Tips Bersahabat dengan Al-Qurān

Al-Qurān adalah kalam suci yang diturunkan Dzat Yang Maha Tinggi. Lafazhnya istimewa, bacaannya penuh makna, dan kandungannya tidak mengandung keraguan. Karena berbeda dengan bacaan yang biasa, maka interaksi dengannya pun tidak bisa disamakan dengan yang lain.
Ada beberapa hal yang sangat penting untuk selalu diperhatikan ketika berinteraksi dengan Al-Qurān, di antaranya:
1. Mengagungkan Al-Qurān
2. Qalbu yang khusyuk
3. Penuh kesiapan untuk menaati semua aturan Allāh
Penjelasannya:
1. Mengagungkan Al-Qurān
Ketika seseorang menerima surat dari seorang guru yang dihormati dan dikaguminya, sebelum membacanya, dia pasti sudah merasakan sesuatu yang membuat dirinya bangga dan penuh harap, disamping ada kekhawatiran jika dirinya akan mendapat teguran karena telah berbuat sesuatu yang tidak disenangi gurunya. Ketika dia mulai membcanya, terbayanglah jasa-jasa gurunya, bahkan sifat dan kepribadiannya. Meski yang dia lihat dengan matanya hanya sehelai kertas, namun hatinya melihat sang guru yang berada di hadapannya sedang berbicara kepada dirinya.
Al-Qurān turun dari Yang Maha Tinggi dan Yang Maha Agung. Yang selalu melihat dan mendengar bisikan semua makhluknya. Pengatur rezeki dan Pemberi nikmat. Ketika seorang hamba menerimanya, dia akan merasakan kebanggaan dan kebahagiaan yang tiada tara. Bersamaan dengan itu, ada rasa malu dan hina, karena sedang berhadapan dengan Yang Maha Mengetahui semua perilaku hamba-Nya.
Ketika hamba itu mulai membaca ayat demi ayat, dia mendengar Allāh sedang berbicara kepada dirinya. Dan, ketika dia merasa sedang berhadapan dengan Allāh, perasaan tersebut tidak sama dengan apa yang dialami sewaktu menerima surat dari guru yang dihormatinya, sebab gurunya tidak mengetahui apa yang sedang dilakukan muridnya, sementara Allāh senantiasa mengawasi semua perilaku, ucapan, dan getaran hatinya.
Karena membaca Al-Qurān adalah membaca firman Allāh di hadapan-Nya, seorang hamba otomatis akan berhati-hati dalam membacanya, jangan sampai keluar dari aturan baca yang telah dicontohkan utusan-Nya.

2. Qalbu yang khusyuk
Setiap ayat Al-Qurān yang dibaca adalah petunjuk dari Zat Yang Maha Mengetahui untuk makhluknya yang serba tidak tahu, petunjuk dari Yang Mahatinggi untuk hamba-Nya yang sangat rendah, bimbingan dari Yang Maha Penyayang untuk manusia yang sangat hina, dan aturan hidup dari Yang Mahaadil untuk insane yang selalu berbuat zhalim.
Karena menyadari akan kebodohan dirinya, seorang hamba akan senantiasa tunduk di hadapan Yang Maha Mengetahui. Semua seruan dalam Al-Qurān, akan dia sambut dengan suka cita dan penuh pengharapan agar dapat meraih kedudukan yang dekat dengan Yang Mahatinggi. Dan, karena kedekatan ini, seorang hamba yang hina akan terangkat kedudukannya menjadi terhormat dan mulia.

3. Penuh kesiapan untuk menaati semua aturan Allāh
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allāh dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu[605], ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allāh membatasi antara manusia dan hatinya[606] dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal [8]: 24)

Bagi orang mukmin, perintah dan larangan dalam Al-Qurān hakikatnya untuk kemaslahatan manusia dan kedua aturan tersebut telah Allāh sesuaikan dengan kemampuan hamba-Nya. Allāh tidak akan membebani hamba-Nya kecuali telah diperhitungkan kemampuannya. Oleh karena itu, jika ada seorang hamba yang menolak aturan Allāh dengan dalih tidak mampu melaksanakannya, sebetulnya bukan tidak mampu, namun tidak memaksimalkan kemampuannya. Itulah bentuk pengkhianatan terhadap amanah.
Baik janji yang menggiurkan atau peringatan dan ancaman yang menakutkan, selama datanganya dari Allāh, semuanya merupakan karunia-Nya. Ketika ancaman turun kepada manusia dan ternyata kehidupan mereka masih terus mengalami persoalan, maka akan lebih banyak persoalan hidup lain sekiranya tidak diturunkan peringatan dan ancaman kepada mereka. Dan, ancaman neraka bagi orang yang mengingkari aturan-Nya, merupakan salah satu bukti bahwa Allāh Mahaadil dan Maha Pengasih yang senantiasa mencurahkan kasih saying kepada hamba-Nya yang taat.
Bukti bahwa janji dan ancaman adalah satu kenikmatan, dapat kita perhatikan dalam firman-Nya,
“Inilah neraka Jahannam yang didustakan oleh orang-orang berdosa. Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air mendidih yang memuncak panasnya. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman [55]: 43-45)

Leave a Reply