua umat Islam meyakini bahwa AlQuran adalah Kitab Suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Memaknai istilah AlQuran yang berarti bacaan dan memaknai istilah alKitab yang berarti tulisan sangat penting untuk diperhatikan sesuai dengan makna aslinya. Keduanya adalah mukjizat yang tetap terpelihara meski turun empat belas abad silam. Wahyu yang terakhir ini memiliki bacaan yang khusus dan tulisan yang khusus. Masing-masing merupakan bagian dari mukjizatnya yang tidak pernah selesai dikaji.

  1. kata bismillah Sehubungan dengan lafalبسم الله yang tulisannnya berbeda dengan باسم ربك maka hal tersebut membuktikan bahwa tulisan ini turun dari Allah yang mengandung makna. Namun tentang masalah ini belum banyak ulama yang berbicara. Karena itu dirasa perlu, dengan memohon bimbinganNya, untuk kita mulai melakukan pembahasan masalah kandungan makna yang tersirat pada aturan penulisan AlQuran. Perbedaan tulisan dari tulisan biasa sebagaimana perbedaan bacaan dari bacaan biasa telah ditemukan yang jumlahnya sulit dihitung. Sungguh banyak perbedaan tersebut yang ternyata berbeda dengan aturan tulisan yang biasa digunakan dalam buku-buku berbahasa Arab termasuk berbeda pula dengan aturan penulisan hadits Nabawi.Lafal   بسم الله adalah pembuka komunikasi setiap muslim dengan Allah. Di dalam terjemahannya sebelum direvisi terdapat kata “menyebut” yaitu satu perbuatan yang sangat berkaitan dengan lisan. lafal aslinya tidak mengandung makna “menyebut”. Dengan penambahan kata “menyebut” terkesan adanya pengkhususan untuk mengawali komunikasi dengan Allah hanya terbatas pada lisan. Jika tanpa kata “menyebut” tentu maknanya lebih luas sebab meliputi menyebut, mengingat, menghadap, mengharap dan sebagainya. Inilah rahasia susunan lafal dalam AlQuran. Jika ditemukan ada kata-kata diperjelas maka hal itu memberi makna yang mesti diperhatikan dengan khusus dan srius dan jika disembunyikan maka hal itu memiliki makna yang lebih luas seperti halnya dalam lafal basamalah ini.
  2.    tertulis dalam mushhaf yang beredar diseluruh dunia الرحمن tanpa huruf alif. Kendatipun dimikian semua ulama qiraat sepakat membaca dengandengan panjang. Ini adalah ketetapan ilahi yang hingga kini penulisan tersebut terpelihara meski belum ditemukan penjelasan apakah ada isyarat tertentu dengan penulisan tersebut? Sebagian ulama bahasa menyatakan bahwa formulasi kata yang masuk pada bentuk فعلان  seperti عطشانفرحان و غضبان (marah, senang, haus) itu merupakan bentuk kata sifat yang sementara dalam batasan waktu, sebab tiada manusia yang marah selamanya, bahagia atau haus selamanya. Lafal   الرحمن  yang sering diartikan yang Maha Pengasih, bahwa Allah senantiasa mencurahkan rahmatNya untuk semua makhluk tanpa pilih kasih, bahkan terkadang ditemukan ada penjahat atau tukang maksiat mendapat kenikmatan yang diluar jangkauan, badannya sehat, hartanya berlimpah, usahanya terus maju, penghormatan dari sesama makhluk terus meningkat dan seterusnya. Fenomena ini terkadang menimbulkan pertanyaan: mengapa orang yang durhaka seperti ini terus mendapat kenikmatan?

Dengan memerhatikan penulisan الرحمن tanpa huruf alif maka pertanyaan tersebut terjawab bahwa sebanyak-banyaknya harta yang diterima didunia tidaklah dapat dinikmati kecuali hanya sejenak saja. Karena itu, orang yang mentadabburi penulisan atau memerhatikan mukjizat alKitab terkait denngan lafal ini akan memandang bahwa banyaknya harta atau tingginya kedudukan dunia bukan merupakan hasil bekerja atau cita-cita hidup akan tetapi bekal untuk bekerja dan ujian kehidupan yang mesti diwaspadai agar tidak salah guna melainkan handaklah segera dimanfaatkan untuk kepentingan masa depan yang abadi. Dan kesempatan untuk memanfaatkannya boleh jadi akan berakhir hari ini. Karena itu, para ulama memberi terjemah untuk lafal الرحمن dengan Yang Maha Pengasih. Sementara terjemahan lafal berikutnya yaitu الرحيم diartikan dengan Yang Maha Penyayang. Artinya Allah mengasihi siapa pun yang Dia kehedaki dengan kadar sesuai kehendakNya pula untuk dinikmati pada waktu tertentu yaitu selama hidup di dunia. Berbeda dengan kesayangan yang tidak terbatas waktu namun hanya dicurahkan kepada sebagian makhlukNya yaitu mereka yang berjuang untuk mendapatkannya dengan banyak beramal shaleh. Kesayangan ini tidak terbatas waktu karena itu bentuk katanya berbeda yaitu الرحيم yang sering diartikan Yang Maha Penyayang. Demikianlah yang biasa digunakan dalam bahasa Arab. Sesuatu atau seseorang yang disifati dengan sifat yang terus menerus bisa menggunakan bentuk فعيل seperti جميل ، كبير ، طويل (baik, besar, tinggi atau panjang) dan sebagainya. Jadi kata Maha Pengasih dipilih untuk menerjemahkan lafal الرحمن dan Maha Penyayang dipilih untuk menerjemahkan lafal الرحيم adalah satu ijtihad kebahasaan yang diharapkan dapat mendekati makna yang dimaksud. Tentu makna yang sebenarnya yang sangat mendalam dan luas tidak dapat terwakili dengan terjemahan bahasa Indonesia yang memiliki karakter yang berbeda dangan Bahasa AlQuran.

Terjemahan versi lain yang berbeda dari terjemahan diatas antara lain yang ditemukan dalam Tarjamah Tafsiriyah:

“Dengan nama Allah yang Mahaluas dan kekal belas kasih-Nya kepada orang mukmin, serta Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya”.

Antara dua terjemahan diatas dengan terjemah ini tampak sekali berbeda:

Yang pertama menerangkan bahwa rahmat yang tercurah pada semua makhluk berlangsung untuk semenara yaitu di dunia, karena itu, urutannya pun disebut lebih dulu yaitu الرحمن. Sedangkan rahmat yang tercurah kepada kaum mukminin yang mereka nikmati untuk selamanya di akhirat adalah yang tersirat pada makna الرحيم karena itu disebut kemudian.

Berbeda dengan terjemahan ini yang menerangkan bahwa rahmat yang abadi yang hanya tercurah pada mukminin diambil dari makna yang terdapat pada lafal الرحمن , sebaliknya, rahmat sementara yang ditermima semua makhluk diambil dari makna yang terdapat pada lafal الرحيم. Secara urutan waktu pun terjemahan ini terkesan ada yang terbalik. Padahal AlQuran mendahulukan satu kata dengan mengakhirkan kata lainnya untuk memberi makna yang sangat mendalam. Jadi, terjemahan yang ini lebih terkesan mengandung hal kontradiktif dari berbagai segi:

      • Allah mengasihi orang mukmin untuk selamanya yaitu di akhirat dengan urutan disebut lebih dahulu yaitu الرحمن.
      • Allah menyayangi semua makhluk, yaitu kasayangan yang tercurah hanya di dunia yang sangat terbatas waktunya tapi menempati posisi kemudian karena diambil darli lafal الرحيم.
      • Kata “mengasih” dalam TARJAMAH TAFSIRIYAH ini terkesan mengandung makna yang lebih luas daripada menyayangi, padahal umumnya masyarakat berpandangan sebaliknya, yaitu bahwa kesayangan lebih luas daripada sekedar mengasihi. Orang tua menyayangi anaknya senantiasa mengasihi apa yang diperlukan selama masih mampu, namun tidak berarti orang mengasihkan sesuatu senantiasa disertai dengan kesayangan. Seorang dermawan membagikan makanan atau sebagian hartanya kepada masyarakat luas tanpa disertai dengan mengenal mereka apalagi sampai tingkat menyayangi mereka.
      • Jadi urutan makna tampak terbalik karena kenikmatan yang tercurah kepada kaum mukminin untuk selamanya lebih dulu disebut atau menempati urutan waktu lebih dahulu, sementara kenikmatan yang tercurah kepada semua makhluk pada waktu yang sangat terbatas disebut kemudian. Seolah-olah kehidupan akhirat mendahului kehidupan dunia.

Dari kedua redaksi diatas dapat disimpulkan bahwa terjemahan dari manapun tidak ada yang sempurna dan tidak ada yang memiliki kepastian. Namun lafal yang aslinya dari AlQuran tetap pasti dan terpelihara kiasliannya meski sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa bahkan terjemahan dalam satu bahasa pun bisa berbeda redaksi seperti kita saksikan ini.

 

 

[1] Tarjamah basmalah sebelum direvisi mengandung kata “menyebut” dan setelah direvisi kata tersebut dihilangkan.

[2] Terjemah Depag setelah direvisi

[3] Muhammad Thalib, AL-QURA’ANUL KARIM TARJAMAH TAFSIRIYAH, CV Kolam Mas, 2012. M. Thalib juga menilai terjemahan Depag banyak salah dan menekankan pentingnya tarjamah tafsiriyah seperti yang dia lakukan. Tentu ini adalah satu pemikiran seperti pemikiran lainnya patut mendapat apresiasi kendatipun keduanya bersifat relative benar atau salah. Yang pasti benar hanyalah firman Allah dan sabda Rasulullah Saw. Adapun tarjamah atau tafsir adalah produk manusia yang kemampuannya sangat terbatas. Keterbatasan tersebut bukan hanya pemikiran manusia sekarang akan tetapi juga ulama terdahulu yang karya tulis mereka telah menghiasi perpustakaan dunia. Jadi kalau para penulis sekarang menilai salah kepada karya orang lain dengan merujuk kepada pernyataan para ulama terdahulu, sebenarnya yang dijadikan rujukan pun adalah hasil pemikiran yang memiliki nilai relative tidak dapat disamakan dengan AlQuran dan Sunah yang memiliki nilai kebenaran mutlak.

Leave a Reply